Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
08 - Kesepakatan : Dara Tidak Keberatan


__ADS_3

Dara sudah menceritakan semuanya kepada papah dan mamahnya. Meski awalnya Damian merasa geram, ingin langsung melabrak keluarga Kusuma. Tapi Dara berhasil mencegah itu terjadi dengan menceritakan tentang Elang.


Semua kebaikan pria itu diceritakan oleh Dara. Itu bukanlah sebuah kebohongan melainkan kata-kata jujur apa adanya tentang Elang. Pria itu memang sangatlah baik bahkan bisa dikatakan seperti malaikat penolong untuk Dara.


"Tapi ini nggak adil untuk anak itu, Neng," kata Elis di samping Dara yang masih belum berhenti menangis.


"Kamu jangan nangis Dara. Udah nangisnya. Kasihan bayi kamu," tutur Damian seketika membuat Dara terhenyak, dia merinding. Ternyata papahnya masih memikirkan bayi di dalam kandungannya. Bayi yang tidak Dara harapkan kehadirannya di dalam rahimnya.


"Papah kamu benar, Neng. Papah sama Mamah akan tetep sayang sama kamu, juga sama anak di dalam kandungan kamu." Elis memeluk putrinya. Dara makin terisak ditambah sesak merasakan pelukan Elis yang biasanya hangat, kini terasa pilu karena ia merasa malu.


"Maafin Dara, Mah. Dara nggak pantas di sayang sama mamah dan papah."


"Jangan ngomong gitu atuh. Kamu kan nggak ingin ini semua terjadi. Mamah dan papah percaya kamu anak baik, kamu bukan anak nakal apalagi murahan. Kamu jangan mikir gitu yah."


Damian yang semula hanya duduk jauh dari putrinya, langsung beranjak menghampiri Dara yang sedang berada di dalam pelukan istrinya. "Maafin Papah, Nak."


Tangis Dara makin pecah. Baru kali ini dia membuat malu kedua orang tuanya. Dara adalah gadis berprestasi, dia juga terkenal gadis yang polos dan tidak pernah membuat masalah.


Pertemuannya dengan Guntur pun dulunya tidak di sengaja. Guntur menyelamatkan Dara yang hendak di cegat oleh preman-preman di sekitar rumah kost Dara. Saat itulah Dara merasakan kepedulian seseorang padanya. Terlebih Guntur sangat baik, sopan dan juga lembut kepadanya. Tak sebentar keduanya saling mengobrol dan berteman. Setelah enam bulan keduanya memutuskan untuk jadian. Saat itulah Dara merasakan hidupnya bertambah bahagia dengan kehadiran Guntur Sebastian.


"Maafkan papah, Dara. Seharusnya papah nggak membiarkan kamu ambil beasiswa di Jakarta. Papah juga nggak seharusnya mengizinkan kamu ngekost meskipun ada teh Nessy. Kamu masih sepenuhnya tanggung jawab papah, tapi papah nggak bisa jagain kamu dengan baik," tutur Damian dengan tangisnya yang akhirnya tumpah sambil memeluk putri dan istrinya.


"Ini bukan salah papah. Ini salah Dara, Pah. Dara seharusnya nggak pacaran dulu. Ini semua salah Dara." Tetap saja Dara merasa itu sepenuhnya kesalahan dia. Bukan salah kedua orang tuanya.


Elis dan Damian sangat menyayanginya, meski berjauhan tapi mereka selalu menghubungi Dara dengan rutin. Bahkan di hari libur Elis dan Damian selalu menjemput putrinya untuk pulang ke Bandung.


"Sudahlah, Neng. Sekarang yang terpenting adalah kamu. Kamu harus menerima tawaran yang namanya Elang. Meskipun memang itu bukan salah dia, nggak adil buat dia. Tapi setelah Mamah pikir lagi, ini semua kesalahan Guntur, keluarga mereka tidak bisa lepas tangan. Benar kata Elang, kalau kamu tidak menikah dengan dia, orang-orang akan menilai kamu buruk," pungkas Elis.


"Mamah kamu benar, Nak. Kamu tetap harus menikah. Biar Papah yang bicara dengan keluarga mereka." Damian menegaskan pendapatnya. Dara hanya diam, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua terserah Elang, apakah pria itu tetap masih ingin menikahinya, atau mungkin sudah berubah pikiran karena kata-katanya tadi sewaktu Elang mengantar dia pulang dari pesta reuni kampusnya.


****


"Selamat pagi."


Dara terkejut ketika membuka pintu kostnya. Ternyata Elang yang datang dan sudah berdiri di depannya membawa serta kedua orang tuanya. Siapa lagi kalau bukan orang tua Elang, pikir Dara. Dia sampai kaget sekaligus gugup kenapa Elang datang tidak bilang dulu.


"Kak Elang. Mau apa ke sini?" tanya Dara polos.


Tak lama kemudian menyusul Elis dan Damian muncul dari belakang Dara.


"Siapa, Nak?" tanya Damian.


Kedua orang di sebelah Elang hanya memasang raut congkak sambil menatap risih keadaan di sekitarnya. Seolah tidak terbiasa berada di tempat sempit dan kumuh kalau menurut pendapat mereka. Padahal kost Dara itu terbilang bersih dan rapi untuk kalangan orang biasa.


"Selamat pagi, Om dan Tante. Pasti orang tua Dara ya? Kenalkan saya-"


"Masuk dulu, Nak." Damian tersenyum.


"Iya, silahkan masuk." Elis ikut menimpali.

__ADS_1


"Terima kasih," sahut Elang.


Kusuma dan Rania masih berdiri di tempat tidak mau masuk ke dalam kost Dara.


"Ma, Pa. Masuk," ajak Elang sambil mengisyaratkan agar orang tuanya tidak membuat masalah. Mereka tentu sudah sepakat sebelum datang ke tempat itu.


"Mama dan Papa tunggu di mobil aja deh. Emangnya cukup apa, nggak sempit kalau mama dan papa ke dalam?" sahut Rania.


Dara menunduk saat mendengar itu sementara orang tua Dara sedang merapikan kursi seadanya di tempat kost Dara yang minimalis itu.


"Maafkan saya, Pak, Bu." Dara menunduk tidak berani menatap wajah orang tua Guntur tersebut.


"Ma, Pa. Elang nggak suka. Kita udah sepakat kan?" ucap Elang pelan sambil menekankan kepada kedua orang tuanya.


"Iya iya," sahut Rania. Sementara Kusuma hanya diam, tidak tertarik menjawab.


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam ruangan kecil berukuran kira-kira 3x3 meter itu.


"Maaf ya keadaannya begini. Saya nggak tahu kalau orang tua nak Elang akan datang. Saya dan suami saya juga baru saja datang dari Bandung untuk menjenguk Dara," tutur Elis.


Damian hanya terus menggenggam tangan putrinya dengan tatapan tajam ke arah Kusuma. Melihatnya saja Damian seolah sudah dapat membaca kesombongan orang itu. Dia tidak akan membiarkan siapa pun mengecilkan putrinya, putri kebanggaannya.


"Tante sudah tahu nama saya?" tanya Elang.


"Dara yang cerita, Kak." Dara menyahuti.


"Oh gitu." Elang hanya mengangguk.


"Iya. Saya Damian, papahnya Dara." Pria blasteran yang wajahnya tampan itu menatap mata Kusuma. Hal itu membuat Kusuma cukup tertekan. Apakah dia akan menuntut? Itu yang ada di pikiran Kusuma saat ini.


Rania menatap mata Damian, dia malah ingin tersenyum melihat wajah Damian yang tampan. Tapi sebisa mungkin dia tidak ingin terlihat mencolok bahwa dia mengangumi tampilan fisik papah Dara tersebut.


"Begini Om, Tante. Dara sudah menceritakan semuanya? Kronologi tentang Guntur?" tanya Elang saat melihat tatapan sengit antara Damian dan Kusuma.


"Sudah." Damian menanggapinya singkat sambil menatap Elang. Tapi entah kenapa cara Damian saat menatap Elang berbeda ketika Damian menatap Kusuma. Damian seperti menaruh simpati pada Elang.


"Baik, Om. Saya berniat sungguh-sungguh. Ingin menikahi anak Om dan Tante." Elang terlihat sangat santai mengatakannya.


Elis sejak tadi mengusap-usap bahu Dara yang hanya tertunduk. Rania ikut menatap gadis di depannya. Dara terlihat pendiam dan polos. Dalam hatinya merasa tidak tega juga. Tapi kalau menuruti gengsinya, Rania merasa Dara tidak pantas menjadi menantu keluarga Kusuma. Sungguh sangat di bawah standar.


"Saya tahu ini bukan kesalahan nak Elang. Tapi, sebagai orang tua Guntur. Saya hanya menuntut tanggung jawab dari keluarga bapak dan ibu terhadap putri saya. Anak saya ini sangat polos, dia tidak ingin seperti ini. Saya harap ini bisa di selesaikan secara kekeluargaan. Kalau tidak bisa, saya akan tempuh jalur hukum. Anak saya, Dara memiliki bukti cukup kuat saat Guntur melakukannya dibawah pengaruh alkohol. Saya bisa bawa ini ke kepolisian jika bapak dan ibu ingin berusaha lepas tangan," tegas Damian. Seketika Kusuma dan Rania langsung menegakkan tubuhnya.


"Jangan bawa-bawa hukum. Kalau tidak mau keadaanya rumit. Saya tahu keadaan kalian tidak semampu itu untuk menempuh jalur hukum yang semuanya bisa selesai dengan mudah menggunakan uang." Lagi-lagi Kusuma selalu menggunakan kata "uang".


"Pa. Biar Elang yang berbicara dengan orang tua Dara," kata Elang yang mulai kesal dengan ulah papanya sendiri.


"Maafkan Papa saya, Om."


"Tidak apa-apa. Saya memang bukan orang sekaya pak Kusuma dan Ibu Rania. Siapa yang tidak tahu kekayaan Bapak dan Ibu. Tapi, jangan meremehkan orang dari kulit luarnya saja. Saya Damian Alexander. Tidak akan pernah membiarkan siapapun menghina putri saya."

__ADS_1


Kata-kata Damian membungkam Kusuma dan Rania. Melihat raut wajah dan kata-kata Damian yang sangat tegas dan berani membuat Kusuma berpikir dua kali. Mungkinkah Damian ini bukan orang biasa?


"Saya minta maaf kalau kata-kata Papa saya menyinggung. Saya pribadi tidak pernah membedakan siapapun. Saya tulus ingin bertanggung jawab atas nama abang saya yang masih terbaring koma di rumah sakit." Elang berusaha menjelaskan agar keluarga Dara tidak salah paham dengan sikap papanya yang arogan.


"Saya tidak akan lari. Saya akan tanggung jawab," kata Kusuma.


"Ya, keluarga Kusuma akan bertanggung jawab terhadap putri anda," tambah Rania.


"Syukurlah." Elis mengutarakan kelegaannya. "Anak saya korban."


"Tapi saya memiliki syarat-syarat yang harus di sepakati oleh putri bapak Damian," ucap Kusuma.


"Syarat?" sahut Damian.


"Begini, Om. Papa saya dan saya sepakat agar Dara tinggal di rumah keluarga Kusuma setelah menikah. Lalu, setelah anak di dalam kandungan Dara lahir, saya akan menceraikan Dara. Tapi mengenai tanggung jawab, keluarga Kusuma sampai kapanpun akan bertanggung jawab terhadap anak Dara dan Guntur," terang Elang.


Damian dan Elis menghela napas panjang bersamaan. Meski dia tidak ingin ini terjadi pada putrinya tapi semua sudah terlanjur. Tak ada pilihan lain selain menyetujui semuanya.


"Lalu bagaimana dengan Guntur?" tanya Damian.


"Guntur belum sadar," jawab Rania.


"Mengenai Guntur, kalau abang saya sudah sadar. Saya pastikan Abang saya akan segera menikahi Dara. Hanya itu agak mustahil melihat keadaan Guntur yang cukup parah." Jelas Elang.


Dara merasa sesak. Ia merindukan Guntur, kekasihnya. Tapi, kata-kata Elang seolah mengubur dalam-dalam harapannya untuk bisa melihat kekasihnya itu sembuh dan bangun dari komanya. Apakah dia tidak dapat bertemu dengan Guntur lagi?


"Baiklah. Saya dan istri saya sepakat. Asalkan keluarga Kusuma tidak lepas tanggung jawab," kata Damian.


"Baiklah jika semua sudah sepakat. Maka saya akan segera mengurus pernikahan mereka," ucap Rania.


"Ya, lebih cepat lebih baik." Kali ini Kusuma tampak berbeda. Dia terlihat antusias untuk menikahkan Elang dan Dara. Padahal sebelumnya dia terlihat tidak peduli dengan Dara.


"Dara. Setelah anak kamu lahir. Kamu tidak keberatan kan kalau keluarga kami yang mengurus anak itu?" ucap Kusuma.


Elang tersentak. Sejak kapan Kusuma tertarik dengan anak dalam kandungan Dara. Kemarin saja papanya itu tidak sudi mengakui anak itu sebagai cucunya. Lalu sekarang kenapa papanya malah ingin mengambil alih anak Dara?


"Maksud Bapak?" tanya Dara tidak paham.


"Saya ingin setelah kamu bercerai dengan Elang. Anak itu tetap tinggal dengan keluarga Kusuma. Sedangkan kamu bisa melanjutkan hidup kamu, tanpa harus memikirkan anak itu."


Damian mengangkat sebelah alisnya. Lalu mengambil alih obrolan. "Maksud Bapak, keluarga Kusuma hendak memisahkan Dara dari anaknya?"


Elis yang menyadari bahwa suaminya mulai terpancing emosi, sesegera mungkin menenangkan suaminya itu. "Pah. Sabar,"


"Dara tidak masalah."


Semuanya hening termasuk Elang yang bercampur kaget mendengar kata-kata Dara.


"Dara tidak keberatan jika dipisahkan dengan anak ini."

__ADS_1


..._________...


__ADS_2