
Dara, aku pasti bakalan jemput kamu nanti. Aku nggak akan lepasin kamu."
...****...
"Sakit banget, Mah. Perut Dara benar-benar sakit," rintih Dara saat merasakan kontraksi yang tidak kunjung berhenti sejak pagi tadi. Usia kandungannya yang sudah cukup bulan mungkin saja ini pertanda bahwa Dara akan segera melahirkan.
"Mamah harus kasih kabar Elang, Neng."
"Jangan, Mah!" geleng Dara.
"Kenapa? Elang harus tahu, dia kan suami kamu."
Bukan, Elang bukan suaminya. Sejak awal niat Elang menikahinya juga hanya untuk sebuah status. Sekarang semua sudah berubah. Dia sudah memutuskan untuk hidup sendiri tanpa laki-laki itu. Dara tidak mau menjilat ludahnya sendiri dengan kembali membiarkan Elang mengurusi hidupnya.
Dia harus menolak, dia akan menolak jika orang tuanya hendak memanggil Elang.
"Enggak, Mah. Dara nggak mau ada kak Elang." Dara tetap bersikeras agar Elang tidak diberitahu.
__ADS_1
"Dara, kamu nggak boleh gitu. Elang dan keluarganya harus tahu kalau kamu mau melahirkan," tegas Damian dan Dara tidak dapat membantah.
Akhirnya Damian menghubungi Elang, tentu saja Elang kaget. Tapi pria itu segera datang ke rumah sakit yang di beri tahu oleh Damian bahwa Dara akan melahirkan di sana.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Neng. Papah udah kasih tahu Elang, dia segera datang. Kebetulan dia lagi di Bandung juga."
"Hah? Kak Elang di Bandung?"
"Iya, kata dia kemarin dia ada kerjaan di Bandung."
Tak berapa lama kemudian, Dara yang terus meringis menahan sakit yang teramat sangat, akhirnya sampai juga di rumah sakit. Damian dan Elis segera mengantar Dara menuju ruang bersalin. Saat Dara sudah berbaring menunggu dokter datang. Elang pun tergesa-gesa berlari menuju ke arahnya. Tanpa diduga Elang langsung memeluk Dara, tentu saja Dara kaget menerima pelukan yang tiba-tiba itu.
"Dara, maaf aku terlambat."
"Kak, kenapa kamu datang?" tangis Dara, bukan hanya karena rasa sakitnya. Tapi pelukan Elang malah membuatnya makin sedih, sesuatu yang nyata sedang memeluknya. Padahal jauh di hatinya, terasa bahwa dia sangat sulit menggapai Elang.
"Tentu aku akan datang. Aku pasti datang, Dara."
__ADS_1
Ajaib. Rasa sakit Dara mendadak hilang setelah kedatangan Elang. Padahal sejak tadi rasa sakitnya seolah tidak berjeda, sangat menyiksa luar biasa.
"Maafin Dara, Kak. Tapi, sebaiknya Kakak pulang aja."
Elang melepaskan pelukan itu lalu menatap mata Dara yang basah. "Kamu nggak mau aku di sini?"
"Kakak lebih baik mengerjakan pekerjaan Kakak. Buat apa menunggui aku," sahutnya.
"Dara, aku tetap akan di sini sampai bayi kamu lahir. Aku udah janji sama bang Guntur untuk jaga kamu, bagaimana pun kondisinya," jawab Elang, tegas.
"Terserah Kakak. Tapi aku nggak mau Kakak nemenin aku ketika aku melahirkan," tegas Dara.
Sampai saat ini Elang tidak mengerti kenapa Dara selalu berusaha menjauh darinya. Apakah Dara sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya? Tapi apakah secepat itu? Atau selama ini Dara tidak benar-benar mencintainya?
"Baiklah, aku akan tunggu diluar," kata Elang lalu dia berbalik keluar dari ruangan bersalin itu.
"Maafin aku, Kak." Dara berucap pelan sambil memejamkan matanya. Dia harus melakukan itu, kalau tidak Elang akan terus mendekat ke arahnya dan dia takut tidak dapat menjauh dari Elang lagi.
__ADS_1