
...Jangan memandang remeh orang lain. Kita tidak tahu sekuat apa pendiriannya. Hingga ketika kita mulai berubah, berbalik arah setelah mengetahui keistimewaannya. Rupanya, orang itu sangat teguh, ia memaafkan tapi tetap pada prinsipnya untuk melangkah sebagai mana mestinya....
...***...
Meskipun Dara tidak tahu perasaan Elang terhadapnya. Tapi, Dara selalu menganggap Elang baik dan peduli dengannya. Jadi, tidak ada salahnya jika dia mengikuti apa yang diinginkan pria itu. Hari ini tepat satu Minggu setelah Elang mengajak Dara untuk pindah. Hari ini juga, Elang akan membawa Dara keluar dari rumah keluarga Kusuma.
"Elang? Apa kamu yakin mau pindah? Kenapa tiba-tiba ingin pindah, sih?" ucap Rania pada putranya.
"Ya, kamu kenapa harus pindah? Bukankah wanita itu sebentar lagi akan melahirkan. Untuk apa kamu repot pindah segala? Toh sebentar lagi kamu juga akan menceraikan dia," sambung Kusuma.
Dara tidak sengaja mendengar percakapan tersebut. Lagi, kata cerai itu membuat Dara menghela napas berat. Benar, dia akan tetap diceraikan oleh Elang. Tapi, Dara harus tetap terlihat biasa saja. Dara tidak mau, kalau sampai keluarga Elang berpikiran yang tidak-tidak.
"Maaf, Kak. Apa kita jadi berangkat?" tanya Dara pada Elang yang tampak kaget melihat kedatangan Dara.
"Ah, sial!" ucap Elang pelan. Dia berpikir mungkin saja Dara mendengar percakapannya tadi bersama kedua orang tuanya.
Kusuma dan Rania terlihat malas dan langsung begitu saja pergi meninggalkan Elang dan Dara. Sedangkan Elang hanya berusaha menahan diri dengan sikap orang tuanya. Karena itulah, dia merasa keputusannya mengajak Dara pindah adalah yang paling tepat.
"Jadi, kita berangkat sekarang ya."
Dara mengangguk. Sejak pertama kali Dara melihat kedua orang tua Elang. Dara tidak berani menanyakan apapun tentang mereka. Meski sikap Kusuma dan Rania terbilang sangat cuek seolah tidak peduli padanya.
Tapi, Dara merasa mereka sebenarnya adalah orang yang baik. Dara ingat waktu pemakaman Guntur, Kusuma menangis di makam anaknya itu sambil berucap bahwa dia menyesal sering bertengkar dengan Guntur.
Kusuma dan Rania juga berjanji akan menjaga peninggalan Guntur. Meski Kusuma tidak menyebutkan apa peninggalan itu. Tapi, Dara berpikir mungkin saja yang dimaksud adalah bayi di dalam kandungannya.
"Dara, kamu kok bengong?" tegur Elang.
"Hah? Eh, enggak kok. Maaf ya, Kak. Baiklah, tapi Dara belum berpamitan dengan tuan Kusuma dan nyonya Rania, Kak."
"Udah, biarin aja. Mereka udah tahu, kok. Lagi pula, ahhh.. sudahlah, Dara ... Kamu nggak perlu berusaha menghormati mereka kalau sikap mereka juga kurang baik sama kamu," kata Elang.
"Mereka baik, Kok. Sebentar ya, Dara harus tetap berpamitan. Kakak tunggu di sini," ucap Dara.
__ADS_1
Elang bermaksud menghentikan Dara, tapi Dara tersenyum seolah mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja.
Dara memberanikan diri berjalan ke ruangan Kusuma. Meskipun dia tahu, mungkin saja balasan dari Kusuma akan dingin seperti biasanya. Tapi, tidak ada salahnya, dan sebagai rasa hormat Dara terhadap orang tua Guntur dan Elang, Dara ingin berlaku sopan pada mereka.
Dara mengetuk pintu kamar Rania dan Kusuma.
"Masuk," ucap Kusuma.
Dara membuka pintu perlahan, lalu menundukkan kepalanya. "Maaf, Tuan. Saya ingin ..."
"Duduk," titah Kusuma.
"Siapa yang masuk, Pa?" tanya Rania.
"Saya, Nyonya." Dara menatap sekilas ke arah Rania lalu kembali menunduk.
"Oh, silakan duduk," kata Rania.
"Ada apa?" tanya Kusuma, dingin. Rania hanya diam menunggu apa yang akan dikatakan oleh Dara.
"Saya ingin berpamitan pada Tuan dan Nyonya. Karena saya memutuskan menerima tawaran kak Elang untuk pindah," ucap Dara.
Kusuma dan Rania terdiam sesaat.
"Dara berterima kasih atas kebaikan Tuan dan Nyonya yang selama beberapa bulan ini sudah mau menampung Dara di rumah ini. Maafkan jika Dara memiliki salah, atau mungkin sikap Dara yang kurang bisa menyesuaikan dengan keluarga ini," tutur Dara.
Saat itu Rania terlihat menyembunyikan wajahnya. Entah kenapa, tapi Dara seperti mendengar Isak tangis. Dara tidak berani menatap wajah Rania, dia takut dibilang tidak sopan nanti.
"Dara. Maaf atas kesalahan yang telah diperbuat Guntur." Kusuma berkata dengan suara gemetar. Dara langsung mengangkat wajahnya, menatap ke hadapan Kusuma dan Rania yang ternyata sedang menangis.
"Kenapa Tuan dan Nyonya menangis?" tanya Dara bingung. "Apa saya melakukan kesalahan?"
"Dara. Kamu hamil karena perbuatan Guntur. Tapi, sewaktu Guntur sempat sadar. Dia menitipkan kamu kepada kami," kata Rania dan saat itu juga Dara langsung merinding ketika mendengarnya.
__ADS_1
"Benar. Semua ini karena kesalahan saya sebagai kepala keluarga. Guntur, dia selama ini tertekan dan stress karena apa yang saya tuntut padanya. Sehingga dia sampai melakukan hal-hal yang diluar kendali. Dara, mohon maafkan sikap kami yang kurang baik pada kamu. Tapi, saya dan istri saya sangat menyesal, apalagi setelah kamu sampai berpamitan kepada kami seperti sekarang. Saya sempat berpikir kamu akan begitu saja pergi bersama Elang tanpa berpamitan," ungkap Kusuma sambil sesekali menyeka air matanya.
"Kamu mau kan, memaafkan kami, Dara?" tanya Rania.
Dara tersentuh sampai menangis mendengar semua perkataan itu. Dara juga tidak menyangka kalau Rania dan Kusuma akan mengatakan itu padanya. Ternyata benar dugaannya, orang tua Guntur itu sebenarnya baik.
"Dara tidak menyalahkan Kak Guntur. Apalagi sekarang kak Guntur sudah tiada. Dara sudah memaafkan semuanya dan berusaha menerima takdir ini. Tuan dan Nyonya tenang saja, Dara tidak akan membiarkan anak dalam kandungan Dara terluka walau sedikit pun. Ini adalah amanah kak Guntur, dan Dara akan menjaganya sebaik mungkin," jawab Dara.
Rania berjalan ke arah Dara, dan tanpa diduga sebelumnya. Wanita paruh baya itu memeluk Dara dengan tiba-tiba. "Dara, tolong maafkan kesalalah kami. Jadilah menantu kami, Dara. Jangan panggil kami tuan dan nyonya."
Saat itu Dara merasakan sekujur tubuh Rania yang gemetaran. Baru kali ini dia melihat sisi Rania yang rapuh. Wanita yang selalu terlihat kuat, dengan perkataannya yang pedas. Ternyata kalau sedang menangis, Rania terlihat sangat bersedih dan tangisannya bahkan membuat Dara sampai ikut menangis.
"Dara sudah memaafkan, Ibu."
Dara mengganti kata Nyonya dengan kata Ibu, seperti saat awal dia melihat Rania ketika datang ke kontrakan rumahnya.
"Dara, panggil saya Mama seperti Elang memanggil saya, Mama."
Apakah Dara pantas? Pertanyaan itu tidak pernah hilang dari otak Dara.
"Maafkan saya, Bu. Tapi, saya merasa tidak pantas. Benar kata Pak Kusuma, perbedaan Dara dan Kak Elang sangatlah kontras. Begitu juga dengan Kak Guntur. Dara tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Kusuma. Seperti yang tadi Ibu Rania katakan, bahwa sebentar lagi Dara dan Kak Elang juga akan bercerai."
Sejujurnya Rania berkata seperti itu hanya karena tidak ingin kalau sampai Dara keluar dari rumahnya. Dia ingin Dara tetap tinggal di rumah itu. Tapi, gengsi lah yang membuat Rania masih menyembunyikan perasaannya pada Dara yang mulai luluh. Rania malah merasa menyesal pernah bersikap buruk terhadap Dara.
"Maafkan saya, Dara. Maaf karena kata-kata saya itu keterlaluan. Dara Mama janji akan sebaik mungkin menjaga kamu dan anak kamu. Tolong jangan pergi, ya."
Melihat hal itu membuat Kusuma pun ikut bangun dari duduknya lalu menghampiri Dara. "Benar, tinggallah di sini, Dara."
Dara tersenyum sambil mengusap air matanya. "Terima kasih. Tapi Dara akan mengikuti kata-kata Kak Elang. Tenang saja, Dara sudah memaafkan semuanya. Dan tidak akan ada yang berubah dengan rencana di awal. Dara tetap akan bercerai dengan Kak Elang setelah anak ini lahir."
...____________...
...Dara rupanya teguh pendirian. Hmm, kira-kira Dara akan luluh nggak ya? Gimana tuh, kayaknya Elang beneran suka deh sama Dara. Tapi, apa mungkin itu juga cuma sekedar rasa empati ? ...
__ADS_1