Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
11 - Godaan : Istri Saya Jauh Lebih Cantik


__ADS_3

Setelah satu minggu libur. Hari ini Elang harus kembali ke kantor. Dara mulai membiasakan diri hidup di lingkungan keluarga Elang. Dara memang tidak terbiasa dilayani. Dia lebih suka mengurus keperluannya sendiri. Tapi, Elang selalu melarangnya melakukan pekerjaan rumah. Dara tidak bisa bersikeras, karena Elang rupanya menekankan itu pada seluruh pelayan. Hingga Dara tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti keinginan Elang.


"Dara, saya berangkat ke kantor dulu. Kamu kalau perlu apa-apa jangan lupa minta pelayan ya. Jangan kelelahan, oke?"


Dara hanya mengiyakan setiap kata-kata Elang. Laki-laki itu bersikap seolah ayah bayi yang ada di kandungan Dara. Hal itu makin membuat Dara merasa miris.


"Jangan bandel ya. Jaga Mama oke?" ucap Elang sembari mengelus perut Dara.


Dara hanya berusaha tersenyum walau sebenarnya dia merasakan pedih. Jika sikap Elang terus baik seperti itu, bagaimana dia bisa menjaga hatinya hanya untuk Guntur?


"Kalau gitu saya jalan dulu ya." Tidak lupa Elang mengusap puncak kepala Dara, kemudian dia masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati, ya." Dara melambaikan tangan, tak lama mobil Elang pun melaju hingga tidak terlihat lagi di pandangan Dara.


"Kenapa kamu baik sekali sama aku, Kak." Dara menghembuskan napas panjang. "Dara harus menjaga hati ini hanya untuk Kak Guntur, kan?"


Matanya terpejam sesaat, senyuman Guntur masih ada di pelupuk matanya. "Kapan kamu sadar, Kak?"



"Pak Elang, akhirnya Bapak datang juga."


"Ada apa Teddy?"


"Di dalam ada Ibu Rosetta ingin bertemu dengan Bapak. Beliau sudah menunggu sejak pukul enam pagi."


"Pukul enam? Kantor saja baru buka pukul delapan. Dia mau apa?"


"Katanya penting sekali, Pak."


Elang menghela napas berat. Untuk apa lagi wanita itu datang, batinnya.


"Ya, baiklah saya akan menemui dia."


Elang lalu masuk ke ruangannya. Benar saja Rosetta sudah duduk menunggu Elang. Sebenarnya Elang malas menemui wanita itu.


"Elang sayang! Kenapa kamu baru datang sih? Tahu nggak aku udah nunggu kamu dari tadi."


Rosetta selalu begitu. Kalau orang yang tidak tahu, pasti mengira Rosetta adalah kekasihnya, padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.


"Jangan seperti itu. Ta, saya sudah bilang, jangan lagi cari saya. Kenapa sekarang kamu malah datang?"

__ADS_1


"Hah? Kamu kok gitu sih. Aku ini kan pernah ada di hati kamu. Aku datang karena kaget, katanya kamu menikah. Emang bener?"


"Iya, kenapa?" Elang duduk di kursinya, Setta nama panggilan wanita itu, dia makin shock setelah mendengar jawaban dari Elang.


"Oh my God! nggak mungkin. Kenapa kamu menikah dengan wanita lain selain aku?"


Elang malas menanggapi Setta, walau dia tahu, wanita itu tidak akan berhenti sebelum apa yang dia inginkan tercapai. Tapi, kali ini Elang sedang malas berdebat.


"Elang! Kenapa kamu malah cuekin aku, sih?"


"Terus saya harus apa? Nyatanya saya memang sudah menikah. Kamu tidak punya hak melarang. Kita sudah tidak punya urusan apa-apa lagi."


Rosetta terlihat marah. Wajahnya merah padam, dia lalu mengdekati Elang. "Kamu putus sama aku dan bilang aku nggak salah apa-apa. Kamu cuma bosan sama hubungan main-main. Kamu tahu nggak aku ngiranya kamu mau melamar aku dan serius mau menikahi aku!"


Elang mengernyitkan kening. Bagaimana bisa wanita itu menyimpulkan sendiri, padahal Elang meminta putus karena memang tidak berminat melanjutkan pacaran yang merepotkan, main-main dan buang-buang waktu saja menurutnya.


"Coba aku lihat cantikan siapa. Aku atau istri kamu?" tanya Rosetta.


Memang kalau untuk urusan wajah, penampilan, dan segi visual. Rosetta itu cantik alami, ditambah penampilan dan bentuk tubuh yang menunjang. Tapi, kalau segi kelakuan, Elang benar-benar menyesal pernah menerima cinta wanita itu dulu.


Elang menghembuskan napas panjang. "Keluar dari ruangan saya."


Elang maju beberapa langkah. Tapi Rosetta tetap diam di tempat. Dia pelan-pelan melepaskan kancing bajunya, membuat Elang terheran.


"Mau membuktikan kamu masih menyukai aku atau enggak," jawab Setta.


"Astaga. Terus ngapain kamu buka kancing baju kamu?"


"Nggak apa-apa, gerah aja. Aku pakai baju dalaman kok."


"Cepat pakai kembali baju kamu. Saya sama sekali tidak tertarik."


"Siapa yang bisa jamin! Katanya laki-laki itu sama aja. Akan tergoda oleh wanita, mau dia sudah menikah atau belum." Setta merasa sangat yakin, dia tersenyum ke arah Elang dengan tiga kancing baju yang sudah terbuka.


Elang tidak mau menatap Setta, tapi wanita itu malah mendekati Elang hingga jarak mereka hanya beberapa senti saja.


"Menurut kamu, aku cantik nggak?"


Elang menatap Setta dengan datar. "Cantik."


"Nah, kamu tahu juga kalau aku cantik. Terus lebih cantik mana aku dan istri kamu?"

__ADS_1


"Kenapa kamu melakukan ini? Kamu kira saya akan tergoda?"


"Hm, emangnya enggak tergoda?"


"Mundur. Jangan pernah kamu sentuh saya sedikit saja." Elang menegaskan. Setta mendadak ciut. Elang menatapnya dengan mata yang menyorot tajam seolah tidak akan ingin di dekati oleh Setta.


Setta pun mundur.


"Kancing kan kembali baju kamu."


Setta melakukan seperti yang diperintah oleh Elang. Dia mengancingkan kembali bajunya.


"Kamu tanya apa tadi?"


Setta tertunduk. Kemana nyalinya yang tadi? Hilang seketika, karena Elang selalu lembut padanya dulu, belum pernah berkata dengan nada yang naik walau hanya satu oktaf saja.


"Lebih cantik mana kamu dan istri saya?"


Setta meneguk ludah, dia menatap Elang kembali pelan-pelan.


"Lebih cantik istri saya. Kamu puas? Dia jauh lebih dari segala-galanya.


Setta masih belum beranjak. Walau Elang sudah mengatakannya, jawaban yang dia tunggu tadi.


"Pergilah Ta, kamu tahu kan saya tidak pernah mau menyakiti wanita. Tapi jaga harga dirimu, di luar sana tidak semua laki-laki itu sama. Mungkin saja mereka akan tergoda jika kamu menunjukkan tubuh kamu di hadapan mereka. Tapi tidak dengan saya."


Mendadak tubuh Setta langsung lemas.


"Istri saya jauh lebih cantik. Tapi saya menghargai seluruh wanita. Kamu ngerti?"


Setta mengangguk.


"Bagus. Kalau gitu kamu boleh pergi. Saya harus kerja."


Setta akhirnya pergi keluar dari kantor Elang. Dia sama sekali tidak menyangka Elang akan menolaknya lagi.


"Mbak Setta, udah selesai belum? Saya dimarahin Tuan besar, Mbak. Katanya Mbak Setta harus segera pulang."


Setta melotot menatap supirnya yang mengajaknya berbicara di saat hatinya sedang kacau.


"Diem kamu!"

__ADS_1


Setta lalu pergi keluar kantor Elang. Dia berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan menampakkan wajahnya kembali di hadapan Elang.


__ADS_2