
"Sayang, kamu udah bangun? Maaf aku tadi mengurus administrasi kamu dulu."
"Makasih ya, Kak. Maaf aku jadi ngerepotin kamu terus," jawab Dara dengan mata merah menatap pria yang seolah tidak memiliki cela. Elang, dia adalah lelaki yang sempurna bagi Dara.
"Hei, kenapa kamu ngomong gitu, sih? Udah seharusnya dong aku menjaga kamu. Ingat, kan? Kamu udah menerima lamaran aku, meski aku akan mengulanginya lagi nanti, membawa serta kedua orang tuaku menemui mamah dan papah kamu."
Tidak mungkin Dara melupakan hal itu. Bahkan dia terus tersenyum kala mengingatnya. Saat dimana Elang mengatakan ingin menikahinya. Mimpi yang tadinya sudah Dara kubur dalam-dalam. Baginya kebahagiaan Elang, bukan dirinya. Tapi, kesungguhan Elang membuatnya berubah pikiran. Mungkin saja mereka memang ditakdirkan untuk bersama.
"Mana mungkin aku lupa, Kak." Dara akhirnya meneteskan air matanya, tapi kali ini adalah air mata bahagia.
Elang tersenyum mendekati Dara, lalu memeluk erat tubuh wanita yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. "Aku udah bilang kan, kalau tidak ada pernikahan tanpa kamu. Aku cuma akan menikahi kamu,"
"Aku akan berusaha menjadi wanita yang terbaik untuk kamu, Kak."
"Kamu memang yang terbaik, dan kamu nggak perlu mengusahakan apapun. Aku selalu sayang kamu, nggak akan pernah berubah."
__ADS_1
Begitulah Elang yang selalu berhasil memporak porandakan hati Dara.
"Kamu lihat aku, ya. Kamu nggak boleh sedih lagi, apapun yang terjadi di masa lalu, ambil yang baiknya aja. Kalau ada kenangan pahit, kamu nggak perlu ingat, kamu ngerti kan? Aku nggak mau kamu sedih,"
Dara mengangguk sambil tersenyum. "Ya, aku ngerti."
Elang menyeka air mata Dara, lalu mengecup keningnya. "Air mata kamu berharga, aku nggak mau kamu nangis. Aku mau kamu senyum, kamu bahagia."
"Bahagia aku itu kamu, Kak."
Perjalanan hidup Dara sudah cukup pahit dan dia berusaha menanggungnya sendiri. Tapi dia rapuh, dan butuh seseorang seperti Elang untuk menemaninya, setidaknya ada di sisinya saat dia butuh pelukan dan kasih sayang. Elang bukan hanya ada di saat dia membutuhkan, tapi pria itu selalu berhasil menenangkan hatinya bahkan disaat dia tidak menduga, bahwa Elang akan ada di sana.
...***...
"Jadi kedatangan keluarga Kusuma kesini untuk melamar putri bapak dan ibu, Adara Virginia untuk menjadi pendamping hidup anak saya Elang Sebastian Kusuma."
__ADS_1
Ketika mendengar ucapan Kusuma itu, Dara terbayang pertemuan dirinya dulu dengan keluarga terpandang tersebut. Jangankan berharap, dia sendiri tidak menyangka bahwa pada akhirnya keluarga itu sekarang berada di tengah-tengah keluarganya untuk melamarnya.
Elang tampak bahagia duduk di samping Rania yang tengah menggendong Alpha, anaknya. Elis dan Damian juga bahagia, karena akhirnya putri mereka akan menikah seperti layaknya yang lain, menikah dengan normal dan dicintai dengan tulus.
"Dara, bagaimana? Kalau Papa serahkan semua ke kamu. Bagi Papa yang terpenting kamu bahagia. Apa kamu menerima lamaran Elang?" tanya Damian.
Mata Dara menatap dalam kedua mata Elang. Lalu senyuman kecil melingkar menandakan dia setuju. Ditambah anggukan dan kata-kata yang diharapkan semuanya.
"Iya. Dara menerima lamaran Kak Elang."
...________...
...Akhirnya penantian Elang terbayar sudah, semoga nggak ada halangan dan mereka segera sah 😁...
...Aamiin nggak nih?...
__ADS_1