
"Eh lihat deh, itu kan menantunya ibu Rania. Baru keliatan ih, padahal udah dua bulan nikah, nggak bosan apa di rumah terus."
"Ssttt... denger-denger dia udah hamil duluan."
"Hah maksudnya dia udah hamil anak pak Elang?"
"Ih ya nggak tahu juga anak pak Elang apa bukan sih."
Perkataan itu terdengar jelas di telinga Dara yang kebetulan pagi itu duduk di teras rumah untuk sekedar mencari angin segar. Dara kira lingkungan itu menerima keberadaannya. Tapi ternyata dia salah besar. Perasaannya sakit dijadikan bahan pergunjingan. Seumur hidupnya Dara tidak pernah mendengar orang menggunjingnya secara langsung seperti sekarang ini. Tapi, apa yang dikatakan ibu-ibu komplek itu semuanya benar.
Dara mencoba tetap bersikap biasa saja, tapi ibu-ibu yang sedang berkumpul untuk memberi sayuran itu makin lama malah semakin keterlaluan.
"Kalau iya, kasian dong Pak Elang. Dia itu udah sempurna banget jadi anak laki-laki. Kebanggaan Bu Rania juga. Iya, nggak nyangka malah harus tanggung jawab perbuatan abangnya."
"Ee... maksudnya itu anaknya Guntur?" cibir ibu yang lainnya.
Dara merasa miris. Tidak tahu bagaimana caranya berita itu menyebar cepat. Padahal dia mengira dengan menikah, aibnya akan tertutup rapat, tapi ternyata tidak.
Merasa tidak tahan, akhirnya Dara memilih masuk ke dalam rumah. Dia menangis dibalik pintu, rasanya dia ingin keluar dari rumah mewah itu dan kembali kepada orang tuanya.
"Non Dara kenapa?" tanya Pelayan di rumah itu.
"Tidak, Bi. Maaf, Dara masuk kamar dulu ya."
Di dalam kamar, Dara menangis sesenggukan, dia benar-benar hancur mendengar ucapan para tetangga itu. Bukan hanya menyakitkan. Kata-kata itu membuat Dara ingin mengakhiri hidup saja.
"Aku seharusnya enggak di sini. Seharusnya aku kabur waktu itu. Atau mati menghilang dari muka bumi ini. Aku nggak perlu bikin keluarga ini malu, apalagi papah dan mamah. Aku bener-bener udah mencoreng nama baik mereka semua."
__ADS_1
Sebuah pepatah mengatakan karena nira setitik rusak susu sebelanga. Pepatah tersebut berarti bahwa karena kesalahan kecil yang nampak, kebaikan sebesar apapun tidak ada artinya semua persoalan menjadi kacau dan berantakan.
Dara tahu, kesalahannya memang bukan kesalahan kecil. Tapi, apakah dia tidak pantas untuk dimaafkan? Dia juga tidak ingin hamil diluar nikah. Dara, dia punya impian. Dia ingin menjadi wanita karir yang sukses. Sebab itu Dara ke Jakarta, menerima beasiswa dan hidup mandiri. Semua itu Dara lakukan demi menjadi kebanggaan keluarganya. Tidak pernah sedetik pun Dara bermimpi ingin hamil diluar nikah seperti sekarang. Semua adalah suratan takdirnya. Meski dia tahu, dia juga harus banyak belajar dari setiap kesalahan.
"Maafin aku, Mah, Pah. Maaf karena Dara semua ini terjadi."
"Pa, menurut Papa gimana dengan Guntur? Keadaannya masih sama saja, belum ada perkembangan. Apa kita akan terus berada di sini?" tanya Rania pada suaminya.
"Mau tidak mau kita lebih baik di sini, Ma. Di sana pasti banyak yang sedang menggunjing kita karena kejadian ini. Elang, anak kebanggan kita, dia harus menanggung semua perbuatan Guntur."
Kusuma masih sangat marah, itu terlihat jelas dari sorot matanya menatap Guntur yang berada di dalam ruangan sendirian. Guntur masih koma, dia belum juga sadar dan dokter bilang, kemungkinan Guntur sadar sangat kecil.
"Sudahlah, Pa. Jangan terus dibahas. Kasihan Guntur. Benar kata Elang, mungkin saja ini juga kesalahan kita."
Rania adalah ibu kandung Guntur, walau bagaimana pun Guntur tetap darah dagingnya. Melihat putranya tidak sadar, dia juga sedih. "Jangan salahkan Guntur lagi, Pa. Mama tetap saja tidak tega padanya."
"Sudahlah. Intinya Papa tidak mau kalau Mama mengatakan ini kesalahan kita dan melupakan bahwa semua yang di alami Guntur juga sebab dia tidak berhati-hati dalam memilih pergaulan."
Rania menangis memperhatikan keadaan putranya dari luar ruangan. Setiap hari dia berdoa, dia ingin agar mukjizat datang menghampiri putranya sehingga putranya itu sadar.
"Cibiran orang-orang sekarang pasti sedang ditujukan pada perempuan yang dinikahi Elang. Dia sudah mencoreng nama baik keluarga Kusuma. Kalau bukan karena Elang, Papa sudah menyingkirkan dia, Ma."
"Jangan Pa, di dalam rahimnya ada anak Guntur," kata Rania.
"Siapa yang peduli? Anak haram tidak boleh ada di keluarga Kusuma!" tegas Kusuma.
__ADS_1
"Pa, Mama mohon cukup! Guntur seperti sekarang juga karena Papa tidak peduli padanya. Papa selalu membanggakan Elang dan Elang! Sadar, Pa! Bahkan Elang sendiri merasakan itu dan dia sedih, karena dia sayang abangnya, dia sayang Guntur yang selalu diperlakukan tidak adil!" tegas Rania.
Plakk
Kusuma menampar wajah Rania. "Jangan pernah melawan saya, Rania. Kata-kata kamu sudah keterlaluan."
Rania menyentuh pipinya, mungkin tamparan itu tidak terlalu menyakitkan. Tapi, hatinya jauh lebih sakit. Dia selama ini selalu berusaha mengikuti kemauan suaminya. Walau terkadang itu bertentangan dengan keinginannya.
"Papa sudah sangat keterlaluan. Papa berdiri di sini, menemani Guntur bukan karena cemas akan keadaan Guntur, iya kan? Papa hanya tidak mau kalau papa di sana, papa akan dijadikan bahan pergunjingan. Iya kan Pa!"
"Kamu gila Rania! Ini rumah sakit!" ujar Kusuma dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
Rania memilih mendorong suaminya menyuruh suaminya pergi dari rumah sakit itu. "Pergi Pa. Jangan di sini. Biar Mama yang jaga Guntur sampai dia sadar. Dia anak Mama, dia kebanggaan Mama walau papa tidak pernah sekali pun bangga padanya."
"Diam kamu!" tegas Kusuma mencengkeram kuat telapak tangan Rania. "Tugas kamu hanya patuh!"
"Tapi Guntur anakku, Pa! Kamu lupa dia juga anak kamu. Ini tidak adil buat dia. Kamu sadar nggak sih!"
"Di bagian mana saya bilang dia buka anak saya, Rania!"
Rania tidak tahu lagi harus berkata apa. Sekuat apapun dia mencoba membela Guntur, suaminya itu tidak juga merasa bersalah.
"Terserah kamu, intinya jangan pernah kamu sakiti istri Elang, perempuan yang sedang mengandung anak Guntur. Ingat, Pa! Dia adalah darah daging kamu juga. Bayi itu tidak berdosa. Camkan itu!"
Rania memilih pergi untuk mendinginkan otak. Dia tidak bisa terus menatap wajah laki-laki egois seperti Kusuma. Dia juga sadar terkadang sikapnya buruk, tapi tidak sampai seburuk pikiran Kusuma yang berniat menyingkirkan Dara. Jelas-jelas Dara sedang mengandung cucunya, pikir Rania dengan otaknya yang masih sehat.
"Anak dan Ibu sama saja. Kalau begini terus, saya bisa stres!" geram Kusuma.
__ADS_1
"Papa harap kamu segera sadar Guntur. Pertanggung jawabkan semua perbuatan mu. Papa lelah dan malu!!" makinya, masih tidak merasa bersalah sama sekali.