
Ketakutan dan trauma Dara kembali muncul. Sekujur tubuhnya kaku, seolah beku seperti es. Pria itu tidak melepaskan ciumannya malah berpindah ke lehernya, dengan berbagai sentuhan yang makin membuat Dara jijik, dia merinding dan gemetaran tapi tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk melepaskan diri.
Air mata Dara sudah membanjiri wajahnya. Bayangan Elang terus ada di benaknya, satu-satunya orang yang dia harapkan akan menolongnya. Apalah Elang tidak akan datang?
"Buka! Brengsek buka pintunya!"
Itu suara Elang, tidak salah lagi, itu memang suara Elang.
"Buka pintunya atau gue dobrak!"
Suara dobrakan pintu akhirnya membuat Rahardian melepaskan ciumannya pada Dara.
"Bangsat! Apa yang lo lakukan ke cewek gue!" Elang benar-benar geram. Dara sangat berantakan dan dia kelihatan amat shock.
"Wow rupanya ada pahlawan kesiangan. Siapa lo! Mau apa ganggu gue!"
Elang sudah sangat emosional melihat tingkah Rahardian. Apa maksud lelaki itu pura-pura tidak mengenalnya?
"Lo nggak usah banyak bacot bangsat!"
Pukulan mendarat keras di wajah Rahardian. "Gue orang yang akan bunuh lo dengan tangan gue sendiri!"
__ADS_1
Rahardian malah tertawa sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
"Hahaha lo itu sama brengseknya dengan Abang lo, ya. Bunuh gue kalau lo bisa!"
Elang tidak segan lagi, dia terus memukul Rahardian sampai lelaki itu terkapar di depan Dara yang memucat, melihatnya saja membuat Elang ketakutan, apa yang terjadi pada Dara? Dia hanya diam, persis seperti manekin, tidak bergerak sama sekali.
"Dara? Kamu kenapa?" Elang hendak mendekati Dara, tapi Rahardian bangkit dan berhasil menariknya lalu meninjunya tepat di perut.
"Minggir lo brengsek!" Elang meringis tapi dia tidak bergeming melayangkan pukulan yang lebih kencang ke Rahardian. Hingga akhirnya sirine polisi terdengar.
Ya. Elang menghubungi pihak kepolisian saat merasa ada yang janggal dengan mobil yang membawa Dara itu. Polisi pun datang tepat waktu untuk meringkus Rahardian, pria psikopat yang menjadi incaran polisi karena terbukti melakukan serentetan tindak kejahatan dengan geng motornya.
"Bawa dia, Pak! Saya mau dia mendekam selamanya di penjara!" teriak Elang dengan rahang mengeras meluapkan emosi.
"Lepaskan!" Rahardian memberontak.
"Anda berhak untuk diam!" Polisi membawa Rahardian meninggalkan Elang bersama Dara.
Elang langsung memeluk Dara yang begitu shock. Tapi, Dara malah memberontak. "Pergi." Suara Dara begitu datar, dan dia sangatlah pucat. "Pergi dari sini."
"Sayang, ini aku." Elang melepaskan ikatan Dara, lalu memeluk tubuh wanita itu lagi.
__ADS_1
Dara seperti bukan dirinya. Dia mencengkeram erat bahu Elang lalu mendorongnya menjauh. "Aku bilang pergi!"
"Dara aku Elang. Kamu lihat, ini aku Elang."
"Pergi aku ini kotor!" Dara gemetaran sambil menyentuh bibirnya yang basah dipenuhi air liur Rahardian tadi. "Aku menjijikkan!"
"Enggak, Dara. Please, kamu jangan gini. Astaga jangan-jangan traumanya?"
Dara mengusap kuat bibirnya, berusaha menghilangkan bekas ciuman Rahardian. Dia berlari mencari air, lalu dia menemukan wastafel.
"Dara!" Elang mengejar Dara. Gadis itu terhuyung-huyung berjalan menuju wastafel bahkan merangkak saking lemasnya.
"Aku jijik!" Dara menyalakan keran lalu membasuh bibirnya dan juga wajahnya dengan gemetar. "Jijik!"
Meski geram dan sangat marah mendengar apa yang dilakukan Rahardian pada wanitanya. Elang berusaha untuk tetap tenang agar Dara juga bisa tenang.
"Kamu tidak menjijikkan. Dia yang menjijikan dan aku pastikan dia akan mendapatkan balasannya, Dara."
Namun Dara menggeleng. "Aku tetap saja kotor! Lihat ini, bibir ini tadi dicium paksa olehnya, Kak!"
"Aku akan menghapus ciuman darinya, Dara!" Elang menatap mata wanita di depannya, saat itulah Dara baru bisa diam dan tidak lagi memberontak dari Elang. "Aku akan menghapus setiap sentuhan yang diberikan si brengsek itu. Kamu jangan sedih, ada aku."
__ADS_1