
Aku janji ini terakhir kali aku ajak kamu ngomong. Tolong dengerin aku kali ini aja, kalau kamu tetap nggak mau menerima aku, baiklah Dara, aku akan menjauhi kamu. Tapi aku mohon kamu mau ya, ngomong sama aku sekali ini aja."
Hatinya tetap saja terluka. Berulang kali Elang meminta untuk bicara, dan setiap itu juga Dara selalu merasa bersedih. Apa yang dapat mereka bicarakan berdua? Tetap saja dia tidak mungkin lagi bersama dengan Elang? Tapi hatinya? Dara tidak dapat berbohong, dia juga masih sangat mencintai Elang.
"Baiklah, sekali saja."
"Iya, aku janji." Elang menarik tangan Dara, membawanya menuju ke mobilnya yang di parkir di depan cafe.
"Mau kemana Kak?"
"Ke mobil," jawab Elang singkat.
Jantungnya masih berdebar-debar saat Elang menyentuh telapak tangannya. Rasanya begitu hangat dan nyaman, kenapa Dara tidak ingin melepaskan genggaman itu? Dia sangat menyukai genggaman tangan Elang, dia sangat amat rindu.
"Masuk," ucap Elang sambil membuka pintu mobil. Dara pun masuk ke dalam mobil tersebut.
__ADS_1
"Kita mau kemana, Kak?"
"Ke suatu tempat, aku mau ajak kamu bicara dengan nyaman, nggak di sini."
"Tapi, Kak. Aku harus langsung pulang. Kenapa nggak di sini aja? Aku belum bilang mamah, Alpha juga pasti menunggu aku," ucap Dara.
"Aku udah bilang sama mamah kamu kok," jawab Elang dan Dara tidak dapat lagi menolak ajakan pria itu.
Elang melajukan mobilnya ke suatu tempat yang Dara sendiri tidak tahu mau dibawa kemana. Yang jelas jalanan yang mereka lewati sudah menjauh dari pusat kota Bandung.
"Kak, kita mau kemana? Minimal Kakak ngomong sama aku," tanya Dara.
Dara tidak menjawab, setidaknya dia percaya pada Elang, pria itu tidak mungkin membawanya ke tempat yang tidak-tidak. Elang adalah lelaki yang paling baik, tapi dia hanya mencemaskan hatinya sendiri, bagaimana kalau dia goyah setelah berbicara dengan Elang?
"Kita udah sampai," ucap Elang, benar saja rupanya mobilnya berhenti tepat di depan taman dengan pemandangan hijau yang sangat menyejukkan mata.
__ADS_1
Dara dan Elang pun keluar dari mobil berjalan menuju tempat duduk dengan disuguhkan gambaran alam yang asri dan juga udara yang segara.
Mereka duduk, saat itu Elang hanya terus menatap ke depan, menghirup udara segar yang menguarkan aroma alam. Dara sendiri malah terpaku dengan Elang yang masih memejamkan mata. "Kak, kamu mau ajak aku ngomong kan? Mendingan kamu ngomong deh, apa yang mau kamu bicarakan dengan ku?"
Elang melirik ke arah Dara lalu tersenyum. "Kamu cemburu kan waktu aku berpelukan dengan Alexa?"
Kedua mata Dara membulat lalu dia secepatnya menggeleng. "Enggak, kenapa aku harus cemburu?" Padahal hatinya berkata iya, dia memang cemburu.
"Oh, tapi kenapa aku melihatnya kamu cemburu, Dara. Kenapa kamu nggak mau jujur dengan perasaan kamu sendiri, hm?"
"Kamu ngomong apa sih, Kak. Ya udah kalau ini yang mau kamu bahas mendingan kita pulang aja." Dara beranjak dari duduknya tapi Elang mencegahnya.
"Kamu lupa, aku cuma minta hari ini aja kamu dengerin aku, Dara."
Sambil menghela napas panjang, Dara akhirnya duduk kembali. "Baiklah, tapi aku nggak mau kamu mengatakan hal seperti tadi."
__ADS_1
"Kenapa Dara?"
Dara menatap Elang sekilas. "Tentu karena semua ucapan kamu salah, Kak."