
Pernikahan Dara dan Elang adalah hadiah terindah dalam hidup Elis dan Damian juga untuk Rania dan Kusuma. Melihat anak mereka tersenyum, setelah melewati ujian yang rumit. Kelegaan, tentu mereka berharap kebahagiaan anak mereka dan keluarga kecilnya akan berlangsung selamanya.
Alpha adalah putra Dara dan Guntur. Walaupun Guntur sudah tidak ada di dunia ini. Sampai kapanpun fakta bahwa Alpha bukan anak Elang, melainkan keponakannya, anak dari Guntur, abang kandung Elang, tidak akan ditutupi dari Alpha ketika dia sudah bisa mengerti, nanti.
Nyatanya kasih sayang Elang sangat tulus tidak berbeda seperti kasih sayang ayah kandung kepada anaknya. Elang, adalah papa yang luar biasa bagi Alpha yang sekarang baru berumur sepuluh bulan.
Pernikahan Elang dan Dara sudah memasuki bulan ketiga, dan Elang hari ini akan membawa Alpha bersama Dara ke rumah baru mereka.
"Pa, bisa tolong gendong Alpha dulu, nggak? Aku mau mengangkat telepon."
"Oke. Sini Al sama Papa ya."
"Terima kasih, Papa." Dara menyerahkan Alpha pada Elang, kemudian dia menerima panggilan dari ponselnya.
"Iya, Pak. Saya lagi di rumah. Bulan depan saya mulai masuk kuliah kok, Pak. Baik, terima kasih."
Dara menyimpan handphonenya lalu mengambil alih Alpha lagi.
"Al bobo dulu ya. Kita bobo di rumah baru, nih," kata Dara sambil menimang putra sulungnya.
"Tadi telepon dari siapa, Sayang?"
Elang berbaring di samping Dara yang sedang mengusap-usap Al di sebelahnya agar cepat tidur.
"Dosen aku, Kak. Dia tanya kapan aku masuk kuliah. Aku kan udah lumayan lama cuti. Padahal aku baru mulai kuliah. Akhirnya aku bilang bulan depan deh aku masuk,"
"Dia laki-laki atau perempuan?"
"Siapa? Dosen aku?"
Elang mengangguk. "Iya, kok perhatian banget sampai nelpon kamu."
Dara tertawa lalu mengusap dagu suaminya yang sedang memeluknya dari belakang. "Cowok. Tapi nggak ada apa-apa juga. Emang kenapa sih? Kamu cemburu?"
"Ya cemburu lah. Apalagi dosen cowok. Masih muda?"
Jawaban Elang malah bertambah membuat Dara gemas. "Ngapain sih cemburu. Umurnya kira-kira tiga puluh lima tahun gitu deh kayaknya."
"Loh kok masih muda banget?" kata Elang sambil menautkan kedua alisnya.
"Duhhh... lucunya suami aku kalau lagi cemburu. Kenapa, sih? Dosen aku tuh udah punya istri,"
"Oh.... Syukurlah kalau dia udah punya istri. Tapi tetep ya, kamu harus jaga jarak. Lagian dia juga seharusnya nggak perlu sih sampai telpon kamu. Ngapain coba," decak Elang.
"Iya sayang... Aku nggak akan terlalu dekat. Lagi pula aku hanya menanggapi karena itu urusan kuliah, kok. Semua juga sudah tahu kalau aku udah menikah dan punya anak. Aku nggak pernah sama sekali menyembunyikan identitas ku," terang Dara.
Elang mengecup telinga Dara lembut lalu menyentuh puncak kepala Alpha yang ada di sebelah Dara. "Al udah bobo belum?"
"Hm, ini baru bobo. Duh, kamu jangan niup-niup telingaku dong, Kak. Geli banget,"
"Masa sih?"
Elang malah sengaja memberikan kecupan beberapa kali di bagian yang paling dia senangi.
"Aku suka cium kamu di sini, soalnya lembut, enak digigit." Elang menggigit pelan daun telinga Dara, dan itu berhasil membuat tubuh Dara merinding.
"Euh... Udah ah, nanti Al bangun," kesal Dara bercampur malu. "Sengaja ya. Pengen goda aku."
"Al udah tidur. Cepet pindahin ke tempat bobonya."
__ADS_1
"Sayang, tapi Al siapa tahu belum pules." Padahal Dara hanya berusaha menguji kesabaran Elang.
"Nggak, percaya deh. Alpha tuh selalu pengertian. Dia kalau udah tidur pules sampai pagi. Namanya juga anak Elang, dia pasti dukung Papanya dong." Elang masih terus merayu dan itu membuat Dara merasa lucu.
"Nggak ah. Aku kayaknya lagi mau libur deh malam ini." Dara kembali meledek Elang.
"Kok gitu sih? Kamu udah nggak sayang aku ya? Kasian Al, dia sedih loh kalau papanya sedih."
Elang malah membawa-bawa Al dalam urusan merayu istrinya. "Dasar kamu nih ya. Bisa aja. Ya udah aku pindahin Al dulu. Tapi, setelah itu aku harus ganti baju."
"Ganti baju?"
"Iya. Kemarin aku belanja sama mama gitu, sekalian sama mamah juga. Terus aku dibeliin banyak baju tidur. Aku mau coba pakai malam ini, tapi malu."
"Kok malu?"
"Hm, soalnya terbuka banget."
"Wahhh... Ya udah kamu ganti ya. Nanti aku bantu kasih penilaian." Elang terlihat antusias.
"Dih pasti kamu sengaja, kan. Pikiran kamu nih, ya. Mesum banget sih."
"Mesumnya kan cuma sama kamu, sayang..." Elang menggelayuti Dara dengan manjanya. Sudah biasa, Elang memang selalu begitu jika hanya berdua bersama Dara saja. Elang tidak pernah menunjukkan kemesraan di depan orang lain, hanya ketika berdua, di dalam kamar, dan tidak ada yang tahu bahwa sosok Elang yang cuek dan dianggap dingin sebagian orang merupakan pria yang sangat romantis dan manis di hadapan wanita tercintanya, Adara Virginia.
"Udah ih, kamu sengaja malah mancing-mancing aku nih. Al udah tidur di tempat tidurnya. Sekarang aku ganti baju dulu ya, kamu tunggu di sini."
"Oke sayang, jangan lama-lama ya." Elang masih enggan melepaskan pelukannya pada Dara.
"Lepasin dulu dong sayang. Aku susah mau jalan."
"Iya iya." Meski enggan, akhirnya Elang melepaskan pelukannya pada istrinya.
Dara membuka lemari lalu mengambil satu potong pakaian tidur (Lingerie) yang dihadiahi Rania, mama mertuanya untuknya. Katanya sih itu sangat cocok dipakai Dara. Warnanya hitam, pasti sangat manis ketika berpadu dengan kulit Dara yang putih. Namanya juga Lingerie, sudah pasti dong, pakaian itu seksi. Tapi tidak masalah, toh dipakai hanya ketika di depan suami.
"Jujur sih, ini beneran terbuka banget. Lebih mirip nggak pakai baju. Tapi, kalau nggak dipakai nanti Kak Elang ngira aku nggak mau pakai itu di depan dia. Cuma kok, aku ngerasa agak malu ya." Dara masih menimbang-nimbang, apakah akan memakai lingerie itu atau tidak.
"Tapi ini kan di depan suamiku sendiri. Pakai aja deh, dapat pahala nyenengin suami." Dara ingat kata-kata mamahnya saat menemani dia dan mertuanya berbelanja.
Akhirnya Dara memutuskan untuk memakai black lingerie yang super seksi itu.
"Dara kok lama ya." Elang masih berbaring sambil sesekali melongok ke tempat tidur Alpha. Dia bahagia sekali karena Alpha tumbuh dengan sangat baik dan juga pintar. Elang bahkan tidak menganggap Al keponakannya, atau anak tirinya. Elang menganggap Al adalah anak kandungnya sendiri.
"Sayang."
Itu adalah suara Dara yang memanggil namanya. Terdengar gugup, Elang bisa mendengar kegugupan itu. Lalu dia berbalik dan terkejut melebarkan mata melihat penampilan Dara dengan black lingerie ditubuhnya.
"Wow!!"
Dara malah semakin malu, dia langsung menarik selimut menutupi tubuhnya. "Udah ih jangan gitu liatnya, aku kan jadi makin malu."
Wajahnya pasti sudah benar-benar memerah saking malunya.
"Aku terpukau, gimana enggak, bajunya cocok banget, jangan ditutupin." Elang menyingkirkan tangan Dara perlahan kemudian mengecupnya. "Aku suka liatnya."
Entah bagaimana warna wajahnya sekarang. Yang jelas Dara sudah kepalang basah memakainya dan tidak mungkin menggantinya. Akhirnya dia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu membiarkan Elang melihatnya.
"Ini Mama yang pilih?" tanya Elang sambil menyentuh tali tipis yang ada di bahu istrinya.
Selain transparan dan banyak lubang di pakaian itu, bahan yang digunakan juga sangat halus. Intinya itu hanya bisa dipakai di depan Elang, bahkan didepan Elang saja Dara masih merasa malu.
__ADS_1
"Iya. Kata Mama ini cocok buatku. Aku kalau diingat nggak pernah pakai baju kayak gini selama menikah dengan kamu."
Elang tersenyum sembari mengecup bahu Dara. Jarinya memainkan tali pelan, lalu menurunkannya.
"Kamu cantik memakai pakaian apa aja. Tapi, aku paling suka kamu nggak pakai apa-apa," bisiknya. Belum dimulai, tapi Elang sudah mencecap ceruk lehernya hingga Dara mengerang pelan.
"Kamu nih, masa aku nggak pakai apa-apa." Dara tahu apa maksud Elang, tapi dia mencoba menyembunyikan kegugupannya. Ini bukan malam pertama mereka, tapi ritual sebelum bercinta tetap saja membuat jantung Dara berdegup kencang seperti gadis yang sedang jatuh cinta pertama kalinya.
"Serius, aku lebih suka kamu nggak pakai apa-apa. Tapi, pakai kayak gini juga hot sih. Kalau gitu besok kamu harus beli lebih banyak lagi, gimana?"
Apakah itu sebuah permintaan ataukah sebuah penawaran?
"Uh, beli lagi? Jadi, suamiku mau aku borong lingerie?"
Elang mengangguk sembari menjejaki setiap jengkal tubuh Dara dengan ciuman menggoda.
"Ya, beli yang banyak."
Dara tertawa pelan, lalu mengusap perlahan dada bidang suaminya. Jarinya membuka satu persatu kancing baju Elang. Ada sebuah alasan kenapa Elang selalu mengenakan piyama saat tidur.
"Aku suka momen dimana kamu buka kancing baju aku." Elang meraih kedua pipi Dara, lalu memberikan ciuman dibibir.
Dara tersenyum menerima ciuman itu dan masih meneruskan kegiatannya membuka kancing baju Elang sampai habis dan baju itu sudah terlepas dari tubuh suaminya.
"Kalau aku suka apapun yang kamu lakukan, suka semuanya." Dara menjawabnya dengan suara sangat pelan selepas pagutan keduanya.
"Aku mau kasih Al adik, gimana menurut kamu?"
Mendadak, padahal Dara belum kepikiran untuk itu. Meski tidak menunda, tapi juga dia tidak kepikiran mempercepat. Hanya saja, Dara agak kaget, apakah Elang benar-benar ingin dia segera hamil?
"Kamu udah mau punya anak?" tanya Dara.
"Hem, aku pengen punya anak, lucu kan, biar Al ada temennya."
Dara terdiam. Dia seharusnya tidak keberatan, bukan? Sewajarnya Elang ingin memiliki anak.
"Tapi kalau kamu belum siap, aku nggak masalah. Kita udah punya Alpha." Elang tersenyum mengusap pipi Dara, lalu mempertemukan keningnya.
"Aku siap aja kok, semua tergantung rezeki dari Allah, iya, kan?"
"Jadi, kamu mau kalau kita program untuk adiknya Alpha?"
"Hm, boleh, semoga aja Allah kasih kita kepercayaan, ya." Dara mengangguk. Elang terlihat sumringah, dia sangat senang mendengarnya.
"Kalau gitu, kita harus kerja keras. Malam ini, aku nggak akan biarkan kamu minta ampun. Gimana?"
Dara tersentak. "Ihhh ngancem nih."
"Biar cepet jadi," kata Elang sambil melucuti pakaian Dara.
Benar juga, akhirnya pakai apapun tetap saja semuanya akan dilepas sampai dia polos.
"Terserah suamiku aja, aku menolak pun emangnya kamu dengerin kalau udah begini?"
"Enggak." Elang menyengir tanpa membuang waktu langsung membaringkan Dara. Malam panjang pun terjadi.
..._________...
...Ini Bonus :) ...
__ADS_1
...
...