
Elang keluar dari mobil untuk menemui orang-orang itu. Lalu satu dari mereka yang Elang tidak tahu siapa namanya datang menghampiri Elang dan langsung memeluk Elang.
"Elang, gue turut berduka cita," ucap orang itu di susul oleh teman-temannya yang lain.
"Gue juga, Lang. Gue beneran sedih dan frustasi waktu gue tahu Guntur koma, dan gue hampir nggak percaya waktu tahu Guntur nggak ada," kata cowok dengan anting besar di telinganya. Kalau dia Elang mengenalnya, dia adalah Ricky teman Guntur yang pernah di ajak ke rumahnya oleh Guntur.
"Bang Rick. Ini teman-teman lo semua?" tanya Elang.
"Iya, Lang. Kita Hunter mau ucapin bela sungkawa langsung tapi kita nggak berani masuk karena udah pasti orang tua lo nggak akan nerima kita," jawab Ricky.
Mereka semua benar terlihat bersedih. Elang pun langsung teringat abangnya. Pantas saja Guntur merasa nyaman di geng Hunter. Ternyata mereka sangat solid dan peduli dengan Guntur. Hanya saja selama ini mereka menghilang pasti ada hubungannya dengan orang tuanya yang melarang mereka untuk datang menjenguk Guntur.
"Makasih untuk lo semua karena mau datang. Gue harap kalian semua mau mendokan bang Guntur. Meski dia udah nggak ada, tapi lo semua tetap teman-teman dia, kan?"
"Pasti, Lang. Kita semua akan selalu doakan Guntur," jawab cowok di sebelah Ricky yang Elang belum tau siapa namanya. "Kenalin gue, Farel."
"Oke. Gue Elang adik kandung Guntur," jawab Elang menyambut uluran tangan Farel. Meski mereka adalah anak geng motor dengan penampilan urakan tapi Elang merasa mereka semua adalah orang baik-baik.
"Kita semua tahu lo, Lang. Guntur sering cerita, kenalin gue Jerry."
"Dan gue Hans."
"Gue Tommy."
"Gue Fadli."
Begitulah teman-teman Guntur memperkenalkan diri mereka satu persatu kepada Elang. Dara hanya melihat hal itu dari dalam mobil. Hal itu membuat Dara teringat lagi tentang Guntur. Meskipun Guntur adalah ketua geng motor tapi Guntur adalah orang yang sangat lembut dan baik terhadapnya. Sama sekali Dara tidak pernah melihat Guntur berlaku kasar kecuali mabuk-mabukan. Itu pun terakhir kali saat Guntur memaksanya hingga dia hamil seperti sekarang. Dara juga akhirnya tahu alasan kenapa Guntur sampai seperti itu setelah Rania menceritakan semuanya. Dan Kusuma meminta maaf mengakui bahwa itu salahnya memaksa Guntur melakukan hal yang tidak disukainya hingga akhirnya Guntur stress dengan semua kekangan itu.
"Lang kalau boleh gue minta tolong. Lo datang ya, ke markas Hunter. Banyak peninggalan Guntur di sana, lo mau kan?" ucap Ricky.
Elang terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Oke. Nanti kalau gue udah lebih leluasa, gue akan ke markas kalian. Ini kartu nama gue, simpan dan hubungi gue kalau kalian butuh apapun. Teman bang Guntur, udah gue anggap sebagai teman gue juga," kata Elang.
__ADS_1
"Thanks, Bro." Ricky memeluk Elang lagi.
"Sorry gue nggak bisa lama-lama karena gue harus pergi," ucap Elang.
"Oke. Perlu kita kawal?" kata Farel.
"Nggak usah," jawab Elang sambil terkekeh pelan. "Kalian ternyata sangat perhatian dengan abang gue. Nggak heran kenapa dia lebih seneng ngumpul dengan kalian dibanding dengan keluarganya."
"Guntur sering cerita. Dia kangen sama keluarganya, Lang." Hans berkomentar. Elang terdiam dengan wajah sendu. Benar, itu juga yang dirasakan oleh Elang.
"Lo jangan mikirin itu. Intinya Guntur udah tenang, dan meski nggak ada Guntur gue harap lo masih mau berteman dengan kita," tambah Ricky.
"Pasti, kalau gitu gue pergi dulu ya," pamit Elang.
Teman-teman Guntur semuanya memeluk Elang bergantian setelah itu Elang masuk ke dalam mobil.
"Kak, udah selesai?" tanya Dara.
"Udah, kok. Kita jalan sekarang ya," jawab Elang.
...****...
Akhirnya setelah menempuh perjalanan beberapa jam. Mereka tiba juga di sebuah rumah yang berukuran minimalis dengan taman bunga yang indah di halaman rumahnya. Pemandangan di sana cukup asri sehingga membuat Dara merasakan ketenangan terutama saat menghirup udara yang sangat segar.
"Kak, ini rumahnya?" tanya Dara.
"Iya. Kamu suka nggak? Aku sengaja pilih yang nggak terlalu ramai dan masih banyak pemandangan alam. Rumahnya juga nggak terlalu besar sesuai selera kamu, kan?"
Dara merasa tersanjung bahkan Elang memperhatikan seleranya.
"Makasih, Kak. Ini bagus banget, dan aku suka."
__ADS_1
"Syukurlah." Elang pun merasa lega.
"Tapi, Kak. Bukankah dari sini ke kantor Kakak cukup jauh?" tanya Dara.
"Aku ke kantor tuh jarang selama kamu hamil besar ini, Dara. Aku akan ke kantor dua Minggu sekali untuk mengecek saja. Semua udah aku pertimbangkan jadi kamu jangan memikirkan itu," jawab Elang.
Dara hanya mengangguk meski dia semakin sedih. Perlakuan Elang sangat baik, dia akan makin terluka nanti, ketika hari perceraian akhirnya tiba.
"Kita masuk ke dalam ya. Kamu pasti capek," ucap Elang.
"Iya, Kak. Dara hanya sedikit pegal aja dan agak keram," jawab Dara.
"Yang mana yang keram?" tanya Elang.
"Kakiku, kayaknya karena terlalu lama duduk," sahut Dara.
"Astaga. Biar aku gendong kamu," kata Elang tanpa menunggu persetujuan Dara. Ia segera keluar dari mobil dan membuka pintu mobilnya lalu menggendong Dara.
"Kak, jangan. Aku kan berat," tolak Dara.
"Nggak apa-apa, kamu jangan menolak." Elang tetap menggendong Dara.
Untuk pertama kalinya Dara merangkul Elang dalam posisi Elang menggendongnya. Saat itu Dara berdebar-debar. Mata Elang, selalu berhasil membuat Dara menunduk tak berani menatapnya terlalu lama.
"Dara."
"Ya?"
"Izinkan aku untuk melanjutkan apa yang menjadi tanggung jawab Guntur, sampai akhir."
"Apa?"
__ADS_1
Dara terkejut dan tidak tahu apa maksud Elang.
"Kita masuk dulu, nanti aku akan jelaskan maksud kata-kata aku," ucap Elang dan itu berhasil membuat Dara membisu.