Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
21 - Air Mata : Jangan Tinggalkan Aku, Kak!


__ADS_3

Dara saat ini bingung dengan perasaannya sendiri. Tiba-tiba malam itu Dara teringat dengan Guntur dibarengi dengan ingatan tentang Elang. Bayangan Guntur hadir bergantian dengan bayangan Elang.


Ada apa ini?


Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB. Elang baru saja melakukan satu kesalahan fatal dengan menciumnya. Apa maksud ciuman itu? Elang juga bahkan hampir mengulang ciuman itu kalau saja pelayan di rumahnya tidak muncul dan membuat kaget mereka.


"Hentikan Dara! Ini tidak benar."


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar cukup kencang. Malam-malam begini, ada apa? Dara berjalan menghampiri pintu kamarnya lalu membukanya.


"Kak Elang? Ada apa?" tanya Dara kaget saat melihat Elang terlihat panik.


"Dara. Kita harus pergi ke rumah sakit tempat Guntur di rawat!"


"Apa?"


Apa yang terjadi dengan Guntur. Dara tidak berani membayangkan kemungkinan apapun sekarang. Elang juga tidak banyak berbicara. Keduanya pergi menggunakan pesawat yang tercepat. Elang terpaksa mengajak Dara pergi dalam keadaan hamil. Tentu saja itu tetap melalui persetujuan dokter. Pada saat genting pun Elang tidak melupakan hal itu.


"Kata dokter kamu baik-baik aja naik pesawat. Usia kandungan kamu udah lumayan besar," ucap Elang sambil mengusap punggung tangan Dara.


Dara menatap Elang sambil mengusap balik tangan yang masih menggenggamnya. "Sebenarnya apa yang terjadi, Kak?"


Elang menghembuskan napas berat dan perlahan. "Aku juga nggak tahu. Mama dan Papa hanya bilang kalau bang Guntur siuman. Tapi, bang Guntur minta kita semua ada di sana, ini sangat penting dan aku nggak tahu ada apa. Kenapa bang Guntur harus bertemu kita secepatnya. Seolah-olah-" Elang seperti tidak kuasa meneruskan kata-katanya.


Dara terhenyak sesaat. Dia tidak mau kalau sampai hal yang buruk terjadi pada Guntur. Tapi kata-kata Elang itu membuatnya semakin takut. "Kak Guntur pasti baik-baik aja," ucapnya lemas.


Elang menatap Dara. Apakah dia bodoh memasang raut putus asa itu di depan wanita yang pasti sangat tidak ingin hal buruk terjadi pada lelaki pujaannya. Elang merasa keterlaluan dan jahat kepada Dara. "Jangan sedih. Bang Guntur pasti baik-baik aja. Seperti yang kamu bilang, Dara."


Dara mengangguk cepat sambil menyeka air matanya. "Iya. Kak Guntur pasti baik-baik aja," tapi akhirnya dia menangis terisak dan hal itu membuat Elang makin tidak tega.


"Jangan nangis, Dara." Elang meraih tubuh Dara lalu memeluknya. "Jangan nangis. Kasihan bayi kamu, dia nanti ikut sedih."


Hanya saja Dara tidak sanggup menahan air matanya. Selama lima bulan dia menunggu kabar baik dari Guntur. Tapi, kenapa kata-kata Elang itu seolah akan mendatangkan kabar buruk untuknya. "Dara nggak mau kak Guntur kenapa-kenapa. Dara tidak mau merasakan kehilangan, Kak."

__ADS_1


Tentu bukan hanya Dara yang sedih. Elang pun sama sedihnya, karena dia adalah adik kandung Guntur. Kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Guntur, maka dia akan sangat sedih juga sama seperti Dara. "Kita berdoa saja ya. Semoga bang Guntur benar siuman dan akan kembali sehat seperti sedia kala."


Mendadak Dara teringat banyak hal tentang kenangan dia bersama Guntur. Termasuk saat keduanya pertama kali memutuskan untuk jadian. Dara yang belum pernah berpacaran sama sekali, merasa sangat di sayang oleh pria yang bernama Guntur Sebastian. Sosok yang penyayang dan sangat lembut, meski Guntur juga cemburuan dan terkadang kekanak-kanakan.


Dara ingat bahwa Guntur seringkali berkelahi dengan siapapun yang mencoba mendekatinya. Padahal Dara memastikan dia tidak memiliki perasaan apapun terhadap orang lain selain Guntur. Itulah sisi posesif Guntur yang membuat Dara sulit untuk melupakan. Dara malah ingin menangis dan memeluk Elang lebih erat lagi. Ada apa ini? Dara merasakan kesedihan Elang yang serupa dengannya dari tetesan air yang mengaliri pipi pria itu. Saat itu Dara merasakan kesedihan yang berlipat-lipat. Ia sedih untuk Guntur, dan dia sedih juga untuk Elang di waktu yang bersamaan.


Setibanya di rumah sakit Singapura. Dara dan Elang langsung menuju tempat Guntur di rawat. Kusuma dan Rania sedang menangis di depan ruangan yang berada beberapa meter dari mereka.


"Papa! Mama!" Elang menghampiri mamanya dan memeluknya. "Elang, Abang kamu, Lang..." Rania menangis terisak-isak. Begitu juga dengan Kusuma yang seolah tak sanggup berkata-kata lagi.


"Bang Guntur kenapa, Ma!" sentak Elang panik. "Dia nggak apa-apa kan?"


Namun Rania hanya menggeleng sambil sesenggukan. "Dara, kamu adalah orang yang ingin Guntur temui. Kamu juga, Elang," ucap wanita itu dengan deraian air mata.


Dara juga menangis. Elang pun sama. Meski tidak tahu apa yang ingin dikatakan Guntur. Tapi kenapa ini seperti sebuah perpisahan saja? Tidak, Guntur harus selamat, batin Elang.


"Bang Guntur..." Isak Elang. Dara mengusap perutnya yang sudah terlihat besar. Apakah sesuatu yang buruk akan terjadi setelah ini?


"Kak Elang. Ayo kita temui kak Guntur," kata Dara dengan suara tersengal karena Isak tangisnya yang belum mereda. Matanya bengkak dan tubuhnya gemetar.


Melihat ketegaran Dara, membuat Elang pun berusaha untuk tegar. "Baiklah, kita masuk," sahutnya menggandeng tangan Dara memasuki ruangan Guntur. Sebelum masuk mereka mengenakan pakaian khusus dan juga pengecekan sterilisasi dan kelengkapan sesuai ketentuan medis.


Elang memapah Dara dan berusaha tetap kuat. "Kamu pasti bisa, Dara. Kamu kuat," kata Elang meski dia sendiri pun tak kuat melihat keadaan Guntur yang sepertinya bertambah parah dengan alat medis yang bertambah banyak menempel pada tubuh Abang kandungnya itu.


Dara memang sedang berusaha untuk kuat. Dia hanya ingin memeluk Guntur, dia ingin sekali melakukannya. Saat ini dia sudah berada sangat dekat dengan Guntur, dengan kekasihnya juga ayah dari bayinya. "Kak Guntur..."


"Bang... Lu udah sadar, kan?"


Perlahan dan sangat lemah, Guntur membuka matanya. Sudut bibirnya terangkat pelan sekali. Dia menoleh dengan lambat ke arah Elang dan Dara.


"E-la-ng.."


Suara Guntur seperti tak bertenaga. Elang pun langsung menggenggam telapak tangan Guntur lalu menciumi nya. "Bang. Iya, ini gue Elang."


Sekuat tenaga Elang tidak ingin menangis di hadapan abangnya. Terlebih Dara, dia membulatkan matanya, hingga bulir hangat terus menetes seolah tanpa henti mengaliri pipinya. "Kak Guntur..." bibirnya bergetar dia tidak sanggup lagi. "Kak Guntur... Ini Dara, Kak..." tangisnya pecah hingga ia terisak dan tersengal berulang kali.

__ADS_1


"Da-ra. Sayang..." panggilan itu masih sama. Guntur selalu memanggil Dara dengan sebutan Sayang.


"Kakak..." Isak Dara sambil mengusap pipi Guntur. "Sayang..." lirihnya ingin sekali mencium pipi itu tapi tak sanggup.


Elang tersentak saat mendengar Dara menyebut Guntur dengan kata sayang. Ah, kenapa dia malah merasa sedih? Wajar saja keduanya kan memang saling menyayangi.


"Aku ba-ha-gia... Sa-yang... Ka-mu baik-ba-baik sa-ja.." ucap Guntur dengan susah payah seolah lidahnya sangat sulit mengucapkan hal itu.


Dara menggelengkan kepalanya. "Jangan ngomong apa-apa. Kakak harus rehat biar cepet sembuh."


Guntur malah tersenyum. Ada air mata di sana, dan hal itu makin membuat Elang teriris. "Benar Bang, lu harus sembuh..." kata Elang.


Guntur menggeleng. "Gu-e.. ti-tip.. Da-ra, ya.. Lang.."


Elang terdiam. Dara pun sama terdiam.


"Da-ra." Guntur menyentuh perut wanita yang berada sangat dekat dengannya saat ini. Meski lemah dia mengusapnya. "Ja-ga dia yah..." yang dimaksud adalah anak dalam kandungan Dara. Guntur ingin agar Dara menjaga anak mereka. "A-ku... Sa-yang.. ka-mu. Dan ju-ga, a-nak.. Ki-ta..."


Kali ini Dara tidak dapat berdiri tegak. Lututnya terasa lemas. Dara pun akhirnya terjatuh. "Kakak... Jangan bilang gitu..."


Elang menggenggam erat kedua bahu Dara. "Kamu harus kuat Dara.." lalu dia membantu Dara untuk bangun.


"Ka-kak baik-ba-ik aja, Da-ra... Ini... Terassa.. da-mai."


Saat itu Guntur terlihat mulai membuka mulutnya seperti ingin berkata lagi. Tapi seolah sangat sulit. Tangan Elang dan Dara sama-sama memegangi Guntur. Tapi Guntur seolah berusaha menyatukan tangan Elang dan Dara hanya saja saat tangan keduanya hampir bersentuhan. Guntur sudah tidak bergerak lagi.


"Bang Guntur!"


"Kakak!"


Elang langsung sigap memeriksa denyut nadi abangnya. "Panggil Dokter! Nadinya masih berdenyut!


Tapi Dara lemas, dia tidak sanggup melangkahkan kakinya. Elang mulai kalap, dia berlari memanggil dokter. Dara hanya bisa melihat wajah Guntur yang memucat.


"Jangan tinggalkan aku, Kak."

__ADS_1


..._____...


...Kira-kira Guntur masih hidup atau udah?...


__ADS_2