Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
17 - Flashback : Terima Kasih Kak Guntur


__ADS_3

Dara menyambut uluran tangan pria yang katanya bernama Guntur. Dara terus mengingat nama itu, nama lelaki yang berjasa menyelamatkannya dari orang jahat tadi. Kalau tidak ada Guntur, mungkin saja Dara sudah tamat.


"Makasih banyak ya, Kak Guntur."


Guntur tersenyum lalu mengangguk. "Sama-sama. Rumah lu dimana?"


"Rumah Dara di seberang sana," jawab Dara sambil menunjuk jalan di persimpangan yang ada di depan mereka.


"Bahaya cewek kayak lu jalan sendirian. Biar gue anterin ya?" tawar Guntur.


Dara meragu. Sebelumnya dia tidak pernah diantar oleh lelaki. Apalagi Guntur terlihat sudah lebih dewasa darinya. "Tapi, Kak. Nanti ngerepotin," sahutnya tidak enak jika langsung menolak.


"Nggak repot kok. Lagian gue takut aja nanti lu di ganggu kayak tadi. Nggak ada maksud lain, kok."


Guntur sangat ramah, padahal penampilannya lebih mirip bad boy tapi ternyata dia itu sepertinya good boy, batin Dara.


"Hm, kalau gitu makasih sekali lagi ya, Kak." Dara pun mengangguk.


Guntur tersenyum lagi. Dara terkejut setiap kali melihat senyuman Guntur yang sangat menawan.


"Naik deh," ajak Guntur sambil mempersilahkan Dara duduk di bangku belakang motornya.


Dara akhirnya naik ke atas jok motor Guntur lalu berpegangan ragu ke sisi roknya. Mana mungkin dia berpegangan kepada Guntur, kan?


"Pegangan. Nanti jatuh loh." Guntur mengatakannya santai. Sedangkan Dara sangat gugup.


"Eh, nggak usah, Kak." Dara tentu saja malu.

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Cuma pegangan kok. Daripada jatuh, gue nggak ada niat makan lu." Guntur terkekeh pelan.


Dara ragu-ragu mengarahkan dua telapak tangannya untuk berpegangan ke pinggang Guntur, lelaki yang baru aja dikenalnya itu.


"Gini loh, Dara." Guntur menarik tangan Dara lalu memposisikan tepat di pinggangnya. "Nah gini, pegangan yang kenceng."


Dara bertambah gugup dan berdebar. Guntur menyalakan mesin motornya lalu melaju dengan kecepatan tinggi sampai-sampai Dara reflek menempel pada punggung kokoh Guntur, seolah sedang memeluk. "Maaf, Kak. Bisa pelan-pelan?"


Suara motor membuat Guntur tidak mendengar jelas suara Dara. "Hah? Lu ngomong apa?" kata Guntur.


Dara mendekatkan mulutnya ke telinga Guntur yang ditutupi helm. "Maaf ya Kak, Dara ngerepotin. Tapi bisa pelan-pelan, kan?"


Guntur malah tersenyum. "Lu nggak ngerepotin gue kok. Sorry ya, tadi kekencengan,"


...****...


"Kalau nggak ada kak Guntur apa jadinya aku ya? Dia baik banget," gumam Dara yang baru saja selesai mandi lalu duduk di ruang tv.


"Neng, kunaon seserian? Hm, pasti mikirin laki-laki? Hayu ngaku ka teteh."


"Ih naon si teteh mah." Dara hanya menggeleng malu saat Nessy, kakak sepupunya yang dia panggil teh Nessy itu meledeknya.


"Kamu udah remaja, udah mau enam belas tahun, wajar atuh kalau udah suka-sukaan mah," kata Nessy sambil duduk di samping Dara. "Asalkan jangan sampai terjerumus ke pergaulan bebas ya. Teteh nggak mau, Dara."


"Enggak atuh Teh, lagipula Dara nggak dekat dengan cowok. Dara cuma merasa bersyukur tadi waktu Dara di gangguin cowok jahat, ada yang menolong Dara. Orangnya baik, namanya Guntur," terang Dara.


"Astaghfirullah. Jadi kamu di gangguin cowok brengsek? Terus Guntur itu siapa?" kaget Nessy. "Kamu ih bikin teteh takut. Hati-hati kalau kamu sendirian mending telpon teteh biar di jemput," kata Nessy yang merasa di titipkan Dara oleh kedua paman dan bibinya.

__ADS_1


"Dara nggak apa-apa kok, Teh. Guntur itu cowok yang nggak sengaja lewat terus nolongin Dara."


"Kamu nggak kenal sama dia sebelumnya?" tanya Nessy.


Dara menggeleng. "Enggak. Kan baru ketemu, kebetulan. Untung aja Guntur datang, kalau nggak mah Dara juga nggak tahu Teh, apa yang bakalan terjadi sama Dara," jawabnya.


Nessy mengusap punggung tangan adik sepupunya sambil menatap matanya. "Teteh cemas sama kamu. Maafin Teteh ya kalau bisa maksimal jagain kamu, Dara. Teteh suka ngerasa bersalah, karena Teteh juga sibuk kerja."


"Bukan salah Teteh ih, lagipula Dara udah banyak merepotkan Teteh. Dara malah makasih banget," jawab Dara dengan senyum tipis.


"Syukurlah, Neng. Teteh tuh sayang banget sama kamu. Maunya kamu dapat lelaki yang pantes buat kamu, yang baik dan bisa lindungi kamu. Guntur? Menurut kamu dia itu gimana?"


Kenapa Nessy malah bertanya seperti itu?


"Ah, Kak Guntur baik, Teh." Dara bingung harus menjawab apa. Bahkan dia juga tidak tahu apakah nantinya bisa berteman dengan Guntur atau tidak. Memang sih tadi Guntur memberikan nomor handphone miliknya kepada Dara. Tapi, memulai percakapan duluan? Dara agak canggung meski itu hanya via chat saja.


"Baik apa baik? Ganteng nggak?" ledek Nessy membuat pipi Dara merona. "Ihhh pipinya merah. Fix ini mah pasti yang namanya Guntur itu ganteng."


"Teteh ih.... Ledekin Neng terus deh," balas Dara semakin malu saat Nessy terus meledeknya.


"Hahahaha... Neng geulis udah bukan anak kecil lagi yah. Tapi inget, sekolah yang rajin jangan sampai mamah dan papah kamu kecewa. Dekat dengan siapapun Teteh nggak melarang, asalkan dia baik orangnya, Neng."


Dara masih tersipu dan hanya diam tidak tahu harus menjawab apa. Intinya Guntur adalah pria yang baik, dan Dara akan mengirimkan chat kepada Guntur sebagai ucapan terima kasih. Memulai duluan? Ya, sepertinya Dara akan mengirimkan chat duluan kepada Guntur.


Malam Kak Guntur, ini Dara. Sekali lagi terima kasih ya ...


Pesan itu terkirim pada Guntur.

__ADS_1


__ADS_2