Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
55 - Mertua : Kamu Berhutang Penjelasan


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Dara dan keluarganya pun berangkat bersama dengan Elang ke sana. Damian baru saja memulai bisnisnya di Jakarta, seolah takdir berpihak pada Dara dan Elang, agar keduanya tidak lagi berjauhan.


Sepanjang perjalanan Elang merasa bahagia melihat Dara yang juga tampak bahagia bersama dengan Alpha. Dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ke depannya hanya akan memikirkan kebahagiaan Dara dan juga Alpha yang sudah dia anggap seperti putranya sendiri.


Sesampainya di Jakarta. Elang mengantar Dara dan keluarganya ke rumah baru yang telah di siapkan Damian untuk ditinggali oleh mereka. Karena kelelahan Dara sampai tertidur di mobil. Elang tidak tega membangunkan Dara, akhirnya ia pun memilih menggendong Dara sampai ke kamarnya.


"Elang." Damian membuntuti Elang sampai ke kamar Dara, dia sepertinya hendak mengajak Elang berbicara berdua.


"Iya, Pah? Ada, apa?" sahut Elang selepas menyelimuti tubuh Dara yang masih terlelap.


"Saya mau bicara berdua dengan kamu, bisa?" kata Damian.


"Bisa, Pah." Elang mengangguk.


Keduanya pergi ke taman depan rumah mereka, sementara Elis sedang menidurkan Alpha.


"Ada apa, Pah?" tanya Elang yang sudah duduk di kursi taman.

__ADS_1


Damian juga duduk di sebelah Elang, terlihat pria paruh baya itu sedang menghela napas panjang.


"Dara sudah bisa menerima kamu?"


Elang menatap Damian sekilas, lalu tersenyum tipis. "Kalau menerima, sepertinya sudah. Tapi..."


"Tapi?" heran Damian, kenapa masih ada kata 'tapi'?


"Tapi sepertinya Dara belum siap untuk menerima kehadiran saya seutuhnya, Pah. Dara, sepertinya masih butuh waktu," ujar Elang.


"Dara masih meninggalkan trauma. Sepertinya, Dara masih belum sepenuhnya melupakan kejadian yang menimpanya hingga dia hamil, Pah," terang Pria berumur dua puluh enam tahun tersebut.


"Elang, kamu bilang Dara masih trauma? Kamu tahu dari mana? Apa kamu melakukan sesuatu terhadap Dara?"


Elang terkejut dan dia agak panik saat Damian mengajukan pertanyaan seperti itu. Dia tidak berpikir kalau Damian akan menganalisa kata-katanya sejauh itu. Lalu sekarang bagaimana? Apa Damian akan marah kalau tahu Elang sempat ingin mencium Dara bahkan lebih?


"Ah itu... Maksud saya-"

__ADS_1


"Pah, tolong bantu Mamah atuh, ini teh banyak banget barang yang harus di pindahin. Elang, kamu pasti capek, kasep... Duh, kamu pulang dulu istirahat yah, hatur nuhun pisan udah di bantuin yah, ganteng..." Kata Elis yang saat itu seperti sedang menyelamatkan Elang dari tekanan Damian.


"Astaga. Iya, Mah. Tapi ini Papah lagi ngobrol penting sama Elang," sahut Damian.


"Udah, nanti lagi ngobrolnya. Kasian Elang, dia juga pasti capek. Mana barusan gendong Dara," tegas Elis, Damian pin tidak bisa berkata-kata lagi.


"Huuuh..." Elang menghela napas lega.


"Ya Robbi..." gumam Damian, agak sedikit kesal. "Lang. Kamu boleh pulang. Tapi, kamu berhutang penjelasan yah. Nanti saya akan tagih penjelasan kamu, tentang apa yang kamu lakukan sampai Dara mengingat trauma nya lagi," cecarnya.


"Baik, Pah." Elang akan tetap jujur meski nantinya Damian mungkin akan kesal padanya. "Elang pamit ya, Pah."


"Iya, kamu hati-hati di jalan,"


"Elang, kamu hati-hati ya, bageur." Elis melambaikan tangan dari depan pintu rumahnya.


"Iya, Mah. Elang besok akan datang lagi," kata Elang. Dia pun masuk ke mobilnya dan pulang ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2