
"Kamu lupa, aku cuma minta hari ini aja kamu dengerin aku, Dara."
Sambil menghela napas panjang, Dara akhirnya duduk kembali. "Baiklah, tapi aku nggak mau kamu mengatakan hal seperti tadi."
"Kenapa Dara?"
Dara menatap Elang sekilas. "Tentu karena semua ucapan kamu salah, Kak."
"Apa kamu yakin?"
Dara terdiam.
"Dara, apa aku salah jika aku menyukai kamu? Apa aku nggak boleh jika aku mencintai kamu?"
Kata-kata Elang malah makin membuat Dara semakin teriris dan sedih. "Enggak. Kamu nggak salah, hanya tidak seharusnya kamu menyukai aku, Kak."
"Kenapa? Apa ada larangan?"
Dara akhirnya menatap lekat kedua mata Elang. "Apa bagusnya aku, Kak? Kenapa kamu menyukai aku? Aku ini kotor, aku juga nggak punya masa depan. Nggak ada yang bisa kamu banggakan dari aku, buat apa, Kak? Kamu bisa dapat wanita lain yang jauh lebih baik dari aku," tuturnya.
__ADS_1
Elang mengapit kedua pipi Dara lalu membiarkan Dara tetap menatap matanya lebih dalam lagi. "Kamu lihat aku? Apa kamu kira aku menilai kamu seperti itu? Dara, itu hanya perasaan kamu sendiri. Aku selalu anggap kamu spesial buatku. Perasaan ini datang begitu aja, tanpa aku rencanakan, bukankah ini tandanya takdir?"
Air mata Dara mengaliri pipinya. Apa yang harus dia katakan sekarang, mata Elang menatapnya begitu dalam hingga dia tidak dapat berkutik di posisinya.
"Dara, aku cinta kamu. Aku juga sayang dengan Alpha, aku mau memulai semuanya dengan kamu dan Alpha. Kumohon Dara, berhenti menganggap diri kamu rendah, aku sama sekali tidak berpikir seperti itu."
Dara melepaskan tangan Elang dari pipinya, lalu dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis. "Cukup, Kak."
Elang menggertakkan giginya. Setiap kali melihat Dara menangis, dia rasanya ingin sekali memeluk Dara, membuat wanita itu menghentikan air matanya. "Dara, apa aku selalu bikin kamu sedih?"
Dara hanya terus menangis sehingga membuat Elang merasa itu karena dirinya. "Baiklah, Dara. Kalau memang kamu nggak mau aku berada di dekat kamu. Aku akan pergi seperti yang kamu mau, asalkan kamu jangan nangis dan sedih," ucapnya.
"Kak.." Dara menyentuh telapak tangan Elang lalu menatap mata Elang dengan mata yang basah.
"Kak, maafin aku."
"Bukan salah kamu, anggap aja ini terakhir kita berbicara. Aku udah janji, kalau kamu nggak berubah pikiran, aku akan jauhin kamu."
"Tapi, aku juga cinta Kakak..."
__ADS_1
"Aku cinta Kakak..."
Elang masih berdiri di posisinya, tepat membelakangi Dara. Apa yang barusan ia dengar itu, mungkinkah hanya ilusi? Dia hanya tersenyum getir, separah itukah khayalannya dapat diterima oleh wanita yang sudah merebut seluruh hatinya itu?
"Aku akan antar kamu pulang, Dara."
Wanita yang barusan mengungkapkan perasaannya itu langsung terkejut mendengar ucapan Elang. Apakah dia tidak mendengar kata-katanya barusan?
"Kak? Apa kamu nggak dengar kata-kata aku?" tanya Dara.
Elang akhirnya berbalik. "Emang kamu ngomong apa? Kamu nggak mau aku terus mengejar kamu? Baik, aku udah janji kan."
"Bukan, Kak. Jadi, Kakak benar nggak dengar?"
Sekarang malah Elang yang mendadak linglung. "Maaf, emangnya kamu ngomong apa?"
"Apa aku udah nggak berarti buat Kakak? Sampai kamu nggak dengar kata-kata aku barusan?"
"Hah? Maaf Dara, tadi aku dengar kamu bilang cinta aku. Tapi, aku yakin itu cuma ilusi."
__ADS_1
"Oh ya sudah kalau menurut Kakak itu cuma ilusi, aku pun nggak masalah. Sekarang aku akan pulang, Kakak nggak perlu antar."
"Astaga. Dara? Tunggu!"