
^^^Itu kan Elang? Dia datang sama cewek? Nggak salah lihat? ^^^
Kurang lebih itu yang di dengar Elang saat ia menggandeng Dara masuk ke sebuah gedung hotel berbintang. Tempat reuni alumni kampusnya. Senyuman miring tersungging di bibir Elang, sembari merapikan jasnya dengan berjalan lurus menatap angkuh sekelilingnya.
Dara gugup. Tapi dia hanya melakukan yang terbaik untuk membantu Elang.
"Kakak butuh bantuan Dara?"
"Iya. Saya mau kamu jadi tunangan saya."
"Hah?" Dara terkejut. "Tu-tunangan-"
Elang mengangguk. "Saya ada acara reuni teman kampus. Kamu cukup berperan sebagai tunangan saya. Bisa, kan?"
Rupanya hanya sebuah peran. Tentu itu bukan sungguhan, sejenak Dara berpikir Elang serius. Bodohnya, padahal tidak mungkin.
"Ah jadi pura-pura gitu?" tanya Dara memastikan lagi.
"Iya. Tapi kalau saya nikahin kamu nanti bukan pura-pura. Itu sungguhan, mana ada nikah bohongan." Elang menanggapinya santai. Sedang Dara yang mendengarnya langsung tersentak, agak berdebar.
Elang menatap Dara intens. Saat itu Dara melihat sorot mata Elang dengan sangat jelas untuk pertama kalinya. Elang memiliki kelopak mata monolid di satu mata dan kelopak mata ganda di mata yang lain. Dua bola mata bening menatap lurus ke arahnya, jantungnya berdebar tatkala dia menyadari bahwa pria di depannya memiliki mata yang begitu indah dan langka.
"Ekhem. Jangan melihat saya seperti itu," tegur Elang membuat Dara menjengkit refleks.
"Ah Maaf, Kak." Dara segera mengalihkan pandangannya.
"Jadi, kamu bisa 'kan bantu saya? " tanya Elang lagi. Dia agak menghela napas berat, sejujurnya Elang belum pernah memohon sesuatu pada orang lain.
Dara merapikan rambutnya sambil mengatur detak jantungnya yang berantakan. Dia juga tidak tahu kenapa, tapi saat berdekatan dengan Elang, dia berdebar-debar. Mungkin karena dia merasa dia tidak pantas berdekatan dengan pria sebaik itu. "Iya. Dara akan lakukan sebisa Dara, Kak."
Elang tersenyum lega. "Makasih ya."
"Iya, Kak. Sama-sama."
"Elang?" kaget gadis berambut pirang yang belum lama ini mencibir Elang. Dia, menjadi incaran Elang yang sengaja datang membawa serta Dara sebagai tunangan. "Saya akan bikin kamu bungkam!" ucapnya dengan senyum sarkastik. Dara melihat senyuman itu langsung membulatkan mata. Saat tersenyum jahat pun, Elang tetap saja terlihat baik.
"Elang, kamu datang? Ini?" Giska menatap gadis yang berdiri di samping Elang, gadis itu terus menggandeng tangan Elang dengan senyuman terukir lembut di bibirnya.
"Seperti yang saya bilang. Tunangan saya. Sayang, kenalin ini Giska, ratu gibah." Elang mencibir penuh kebanggaan karena berhasil membuktikan ucapannya. Meski hanya settingan.
__ADS_1
Giska tertawa remeh sambil mengibaskan rambut. "Jadi kamu bener udah tunangan? Wah wah, berati aku salah dong."
Elang mengangkat sebelah alisnya. "Jangan sok tahu jadi orang. Saya tidak pernah bawa cewek karena saya tahu, cewek mana yang pantas buat saya. Dan mana yang ENGGAK."
Giska tersentak dan memaku di posisinya berdiri sekarang.
"Sayang. Kita ke sana," ajak Elang sambil mengusap pipi Dara lembut. Sepasang mata Dara membulat dengan pupil yang turut melebar.
Elang tersenyum lalu mengecup punggung tangan Dara.
Saat itu ia menyadari bahwa detak jantungnya lebih cepat dari normal dan tangannya banyak berkeringat. Bukan Cuma karena gugup, tapi itu sebenarnya merupakan efek dari stimulasi adrenalin dan noradenalin dalam tubuh Dara. Secepatnya Dara menyadarkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah sebuah peran yang harus dia mainkan dengan sebaik mungkin.
"Iya, Sayang." Anggukan dan sapaan sayang dari Dara, rupanya berhasil membuat Elang juga tersentak. Keduanya melempar pandangan beberapa detik sebelum akhirnya pergi meninggalkan Giska yang berhasil Elang permalukan di depan teman-temannya.
"Minum dulu." Elang memberikan segelas minuman kepada Dara.
"Makasih, Kak." Dara langsung meneguk habis minuman tersebut. Rasa gugupnya membuat ia kehausan. Elang terkekeh melihatnya.
"Haus?"
Dara mengusap bibirnya sambil menatap Elang sekilas. "Gugup." Napasnya masih terengah-engah, dia takut aktingnya tadi tidak cukup baik.
Setelah selesai acara tersebut. Elang mengantar Dara kembali ke kostnya. Di dalam mobil Dara terus menatap ke arah jendela. Lampu-lampu kota bersinar terang membuat kilauan mata Dara semakin terlihat jelas, bahwa ia sedang menangis.
"Kenapa?" tegur Elang saat melihat pantulan wajah Dara di kaca mobil. Ada air mata yang meleleh sebentar lagi.
Dara segera menyeka air matanya lalu menoleh ke arah Elang dengan senyum kecil. "Nggak apa-apa, Kak."
"Mikirin Guntur?" tebak Elang. Siapa lagi kalau bukan Guntur, pikirnya.
"Bukan, Kak." Dara menggelengkan kepala. Lalu siapa?
"Terus mikirin siapa? Sampai sedih gitu."
Sorot mata Dara menggambarkan jelas bahwa itu adalah tatapan kesedihan. Elang tidak tahu apakah dia perlu tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan di sampingnya. Tapi, dia hanya merasa sedikit- Peduli.
"Semalam Mamah menelpon Dara. Mamah bilang kangen Dara, pengen Dara pulang."
"Terus? Kenapa kamu nggak pulang aja dulu. Wajar kan, kalau orang tua kangen sama anaknya."
Sejenak Elang terhenyak dengan kenyataan pada dirinya. Mana pernah orang tuanya mengungkap rindu padanya, bertemu saja jarang meski mereka berada di satu atap.
__ADS_1
"Dara takut...,"
"Takut?"
"Takut Mamah marah."
"Emangnya kamu sudah kasih tau ibu kamu kalau kamu hamil?" sahut Elang.
"Enggak. Tapi, pasti Mamah tahu."
"Kenapa bisa tahu? Kamu kan nggak bilang."
"Mamah seorang bidan, Kak."
Elang terdiam. Jadi karena itu Dara merasa takut. Takut kehamilannya diketahui oleh ibunya. Ini semua perbuatan Guntur, bagaimana bisa Elang melepas tanggung jawab abangnya begitu saja. Perempuan muda di sebelahnya sudah cukup menderita, ini tidak adil buat Dara, pikirnya.
"Kalau gitu jujur aja."
"Hah?" kaget Dara. "Ju-jujur?"
"Iya. Kamu bilang kamu hamil. Anak saya. Dan saya yang tanggung jawab," kata Elang, tanpa beban sedikitpun mengutarakan itu. Meski dia tahu nantinya tidak akan sesederhana itu. Belum lagi kalau ibu Dara marah dan memakinya karena sudah menghamili putrinya.
"Nggak mungkin, Kak. Ini bukan kesalahan Kakak. Dara bantu Kakak tadi, karena Kakak baik sama Dara. Bukan berarti Dara menerima tawaran Kakak untuk menikahi aku."
Elang mengusap wajahnya frustrasi. Ya, dia selalu bingung dengan sikap Dara. Kenapa perempuan itu sangat keras kepala? "Please, Dara. Kamu jangan bikin urusan bertambah rumit dan sulit. Saya yang mau, bukan karena kamu yang minta. Ini kemauan saya. Intinya kamu terima beres sama, bisa?"
Dara menggeleng. "Nggak adil buat kamu, Kak." Bagaimana bisa Elang sebegitu santainya. Ini bahkan membuat Dara gemetaran sekarang.
"Keadaan ini semuanya nggak adil kalau kamu terus meratap. Tapi apa yang udah terjadi semuanya udah takdir yang di atas. Kamu sekarang tetep harus lanjutin hidup. Jangan bikin semuanya makin berantakan. Saya bantu kamu menyusun hidup kamu lagi, supaya lebih rapi. Anggap ini permintaan maaf dari Guntur, saya yang mewakili."
Bagaimana bisa Elang berkata demikian dengan sangat bijak. Sementara Dara merasa tidak mungkin ada yang mau menggantikan posisi Guntur, jika bukan Elang. Elang sangat berbeda dengan pria kebanyakan. Dara terisak, ia merasa Elang terlalu baik padanya. Apa dia pantas?
"Jangan terlalu banyak berpikir. Apalagi pikiran konyol buat bunuh bayi nggak berdosa. Jaga dia, dia bukan anak haram. Yang haram itu perbuatan Guntur, bukan kesalahan kamu juga, kan. Dia punya hak buat hidup, kamu ingat itu."
Dara tetap saja menangis meski Elang berkata jangan. Tak pernah sekali pun dia membayangkan akan mengalami hal seperti ini. Hamil oleh lelaki yang dia cintai, tapi belum menikah. Lalu lelaki yang dia cintai itu malah koma di rumah sakit. Adik dari kekasihnya, bak pahlawan berhati malaikat mau bertanggung jawab. Ini seperti tidak nyata, bagi Dara.
"Saya yakin Guntur nitipin kamu ke saya, karena dia cinta sama kamu, Dara."
...______...
^^^update 01/01/2022^^^
__ADS_1