
Setelah berpamitan dengan Rania dan Kusuma, tidak ada yang berubah dengan Dara. Dia tetap akan pindah bersama Elang. Hanya saja Dara merasa agak lega setelah mengetahui bahwa orang tua Guntur dan Elang itu tidak membencinya sekarang.
"Dara, kamu baik-baik aja, kan?" tanya Elang saat Dara keluar dari kamar orang tuanya.
"Baik, kok. Kita jadi berangkat kan?" jawab Dara dengan senyum tipis.
Elang tidak melihat raut kesedihan sama sekali. Apa ini? Mana mungkin Dara sedang berpura-pura kalau dia baik-baik saja? Atau memang kedua orang tuanya tidak melakukan hal yang dia perkirakan?
"Kak? Kok, malah bengong, sih?" tegur Dara ketika melihat Elang malah terdiam seperti memikirkan sesuatu. "Mama dan Papa membolehkan aku pindah, kok."
"Mama dan Papa?" Bukan hanya kaget, tapi Elang juga merasa kupingnya terkena gangguan pendengaran.
"Iya, kenapa? Mereka minta aku panggil mama dan papa sebagai syarat kalau aku mau pindah sama Kakak dari rumah ini. Aku rasa itu syarat yang tidak terlalu berat. Lagi pula aku merasa senang karena mama dan papa mengatakan mereka peduli dengan Dara," jelas wanita itu berhasil membuat Elang tercengang dibuatnya. Rupanya itu berarti orang tuanya tengah menyadari semuanya sekarang? Mereka sudah berubah.
"Syukurlah, Dara. Rupanya mereka udah berubah," kata Elang.
Dara tersenyum sambil menggandeng tangan Elang. "Kita berangkat sekarang, yuk."
__ADS_1
Elang menatap tangannya yang sedang di gandeng oleh Dara. Astaga, apakah dia sedang bermimpi?
"Kak? Kenapa kok bengong terus sih?"
"Ya ampun. Maaf ya, aku beneran nggak fokus. Oke, kita jalan sekarang. Nanti aku akan berbicara dengan mama dan papa setelah aku antar kamu ke rumah barunya," balas Elang di jawab anggukan lagi oleh Dara.
Mereka pun keluar dari rumah keluarga Kusuma. Rania tersenyum sambil mengusap air matanya dari balik tembok. Ia barusan melihat semuanya dan merasa lega karena Dara mau mengikuti keinginannya untuk memanggil mama dan papa terhadap dia dan Kusuma. "Terima kasih, Dara. Guntur, Mama janji akan jaga Dara dan anak kamu," lirih Rania.
Di depan pintu gerbang Elang dan Dara yang baru saja keluar dengan mobil dikejutkan oleh sekumpulan motor yang diparkir di sana. Ada beberapa orang yang menggunakan jaket kulit hitam dengan celana jeans sobek. Mereka sepertinya adalah geng motor dari penampilannya. Ikat kepala yang digunakan mereka memiliki ciri khas dan Dara seperti mengenal ikat kepala tersebut.
"Hunter. Kenapa mereka ke sini?" gumam Elang.
"Iya. Mereka anak-anak geng Hunter. Aku nggak tahu dia mau apa ke sini, yang pasti mereka teman bang Guntur. Kamu tunggu di sini ya, aku mau keluar menemui mereka."
Dara mengangguk. "Iya, Kak."
Melihat orang-orang itu membuat Dara teringat lagi tentang Guntur. Dara menyentuh perutnya. Kenapa saat Guntur tidak ada, dia makin merasakan cinta itu. Dara kembali menangis. Dia teringat sosok Guntur yang penyayang.
__ADS_1
Dara kamu tahu, nggak? Aku selalu merasa senang kalau berada di dekat kamu.
Kenapa bisa gitu? Kenapa Kakak merasa senang?
Ya, karena kamu itu memiliki aura kelembutan. Aku sudah lama tidak merasakan kelembutan yang seperti itu, Dara.
Dara hanya mendengarkan setiap perkataan Guntur.
Dara, kalau pun nanti aku nggak bisa terus berada di sisi kamu. Aku janji, aku akan tetap menatap kamu dari jauh, aku akan berusaha ada di dekat kamu saat kamu bersedih.
Tapi, bisakah kamu janji kan satu hal Dara?
Apa itu Kak? tanya Dara.
Janji untuk tidak menangis karena aku ya. Sebab aku tidak mau jadi alasan kamu menangis. Saat kamu menangis karena aku, disitulah aku akan mati.
Dara teringat itu semua. Kenapa perkataan Guntur itu seolah membuktikan semua yang telah terjadi. Dara memang menangis karena Guntur sebab Guntur yang membuatnya hamil.
__ADS_1
Tapi apakah benar karena dia menangis, lantas Guntur mati?
"Maafin aku, Kak. Kalau saja waktu bisa diputar kembali. Aku nggak akan menangis, aku akan tahan air mataku sebisaku asalkan kamu nggak pergi."