
Dara sedang duduk di taman depan rumah keluarga Kusuma. Rumah mewah nan megah itu terlihat seperti istana bagi Dara. Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa itu adalah rumah Guntur, kekasihnya. Dulu, ketika Dara mengenal Guntur, dia sama sekali tidak menyangka bahwa Guntur adalah anak orang terpandang dan kaya raya. Guntur selalu bersikap biasa, sederhana dan apa adanya karena itulah Dara mau menjalin hubungan dengan pria itu.
Tangannya mengelus permukaan perutnya dari luar pakaian. Di dalam sana ada darah dagingnya bersama dengan Guntur. Dara masih belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran anak itu di dalam kandungannya. Terutama sekarang dia bukan menikah dengan pria yang menghamilinya, melainkan adiknya.
"Maafin aku," lirih Dara masih saja merasa bersalah terhadap Elang.
"Dara? Kamu ngapain kok diluar?" tanya Elang yang baru saja pulang dari kantor.
"Kak Elang udah pulang? Dara tadi hanya cari angin," sahut Dara.
"Iya. Saya kan udah titip pesan kalau saya ke kantor cuma sebentar. Saya akan makan siang sama kamu. Maaf, karena ninggalin kamu di hari pertama kamu berada di rumah ini. Kamu pasti merasa asing ya?" tutur Elang.
Pria itu sangat baik, bahkan sampai memperhatikan perasaannya. Memang Dara merasa asing, dia juga belum terbiasa. Tapi, saat Elang berada bersamanya, dia mulai merasakan kelegaan yang entah kenapa.
"Aku udah merasa lega setelah Kakak pulang."
Elang terkejut mendengarnya. "Hah?"
"Bu-bukan apa-apa kok. Maksud aku, karena ini rumah Kakak. Jadi aku merasa lebih nyaman kalau ada Kakak di rumah ini. Aku hanya belum terbiasa," jawab Dara gugup.
"Oh gitu. Kamu santai aja. Ini juga kan rumah kamu, jangan merasa tidak enak. Yasudah, di sini banyak angin. Sebaiknya kamu masuk, kita makan siang, oke?"
"Iya, Kak."
Mereka pun masuk ke dalam rumah untuk makan siang.
"Bi. Makan siang udah siap?" tanya Elang pada salah satu pelayannya.
"Sudah Tuan," jawab pelayan itu.
"Oke. Dara, kita makan dulu ya. Kamu ada keinginan lain nggak? Misalkan kamu mau makan apa gitu?" tanya Elang.
"Enggak kok." Dara menggeleng sedangkan Elang mengangguk sambil tersenyum. "Kalau kamu mau apapun bilang aja."
Sikap Elang yang sangat baik dan perhatian itu seringkali membuat Dara berdebar-debar. Ia juga tidak mengerti entah sejak kapan dia malah merasa berbunga-bunga ketika Elang terus memperhatikannya. Dara juga merasa bahagia mendapatkan setiap perlakuan Elang yang begitu baik terhadapnya. Padahal dia tahu, sikap Elang hanyalah sebatas rasa iba kepadanya.
"Terima kasih, Kak."
Elang hanya tersenyum sambil menikmati makanan bersama Dara. Melihat Dara tersenyum juga ada sebuah kelegaan yang Elang rasakan.
"Udah tahu soal Guntur?"
Dara yang sedang mengunyah nasi mendadak menaruh sendoknya lalu mengambil air minum.
"Kak Guntur di luar negeri?" jawab Dara. Itu yang dia dengar dari pelayan di rumah tersebut.
"Iya. Dokter bilang kondisi Guntur belum juga mengalami kemajuan. Kemarin, tepat sewaktu kita menikah. Sebenarnya Guntur sempat sadar. Tapi keadaannya memburuk setelahnya," tutur Elang.
"Benarkah? Kenapa Kakak nggak kasih tau Dara? Jadi kak Guntur sempat sadar?" sahut Dara terkejut.
"Maaf. Waktu itu saya juga tahu belakangan dari orang rumah sakit. Tapi, kata dokter sebaiknya Guntur di pindahkan ke rumah sakit yang lebih canggih. Berita baiknya, ada kemungkinan Guntur akan segera siuman. Kamu senang kan?"
__ADS_1
Entahlah. Yang pasti Dara berharap Guntur baik-baik saja. Tapi sekarang dia adalah istri Elang. Apa setelah Guntur sadar, secepatnya Elang juga akan menceraikan dirinya? Kenapa Dara merasakan sedikit-sedih.
"Semoga Kak Guntur segera sadar," senyum Dara sambil menghabiskan makanannya.
Elang mengangguk meski dia merasa agak aneh dengan hatinya sekarang. Elang merasa ingin selalu melihat senyuman Dara, berada di dekat wanita itu. Perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya bahkan ketika dia berpacaran dulu.
...****...
"Astaga. Kenapa aku dari tadi mual banget sih, perutku juga nggak enak banget," ucap Dara ketika merasakan perutnya tidak nyaman. Sudah berulang kali dia bolak-balik kamar mandi hanya untuk mengeluarkan cairan liur dari mulutnya yang seolah tidak berhenti mengalir. Belum lagi perutnya terasa keram dan tidak nyaman.
Tok tok
"Masuk,"
Pintu kamar Dara terbuka, ternyata yang datang adalah Elang.
"Kak Elang."
Dara memegangi perutnya sambil meringis. "Aduh..."
"Kamu kenapa?" tanya Elang langsung mendekat ke sisi Dara.
"Enggak kok. Ini biasa, perutku nggak nyaman banget," sahut Dara.
"Nggak nyaman? Sakit?"
Dara menggeleng. "Hanya sedikit keram."
"Kamu kepengin makan sesuatu mungkin?" tanya Elang masih sambil mengelus perut Dara.
"Enggak kok, Kak." Dara menggeleng sambil menyentuh punggung tangan Elang. Saat itu Elang mendongak menatap Dara. Wanita itu juga menatap mata Elang, sehingga keduanya saling berpandangan.
Beberapa saat keduanya saling terpaku oleh tatapan masing-masing. Menyadari suasana menjadi hening membuat Elang menyingkirkan tangannya dari perut Dara.
"Emm... Apa udah nggak keram?" tanya Elang sambil menggaruk tengkuknya.
"Maaf tadi cuma sekedar pengen menghilangkan rasa keram kamu aja. Katanya sebaiknya di usap bagian perut, mungkin aja berhasil dan bikin keramnya ilang," imbuhnya.
"Ini udah lebih enakan kok," jawab Dara kikuk. Sebenarnya dia masih menginginkan tangan Elang mengelusnya. Tapi apa hak dia menginginkan hal itu?
"Syukurlah. Kalau gitu kamu istirahat deh. Kalau butuh apa-apa kamu harus kabarin saya ya," ujar Elang.
"Itu-sebenarnya..." putus Dara ragu mengatakannya atau tidak.
"Kenapa?"
Dara meneguk ludahnya sambil mengedarkan pandangan. "Bukan kok. Lupain aja, makasih Kakak udah perhatian."
Elang menaikkan dua alisnya. "Kenapa? Kamu ngomong aja."
Dara tidak enak. Dia ingin sekali mengatakannya tapi takut Elang menolak.
__ADS_1
"Dara. Kamu mau apa? Bilang aja, kalau aku bisa, aku akan lakukan,"
"Sebenarnya Dara merasa nyaman waktu Kakak mengusap perut Dara. Tapi, Dara sadar apa hak Dara meminta Kakak melakukannya," ungkap Dara meski terasa sulit lidahnya mengucap hal itu. Tapi itu adalah sebuah keinginan yang begitu saja muncul. Saat Elang mengusap perutnya tadi, dia merasakan kenyamanan.
Elang membulatkan mata. Dia tidak mengira bahwa Dara akan mengatakan hal itu. "Jadi kamu mau saya mengusap perut kamu?"
Dara mendadak ragu untuk mengangguk. Dia memilih menggeleng. "Enggak kok, lupakan aja, Kak."
Tentu saja dia tadi tidak salah dengar. Itu memang yang dikatakan Dara. "Saya mau kok mengusap perut kamu. Sekarang kamu berbaring ya. Biar saya usap perut kamu sampai kamu tidur."
Sambil mengangkat wajahnya. Dara yang tertegun mendengar ucapan Elang mendadak salah tingkah. Jadi Elang mau melakukannya?
"Tapi, Kak-"
"Udah, kamu berbaring aja. Ini pasti keinginan bayi dalam kandungan kamu. Sa ngerti sedikit sih, kebiasaan dan hal yang akan dirasakan ibu hamil," senyum Elang.
Sikap Elang sangat baik, dan sama sekali diluar dugaan Dara. Mengatakan itu saja rasanya sangat sulit, ditambah dia tidak yakin bahwa Elang mau melakukannya. Tapi ternyata Elang mau melakukan itu untuk Dara. Lebih tepatnya untuk keponakannya yang ada di dalam kandungan Dara. Ya, Dara tidak boleh lupa akan hal itu. Itu pasti demi anak di dalam kandungannya, bukan demi dirinya.
"Makasih, Kak." Dara langsung membaringkan tubuhnya. Elang duduk di samping ranjang Dara. Meski rasanya agak aneh, tapi Elang akhirnya menyentuh lagi perut Dara sambil mengusap-usapnya. Dara mendadak sendu saat telapak tangan Elang kembali menyentuh perutnya. Perasaan sedih bercampur haru juga rasa tidak enak sedang berpadu jadi satu dirasakan Dara saat ini.
"Maafin aku ya, Kak." Dara menatap Elang yang masih fokus mengusap perutnya.
"Kenapa minta maaf? Karena kamu pengen saya usap perut kamu? Bukan salah kamu, lagian ini menyenangkan. Kamu nggak geli kan saya usap-usap gini?" ledek Elang membuat tawa meluncur dari bibir Dara. "Enggak kok. Nggak geli," jawab Dara dengan sudut bibir terangkat dan barisan gigi yang tampak rapi.
"Gitu dong kamu ketawa. Jangan sedih. Saya ngerti ini berat buat kamu. Hamil di usia remaja, dengan kondisi yang nggak biasa begini. Tapi, kamu harus tetap bahagia, yang ada di dalam perut kamu ini kan anak kandung kamu," tutur Elang masih sambil mengusap perut Dara.
Mendengar kata-kata Elang malah membuat Dara ingin menangis. Rasanya amat malu menangis terus dihadapan pria yang sangat baik seperti Elang. "Kak. Udah mendingan kok. Makasih ya, Kakak jangan usap lagi perut Dara."
Elang pun menyingkirkan tangannya ragu. "Kamu yakin?"
Dara mengangguk. "Iya. Udah nggak apa-apa. Makasih banget, Kak. Kalau Kakak mau keluar boleh kok."
"Kamu bukan karena merasa nggak enak sama saya kan?"
"Bukan kok, Kak. Sungguh emang udah mendingan banget," kata Dara walau sejujurnya dia sedang berbohong. Tapi dia sudah tak kuat ingin menangis, dan dia tidak ingin Elang melihatnya menangis.
"Baiklah. Saya keluar ya. Kamu istirahat," ucap Elang beranjak dari duduknya.
"Iya, Kak. Makasih ya, maaf ngerepotin Kakak terus," ungkap Dara dengan bibir bergetar dan mata yang mulai memerah. Elang bisa melihat sorot mata yang coba disembunyikan darinya oleh Dara. Wanita itu pasti akan menangis sebentar lagi, pikir Elang.
"Kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Elang masih merasa cemas.
"Iya, Kak. Kakak juga istirahat ya. Besok kan harus kerja," ucap Dara.
"Besok saya di rumah kok. Lagi pula apa kata orang kalau kita baru menikah terus saya ke kantor. Tadi saya ke kantor karena urusan mendesak banget," jawab Elang membuat Dara bergeming.
"Ya udah, kalau kamu mau istirahat. Saya keluar ya. Tapi ingat, kalau ada apa-apa kamu harus kasih tau saya ya," kata Elang.
"Iya, Kak." Dara mengangguk.
Elang akhirnya keluar dari kamar Dara. Setelah memastikan Elang sudah tidak ada. Akhirnya Dara tak segan menumpahkan air mata bersama isak tangisnya yang sejak tadi dia tahan.
__ADS_1
"Kenapa aku harus mengalami ini... Sekarang dia baik banget. Jujur aku takut, aku takut banget, kalau nantinya aku malah menyukai Kak Elang karena dia sangat perhatian. Dara, kenapa kamu nggak tahu diri banget..." lirih Dara sambil menyeka air matanya.