Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
61 - Lamaran : Apa Kamu Mau Menolak ku?


__ADS_3

"Aku akan menghapus ciuman darinya, Dara!" Elang menatap mata wanita di depannya, saat itulah Dara baru bisa diam dan tidak lagi memberontak dari Elang. "Aku akan menghapus setiap sentuhan yang diberikan si brengsek itu. Kamu jangan sedih, ada aku."


Masih dengan air mata berlinang. Dara akhirnya mulai melemah. Saat itulah Elang mulai mencium bibir Dara, perlahan-lahan meski dalam dirinya ada emosi yang luar biasa saat mengingat Rahardian telah menyentuh wanita yang amat dicintainya itu.


Dara gemetar menerima ciuman Elang. Tubuhnya lemas, tapi ada kehangatan yang diberikan Elang, juga kelembutan yang memberinya ketenangan lewat ciuman tersebut.


"Jangan takut, ada aku." Elang tersenyum sambil mengelus pipi wanita yang masih tertegun menatapnya. "Kamu akan selalu aku lindungi. Maaf, karena aku datang terlambat."


"Aku takut, Kak. Aku sangat ketakutan." Dara memeluk Elang sambil menangis terisak. "Aku takut, kenapa Kakak datang sangat lama, aku ketakutan setengah mati, Kak."


"Maaf, aku salah, Dara." Elang sangat menyesal, dia mengutuk kelambanannya sendiri.


"Aku lemas, kak."


"Aku akan gendong kamu, kita pulang, ya. Kamu harus istirahat."


"Aku nggak mau jauh dari kamu, Kak."


Keduanya saling menatap satu sama lain.


"Kalau begitu, kita harus menikah. Kamu mau, kan?"


Memang ini bukan saat yang tepat, momentumnya juga tidak layak disebut lamaran. Tapi, Elang merasa harus mengatakannya.


"Kamu mau nikahin aku?"

__ADS_1


"Iya, karena aku cuma mau menikahi kamu, Dara. Tanpa kamu, tidak akan ada yang namanya pernikahan buatku."


Elang menggendong tubuh Dara, lalu dia berjalan menuju mobil. Dara masih terdiam menatap mata Elang yang menghadap lurus ke depan.


"Kak..."


Elang berhenti, lalu menurunkan Dara tepat di depan mobilnya.


"Kenapa? Apa kamu mau menolakku?" ucap Elang.


Dara menjinjitkan kakinya, lalu meraih kerah baju Elang, ia menempelkan bibirnya ke bibir pria yang selama ini sangat baik, terlalu baik dan tidak ada yang lebih baik darinya. Mantan suaminya, yang akan selalu ada dihatinya.


"Aku cinta kamu, aku mau menikah dengan kamu."


"Kamu serius?" Elang masih terpaku menerima ciuman sekaligus jawaban dari Dara.


"Aku nggak mau kehilangan kamu." Dara mengangguk kemudian memeluk Elang dengan dada yang bergemuruh, jantung yang berdegup kencang dan tubuh yang melemah hingga akhirnya hanya tersisa bayangan gelap, semuanya gelap.


Takdir selalu menjadi rahasia. Apa yang terjadi dalam hidup ini hanya Tuhan yang mengaturnya. Mulai dari kapan, dimana, dan bagaimana itu di alami manusia, hingga menjadi sebuah peristiwa.


Bertemu dengan Guntur membuat Dara mengerti, bahwa cinta itu ada. Walaupun Guntur akhirnya pergi meninggalkan Dara, tapi jika tidak ada Guntur, tentu Dara tidak akan bertemu dengan Elang seperti sekarang.


Perlahan Dara membuka mata, lalu sayup-sayup dia mendengar suara tangisan yang tidak asing ditelinga nya. "Mamah..."


"Neng? Kamu udah bangun?"

__ADS_1


"Dara ada di mana, Mah?"


"Kamu di rumah sakit, Neng. Jangan bangun dulu, kamu masih lemah," kata Elis sambil memegangi tubuh putrinya.


"Kenapa Dara bisa ada di rumah sakit, Mah?"


Dara mengingat lagi apa yang telah terjadi padanya. Lalu dia histeris ketika baru ingat kejadian penyekapan yang dia alami. Dara menangis sambil menutupi wajahnya, hal itu membuat Elis ikut cemas langsung memeluk erat tubuh putrinya.


"Neng, tenang ya. Elang udah cerita semuanya, sekarang udah berakhir. Orang jahat itu udah ditangkap, kamu jangan cemas ya."


Benar juga. Rahardian sudah ditangkap oleh pihak kepolisian. Elang, dia yang sudah menyelamatkan hidup Dara. Saat itu Dara langsung teringat bahwa dia sudah memutuskan untuk menerima lamaran Elang yang ingin mempersuntingnya.


"Kak Elang mana, Mah? Dara mau ketemu," ucap Dara perlahan duduk meski tubuhnya masih terasa lemah.


"Pelan-pelan, ya. Elang lagi mengurus administrasi. Alpha di rumah dengan Papah, Nak. Kata dokter kamu boleh pulang besok," jawab Elis.


"Alpha baik-baik saja kan, Mah?"


Elis mengangguk. "Alpha baik-baik aja, kok. Tadinya Papah kamu yang mau nemenin kamu di rumah sakit. Tapi, Mamah pikir lebih baik Mamah yang nemenin. Lagi pula Alpha juga akrab banget sama Opanya."


Rasa syukur tak terkira dirasakan Dara saat ini. Saat kejadian buruk menimpanya, yang dipikirkan adalah nasib anak dan orang-orang tersayang yang ada di dekatnya. Dara sempat pasrah, saat Rahardian hendak berbuat keji padanya. Mungkin memang nasibnya buruk, dia merasa hina dengan dirinya sendiri. Tapi semua berubah saat Elang menyelamatkan dirinya, membuat dia percaya bahwa Tuhan itu Maha Adil.


..._________...


...Maaf ya kalau ada alur tentang kejahatan. Bukannya apa-apa, ini kan memang awalnya ada cerita tentang geng motor jadi aku sengaja selipin di ******* cerita. Maaf juga karena banyak penderitaan yang Dara hadapi 😂 kan ini udah jadi alurnya emang agak nyesek sih nasip si Dara ini. Tapi, semoga sekarang kalian lega, ya....

__ADS_1


__ADS_2