
"Aku ingin kamu bahagia. Hidup kamu berharga, Dara. Kamu berharga untukku. Jangan sedih terus, aku juga merasa sakit kalau kamu seperti ini," ungkapnya sambil mengecup kening Dara.
Perlakuan Elang yang sangat lemah lembut terhadapnya makin membuat Dara terbuai dan dia juga mendambakan hal itu. Dara, merasa nyaman berada di rengkuhan Elang.
Matanya masih menatap mata Elang. Apakah ini takdirnya? Dara menyentuh kedua pipi Elang lalu mengusapnya pelan. Wajah yang sempurna itu begitu nyata di hadapannya. Sosok yang selalu bersikap lembut dan memiliki bentuk kesempurnaan seorang manusia. Elang, dia terlalu berharga untuk dirinya yang biasa-biasa saja.
"Kamu sempurna, Kak."
Elang menggeleng. "Nggak, Dara. Tidak ada manusia yang sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Allah. Tapi, aku akan berusaha jadi yang terbaik untuk kamu."
"Apa kamu yakin, Kak? Bagaimana jika kamu akan menyesali keputusan kamu itu?"
"Enggak. Aku nggak akan menyesali apa yang sudah aku katakan. Prinsipku aku tidak akan menarik kata-kata yang keluar dari mulutku. Terlebih kata-kata itu dari dalam hatiku yang tulus."
Meski agak ragu. Dara mengecup sekilas bibir Elang lalu mengangguk. "Dara juga menyukai, Kakak ..."
Senyum dan sentuhan yang tak pernah terbayangkan akan memberikan rasa berbeda. Hingga seolah semesta berkata inilah takdir yang sesungguhnya. Persinggahan hatinya pada cinta yang sebelumnya, Tuhan ganti dengan kehadiran cinta yang baru. Saat sesuatu tak dapat dia cegah terulas dari bibirnya yang sudah lama tidak melukiskan lengkungan bernama senyum. Bahagia saat menyadari rasa itu lagi.
__ADS_1
"Maafkan aku, Kak Guntur. Apa aku salah? Kenapa aku jadi menyukai adikmu? Seharusnya aku setia padamu?" lirih Dara sambil memegangi dadanya.
Teringat lagi saat tadi dia mengatakan sesuatu yang telah lama dipendam untuk Elang.
Aku menyukai Kakak, aku mau memulai semuanya dari awal bersama Kakak ...
Cemas, kalau-kalau itu adalah keputusan yang salah. Meski dia tahu, dirinya tidak sebaik itu untuk sosok sempurna seperti Elang. Tapi, salahkah jika dia mencoba jujur akan perasaannya sendiri?
"Semoga aku tidak salah memutuskan ini. Aku harap kak Elang tidak menyesali perasaannya sendiri..."
Dari awal hidup Dara baik-baik saja, bahkan bertambah bahagia setelah kehadiran pria yang mencintainya dengan tulus. Guntur, Kini cinta pertama Dara itu telah pergi untuk selamanya. Mengejarnya pun, Dara tidak bisa. Kehadiran Elang begitu nyata dan sangat pas waktunya.
Elang datang ketika hati Dara hancur akibat kenyataan yang menimpanya. Hamil di usia belia, kekasih yang tidak berdaya apalagi untuk bertanggung jawab atasnya. Elang lah harapan hidup Dara, yang membuat kelam di hidup Dara memiliki secercah cahaya setidaknya hingga dia menyadari cahaya itu juga ada di hatinya. Kebaikan, sikap Elang yang begitu lembut menyentuh perasaannya yang rapuh.
"Bang, gue harap lo bahagia atas ini. Sorry, gue nggak ada maksud merebut Dara dari lo. Justru gue mau buat lo bahagia dengan liat dia bahagia, dia wanita yang baik, dan gue berharap gue cukup baik untuk dia, bang."
Senyuman Guntur yang sedang merangkulnya membuat air mata Elang turun membasahi pipinya. Meski itu hanya sebuah foto, tapi Elang merasa Guntur saat ini sedang bahagia untuknya dan juga Dara.
Bang, tipe cewek ideal lo tuh gimana?
__ADS_1
Tipe gue? Tumben lo tanya?
Guntur tertawa saat adiknya bertanya tipe wanita yang dia sukai.
Pengen tau aja, gue nggak pernah lihat lo gandeng cewek.
Meski Elang juga sedang jomblo. Tapi entahlah kenapa juga dia penasaran dengan percintaan abangnya.
Hahaha kayak lo pernah ajak cewek aja!
Elang tertawa.
Iya sih, gue juga jomblo.
Guntur menepuk bahu adiknya.
Gue suka cewek yang natural. Yang pasti apa yang gue suka, gue yakin lo juga suka, Lang.
Elang terhenyak. Apa maksud kata-kata abangnya itu.
__ADS_1
Kini, Elang memahami maksud kata-kata Guntur di masa lalu padanya. Rupanya benar, terbukti sekarang Elang mencintai wanita yang dicintai oleh abangnya.
"Lo selalu benar, Bang. Gue kangen lo."