
"Kak kamu kenapa? Aku perhatikan kok sejak tadi kamu banyak melamun?"
"Dara, kamu udah selesai mandi?"
"Udah, Kak. Kamu lagi kurang sehat?" tanya Dara sambil menyentuh kening pria di depannya. Elang menggeleng lalu meraih telapak tangan Dara. "Aku baik-baik aja."
Dara pun duduk di depan Elang sambil tersenyum. "Kita jadi jalan-jalan untuk belanja bulanan?"
Elang tadi memeriksa kulkas dan di dalamnya belum tersedia bahan-bahan makanan. Karena itulah Elang mengajak Dara untuk belanja ke supermarket sore ini sekalian jalan bersama. "Jadi dong, sekarang aja gimana? Takutnya sore hujan. Kita makan siang di luar aja, oke?"
"Oke deh." Dara mengangguk setuju dan keduanya pun segera pergi ke supermarket yang ada di pusat kota Jakarta.
Di dalam mobil Elang masih saja kepikiran tentang Alexa. Dia cemas kalau Alexa akan benar-benar mencarinya. Lalu bagaimana dia menjelaskan itu kepada Alexa? Tentang dirinya yang sudah menikah dengan Dara, wanita yang kini tengah berbadan dua. Terlalu panjang dan rumit, Elang tidak suka menjelaskan hal itu panjang lebar.
"Kak, aku boleh nggak setelah melahirkan tinggal di Bandung?" tanya Dara.
Saat itu Elang tidak merespon. Dara juga heran karena Elang seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kak? Kamu dengar aku?"
Elang tersentak lalu menatap Dara kaget. "Maaf, kamu tadi tanya apa?"
"Kak? Kamu tuh lagi mikirin apa?" tanya Dara sambil mengusap bahu Elang. Pria itu menghembuskan napas panjang. "Enggak kok. Maaf ya, tadi ada sedikit urusan yang membuat aku agak terganggu."
__ADS_1
"Masalah pekerjaan?"
Elang mengangguk, dia terpaksa berbohong. Menurutnya jika menjelaskan sekarang akan panjang dan belum tentu selesai juga. Dia memilih untuk menunda menceritakan hal itu pada Dara. "Iya. Tapi udah aku hendel kok. Maaf ya, kamu tadi bilang mau ke Bandung?"
"Syukurlah kalau udah selesai Kak. Tapi kalau kamu harus ke kantor, kamu jangan paksakan diri nungguin aku di rumah ya. Aku nggak apa-apa kok di rumah sendiri."
"Enggak kok, udah selesai. Kamu nggak perlu cemas. Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu kau ke Bandung?"
"Hmm, iya Kak. Dara mau ditemani mamah dan papah, boleh nggak?"
"Boleh kok. Biar aku yang bilang sama papa dan mama nanti. Lagi pula mamah dan papah kamu juga pasti pengen mengurus cucu pertama mereka," balas Elang.
"Terima kasih ya, Kak." Dara merasa lega, dia mengira Elang akan melarangnya.
Dara sejujurnya merasa curiga dengan Elang. Dia pasti tidak salah mengira bahwa pria itu sedang memikirkan sesuatu diluar masalah kantor. Tapi, Dara tidak mau ikut campur terlalu dalam, hanya saja dia tidak mau kalau sampai Elang menyimpan beban pikiran sendirian.
"Kak. Bisa berhenti dulu nggak?"
"Kenapa?"
"Aku mau ngomong sama kamu sebentar,"
__ADS_1
"Ngomong apa Dara?"
"Kakak berhenti dulu."
"Sebentar lagi kita sampai ke supermarket kok. Emangnya kamu mau ngomongin apa?"
Dara berpikir kalau dia tanya sekarang apakah nanti mood Elang akan berubah?
"Kalau gitu nanti aja deh sepulang belanja," sahutnya.
Elang mengusap pipi Dara. "Oke deh."
Mereka masuk ke dalam supermarket. Elang menggandeng tangan Dara dengan erat. Saat itu Dara merasa benar-benar sedang digandeng oleh suaminya. Perutnya yang sudah lumayan besar membuat auranya sebagai wanita hamil semakin terpancar.
Terbukti orang-orang di sekitar Dara tidak henti melemparkan senyuman. Bahkan sayup-sayup Dara mendengar mereka tak jarang memuji kecantikan Dara sebagai wanita hamil, juga sosok di samping Dara yang sangat tampan. Hal itu membuat Dara tersipu malu.
"Kenapa senyum?" tanya Elang yang tidak sengaja melihat lengkungan di bibir Dara.
"Eh, enggak kok." Dara menggeleng malu.
Elang ikut tersenyum. "Dek, kamu pasti seneng banget ya punya mama cantik kayak gini," ucapnya sambil mengusap perut Dara.
__ADS_1
"Apa sih, Kak! Udah ah, jadi malu," kata Dara.
Elang merangkul Dara dengan rasa s bahagia. "Aku kan ngomong jujur. Istri aku yang paling cantik."