
"Maaf, Kak. Aku cuma merasa gugup setiap kali Kakak ngomong gitu, aneh kan?" Dara sedikit menyengir masih dengan pipi merah muda yang malah membuat Elang gemas.
Satu kecupan cepat mendarat di sebelah pipi Dara dan itu kembali mengejutkannya.
"Itu kenapa aku suka sama kamu, Dara. Aku harap kamu juga menyukai ku meski tidak sebesar perasaan suka aku ke kamu," kata Elang.
Senyuman lebar dengan sedikit tawa akhirnya pecah karena Dara tidak sanggup menahannya lebih lama. "Apa Kakak sesuka itu dengan aku?"
"Kamu kok ketawa, sih. Iya, lah. Aku suka kamu sebesar yang kamu nggak tahu ukurannya kayak apa, Dara. Kamu sendiri? Jangan-jangan menerima ku karena nggak enak?"
__ADS_1
Dara langsung merengut sambil menepuk lengan Elang. "Jangan merasa cinta kamu aja yang besar, terus menganggap perasaanku hanya bayangan? Kamu aja yang nggak tahu bagaimana wujud asli perasaanku itu," jawab nya seolah tidak mau kalah.
"Emang sebesar apa?" tantang Elang.
Kali ini Dara tidak menjawabnya dengan kata-kata, melainkan langsung dengan tindakan. Dara menyentuh kedua pipi Elang sembari menatapnya lebih dalam lagi. Mendadak Elang yang biasanya tidak pernah gugup di hadapan Dara malah membisu dan tidak dapat bergerak dengan mata yang sedang membulat. Terutama saat Dara tersenyum lalu makin mendekat sambil meniupkan udara hangat ke telinganya. Jantungnya berdegup tidak menentu, terutama saat telunjuk Dara menyentuh permukaan bibirnya dengan begitu perlahan. Apa yang dia akan lakukan? Itu yang ada di dalam pikiran Elang saat ini.
"Aku nggak tahu sebesar apa perasaan itu. Tapi yang jelas, aku belum pernah memiliki perasaan yang seperti ini. Di saat yang bersamaan aku merasa tidak pantas untuk kamu. Akan tetapi aku juga tidak sanggup menjauh apalagi kehilangan kamu, Kak."
Tidak ingin hanya berdiam diri saja, Elang langsung mendorong pelan tubuh wanita di depannya hingga posisi Dara saat ini tepat dibawah kungkungan Elang. Mata bertemu mata dengan desah napas yang berderu.
__ADS_1
"Aku suka kamu berinisiatif, tapi aku cemas tidak dapat bertindak pasif seperti kamu, Dara. Aku bisa berubah menjadi liar bahkan tidak kamu kenali. Semua itu bisa terjadi setiap kali aku sedekat ini dengan kamu," tutur Elang masih mencengkeram erat kedua telapak tangan Dara.
Dara meneguk ludahnya lalu mengangguk. "Maaf, Kak."
Elang menggeleng. "Kamu nggak salah, hanya saja aku takut lepas kontrol. Apalagi ini di rumah kamu, iya, kan?"
Dara kembali menganggukkan kepala. "Maaf, Kak. Ini salah Dara,"
Tapi semua sudah terlambat. Elang sudah terlanjur masuk ke dalam sentuhan Dara tadi. Dikecupnya bibir wanita yang amat dicintainya itu, lalu ciuman itu pindah ke sebalik telinganya dengan sedikit gigitan tipis di sana. Dara mencoba menahan dirinya agar tidak mengeluarkan erangan, tapi saat Elang mulai mencecap lehernya, bayangan Guntur pun muncul dan seketika ia menjerit teringat kala kejadian Guntur memaksanya hingga ia hamil.
__ADS_1
"Lepas!!" Dara reflek mendorong Elang dengan cukup kuat.
"Dara? Apa aku nyakitin kamu?" kaget Elang yang tersungkur menjauh dari Dara.