Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
49 - Kesepakatan : Aku Ingin Kamu Kuliah


__ADS_3

"Papah." Dara tersentak langsung melepaskan genggaman tangan Elang, begitu juga Elang terkejut lalu menggaruk tengkuknya sambil memasang raut seperti orang kikuk.


"Assalamu'alaikum." Damian masuk lalu menatap Elang dan Dara.


"Wa'alaikumsalam," jawab Elang dan Dara bersama.


"Dara, kamu bersama Elang?" tanya Damian.


"Iya, Pah. Itu tadi Kak Elang..." Dara bingung harus bagaimana menjelaskan kepada papahnya. Tentu akan berbeda dengan sikap Elis yang seolah tidak ingin banyak tanya padanya. Damian cenderung lebih mendetail tengang Dara, jadi pasti kali ini papahnya akan mengajukan banyak pertanyaan padanya, pikir Dara.


"Saya tadi mengajak Dara berbicara, Om, eh-Pah.." Elang malah gelagapan, padahal biasanya dia baik-baik saja berbicara dengan mantan mertuanya itu. Tapi sosok Damian yang tegas memang seringkali membuat lawan bicara agak segan.


"Oh. Baguslah kalau kalian sudah berbaikan, Papah mau ke dalam melihat Alpha ya. Kalian lanjutkan aja ngobrolnya," ucap Damian tidak disangka dia pergi begitu saja. Padahal Dara menyangka bahwa papanya itu akan bertanya macam-macam padanya, rupanya tidak begitu.


"Huuuh... Kenapa ya, kalau papah kamu yang ngomong aku agak nervous." Elang mengusap wajahnya yang sempat berkeringat.


"Masa sih? Dulu kayaknya Kakak biasa aja deh ngomong sama Papah," balas Dara.


"Iya, itu dulu. Sekarang aku kan datang sebagai pacar kamu. Eh, papah kamu pasti belum tahu kalau kita jadian, jadi gimana ya-kayak sedikit-gugup."


Lagi-lagi Dara tertawa. "Bisa aja kamu. Ya udah habiskan dulu deh minumnya,"

__ADS_1


Mereka kembali duduk dan melanjutkan obrolan. Hingga waktu tidak terasa sudah berjalan hampir satu jam. Alpha sudah tidur pulas di tempat tidurnya. Elis dan Damian langsung mengajak Elang untuk makan malam bersama. Saat itulah Elang merasakan kehangatan keluarga yang luar biasa.


"Dara, aku pulang dulu ya. Oh iya, sesuai kesepakatan tadi, kamu janji ya nggak kerja sebagai SPG lagi. Aku nggak mau kamu diganggu orang jahat kayak waktu itu,"


Meski dia tidak ingin berpangku tangan kepada Elang, tapi memang lumayan berat bekerja sebagai sales promotion girl yang seringkali bertemu dengan lelaki hidung belang.


"Baiklah, tapi jangan halangi Dara cari pekerjaan lain ya. Dara nggak mau ngerepotin Kakak."


"Kamu nggak pernah merepotkan aku. Kalau kamu mau bekerja kita ke Jakarta aja. Aku akan kasih kamu pekerjaan,"


"Pekerjaan apa? Nggak mau ah, aku kan udah janji mau jadi perempuan yang membanggakan buat kamu, Kak. Kalau gini aku dibantu kamu, jadinya aku nggak berjuang dong."


Elang menggeleng sambil mengusap puncak kepala Dara. "Kamu tuh ya. Bukan gitu konsepnya. Intinya aku bantu kamu sesuai dengan apa yang memang lagi aku butuhkan juga di kantor. Kebetulan aku butuh orang yang berjiwa muda seperti kamu. Sekalian aku pengen kamu kuliah lagi. Mau kan?"


"Iya, masa depan kamu masih panjang, Dara."


"Tapi, Kak-"


"Udah, aku juga udah sepakat sama mamah dan papah kamu. Mereka juga nggak keberatan kok kalau kamu ikut aku ke Jakarta. Lagipula mama dan papa juga ingin bertemu Alpha. Kamu jangan nolak ya, please..."


Dara tidak menjawab karena bingung. Kalau dia menerima tawaran Elang, bukankah itu tandanya dia akan menyusahkan Elang lagi?

__ADS_1


"Aku pulang dulu yah. Aku harap kamu mau pikirkan tawaran aku baik-baik. Besok aku harus kembali ke Jakarta. Minggu depan aku akan jemput kamu lagi, kamu harus mau ya, ikut aku." Elang mengecup kening Dara, saat itu hatinya kembali berdebar.


"Kakak hati-hati ya, baiklah Dara akan pikirkan mengenai tawaran Kakak."


"Oke, aku tunggu ya jawaban kamu. Jangan lupa, telepon aku." Elang tersenyum lalu melambaikan tangannya menuju mobil.


"Kakak... Tunggu!"


"Ada apa- Da-ra-" Elang terkejut saat kecupan singkat sudah mendarat di pipinya. "Selamat malam ya," ucap Dara dengan pipi memerah.


Elang masih terpaku di posisinya sambil menyentuh pipi yang barusan dikecup oleh Dara. "Oke. Selamat malam juga, Dara." Meski terkejut tapi dia sangat senang dan bahagia. "Makasih untuk hadiahnya," tambahnya.


Dara mengangguk. "Maaf nggak bisa kasih apa-apa buat Kakak."


"Ini udah bikin aku bahagia banget, semoga kamu nggak bosen ya, kasih hadiah ke aku kayak gini. Aku nggak butuh hadiah benda dan yang sejenisnya."


"Udah ah, sana masuk mobil." Dara berbalik sambil menyentuh dadanya. Tadi itu, dia hanya tidak dapat menahan dirinya lebih lama. Sudah sejak tadi Dara ingin mencium Elang, tapi dia malu dan ragu.


Elang masuk ke dalam mobil dengan senyuman lebar dan sumringah. Sementara Dara sudah menutup pintu rumahnya dengan perasaan malu bercampur gugup dan bahagia. "Malu banget,"


"Dara. Sudah lama banget gue nggak sebahagia ini, semoga selamanya..." gumam Elang.

__ADS_1


...________...


...Aku gatau kalian suka enggak dgn ceritanya 😭 maaf ya kalau aneh ceritanya 🥲...


__ADS_2