Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
35 - Mencintai : Lo Cinta Sama Gue, Lex?


__ADS_3

Kak, kamu jelasin dulu aja sama dia. Aku bisa pulang naik taksi kok."


"Nggak Dara, kita pulang bareng."


"Kak, kamu harus jelaskan. Jadi ini kah yang bikin kamu dari tadi kayak orang kepikiran? Aku nggak mau ada yang mengganjal di hati kamu. Kamu selesaikan, aku nggak apa-apa kok." Dara mengusap tangan Elang. "Aku cari taksi ya,"


Dara pun pergi meninggalkan Elang yang masih berdiri di depan Alexa. "Dara!!"


Sayangnya Dara sudah keluar dari supermarket dan kebetulan ada taksi yang melintas.


Elang mengusap kasar wajahnya, sedangkan Alexa ikut pergi dari hadapannya. "Lex! Gue akan jelasin semuanya. Bisa kita bicara dulu?"


Alexa berhenti dengan perasaan kesal dan entah kenapa dia malah menangis. Apakah dia cemburu?



Mata coklat itu terlihat basah dan memerah. Bukan hanya itu, bibirnya pun bergetar dengan kedua tangan yang gemetaran terbayang semua hal yang terjadi tadi di depan matanya antara Elang dan gadis yang bernama Alexa.


Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dara juga tidak mau berpikir yang bukan-bukan tentang Elang. Bisa saja Alexa adalah gadis yang dekat dengan Elang di masa lalu, tapi sejujurnya hatinya sakit, dia merasa terluka jika Elang ternyata memiliki hubungan dengan gadis itu.


Taksi terus berjalan menuju rumah Elang dan Dara. Supir taksi melihat ke belakang saat Dara terisak-isak berulang.


"Nona, apa sedang sakit?" tanya supir.


"Enggak kok, Pak. Saya tidak apa-apa," jawabnya.


Supir itu hanya mengangguk. Dara pun segera menghapus air matanya dan berusaha untuk tidak menangis lagi. Meski Elang mengatakan perasaannya pada Dara, tapi tetap saja dia merasa tidak memiliki hak lebih, bahkan untuk sekedar cemburu dan marah. Hatinya terasa sakit, bukan hanya saat Elang tidak mengejarnya saja, tapi saat Elang berusaha menjelaskan semuanya kepada gadis yang bernama Alexa. Dara berpikiran pasti gadis itu adalah orang yang berarti untuk Elang.

__ADS_1


"Sudah sampai, Nona."


Dara mengangguk meraih beberapa lembar uang dari dompetnya. "Ini, Pak. Terima kasih," ucapnya.


"Baik, hati-hati ya, Nona."


"Iya, Pak."


Dara turun dan langsung masuk ke dalam rumah. Tubuhnya gontai saat tepat berada di depan pintu persis dan ia pun tersungkur dengan air mata berderai.


"Kenapa sesakit ini?" tangisnya pecah dan ia merasa tidak kuat lagi menahan air mata. Ia memilih menangis saat di rasa tidak ada siapa-siapa di sana.


Terbayang saat kejadian tadi, tidak dapat lepas dari ingatannya sampai sekarang. Alexa? Gadis itu cantik dan dia juga masih muda, meski tidak semuda dia. Tapi, penampilannya sangat stylist dan terlihat elegan, dia pasti bukan gadis sembarangan. Dara berpikir Alexa adalah gadis dengan lulusan tinggi dan terpelajar tidak seperti dia hanya lulusan SMA.


...***...


Tetapi meski dia kesal, dia cemburu dan penasaran ingin tahu semua penjelasan dari Elang. Dara memilih masuk ke dalam rumah untuk menunggu sampai Elang pulang.


"Lo mau jelasin apa?" sentak Alexa.


Elang tersentak dan teringat bahwa dia duduk di sini untuk menjelaskan semuanya pada Lexa. Tapi, apakah dia harus menceritakan semuanya? Nyatanya sekarang Elang mencintai Dara, dan semuanya tidak akan berubah meski Alexa datang.


"Gue emang udah nikah, Lex."


Alexa tersenyum miring. "Terus? Lo mau jelasin apaan? Cuma mau bilang kalau lo udah nikah?"


"Gue udah berusaha kasih kabar lo. Tapi nomor lama lo nggak bisa di hubungin entah kenapa. Mungkin lo tahu kenapa waktu itu nomor lo nggak aktif? Lo ganti nomor?"

__ADS_1


Lexa terdiam, seperti mengingat sesuatu. "Jadi lo hubungin gue?"


"Iya, gue coba hubungin lo." Elang ingat waktu itu dia menghubungi Lexa karena ingin meminta pendapat dari sahabatnya itu. Meski keduanya sudah tidak saling berhubungan via telpon lagi karena kesibukan masing-masing.


"Oke. Gue terima alasan lo, emang nomor gue udah ganti."


"Ya. Berarti di sini gue bukan ngelupain lo, Lex."


"Tetep aja. Dia hamil, berarti lo udah beneran cinta sama dia?"


Elang terdiam. Kenapa Lexa bertanya seperti itu? Bukankah hak Elang mencintai siapapun.


"Iya, Lex. Gue cinta dia." Meski anak dalam kandungan Dara bukan anak kandungnya, tapi cinta itu memang untuk Dara. Elang merasa tidak perlu menjelaskan sampai sejauh itu, dia juga tidak ingin Lexa berpikiran yang bukan-bukan tentang Dara.


Mata Alexa berkaca-kaca. Saat itu Elang terkejut kenapa Lexa seperti sangat sedih.


"Gila lo!"


"Lo kenapa, Lex?"


"Gue bego ya, Lang. Gue terlalu percaya sama kata-kata orang. Mereka bilang lo pasti punya perasaan lebih ke gue selain sekedar sahabat. Lo tahu, selama gue traveling, gue cuma pengen tau apa benar lo punya perasaan ke gue, Lang? Ternyata sikap cuek lo hampir menjawab semua keraguan gue. Dan sekarang seluruh keraguan gue terjawab sudah. Perasaan lo ke gue nggak lebih dari sekedar sahabat."


Elang cukup shock mendengar kata-kata Alexa. Apa maksudnya selama ini Alexa?


"Gue suka sama lo, Lang. Bukan cuma karena lo sahabat gue. Jauh di dalam hati gue berharap kalau lo beneran bakalan jadi suami masa depan gue."


"Tapi, Lex. Lo kan tahu gue selalu anggap lo sahabat gue."

__ADS_1


"Tapi apa salah kalau gue cinta sama lo?"


"Lo cinta sama gue, Lex?"


__ADS_2