Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
47 - Pacaran : Cuma Minta Cium Aku, Please ...


__ADS_3

"Jangan bilang kamu mau ngomong kalau kamu nggak pantas?" putus Elang sambil menggelengkan kepala.


"Enggak. Aku cuma mau bilang, aku selalu sayang kamu, dan nggak pernah berkurang barang sedikitpun."


Senyuman lebar melingkar di bibir Elang. "Aku juga," jawabnya langsung mendekat ke wajah Dara, saat itu kedua mata Dara reflek terpejam.


Ketika bibir Elang hampir menempel di bibir Dara, seekor burung merpati tiba-tiba saja lewat diantara mereka dan seolah tidak tahu malu bertengger di atas bahu Elang.


"Astaga." Elang berdecak kaget.


"Wah, merpati putih, cantik banget." Dara hendak menangkap burung itu tapi tidak berhasil, burung itu malah terbang pergi.


"Huh. Merpati itu sengaja ganggu kah?" ucap Elang. Dara hanya tertawa sambil mencubit pipi pria di hadapannya yang sedang merungut kesal.


"Kita pulang, yuk. Alpha pasti udah nyariin aku deh," ajak Dara.


"Oke deh, kita pulang. Aku juga mau ketemu sama Alpha. Tapi tunggu dulu,"


"Ada apa?" tanya Dara.


"Kita mulai sekarang pacaran?"


"Hmmm? Kakak maunya apa? Aku terserah," jawab Dara sambil merona malu.


"Hmm, pacaran dulu biar kayak orang-orang," sahut Elang sambil menampakkan barisan gigi rapihnya.


"Ya udah, aku ikut aja," angguk Dara.


"Lucunya... Boleh minta sesuatu nggak?"

__ADS_1


"Minta apa?" Dara mengangkat sebelah alisnya. "Jangan minta yang aneh-aneh yah."


"Enggak kok, cuma minta cium aku, please..."


Dara melebarkan matanya. "Malu ih."


"Nggak ada orang juga. Sepi." Elang tetap memohon pada Dara.


"Aku nggak mau, malu," geleng Dara lalu berbalik meninggalkan Elang, tapi sayang tangan Elang keburu mencegahnya dan kini bibir Dara berhasil di dapatkan oleh Elang.


Sepasang mata Dara membulat menatap mata Elang yang berbinar di depannya saat bibir keduanya saling beradu. Merpati yang sempat mengganggu tadi pun sedang mengintip mereka yang berciuman dari atas pohon.


Dara hanya diam menerima sapuan bibir Elang yang perlahan bergerak halus menelusuri setiap sudutnya, sambil menarik tubuh Dara agar lebih dekat lagi. Tangan Dara yang semula hanya berada di tempatnya mulai berpindah meraih leher pria yang makin menekankan ciumannya itu. Desah angin berhembus dingin di kota Bandung seolah membuat tubuh mereka yang panas menjadi agak sejuk. Daun kering beterbangan di sekitarnya karena tiupan angin tidak di pedulikan oleh mereka. Keduanya hanya terus berpagut sampai akhirnya Dara yang terbatuk karena lupa mengambil napas.


"Uhukkk..."


"Jangan lupa bernapas, sayang."


"Udah, aku mau pulang," jawab Dara dengan pipi memerah.


"Oke oke, kita pulang yah." Elang menggandeng tangan Dara dan keduanya pun pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Rupanya tidak sia-sia selama ini sikap sabar Elang yang seolah tidak ada batasnya itu. Menunggu wanita yang dicintainya memutuskan untuk kembali ke pelukannya lagi.


...***...


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalaam, wah Mama kamu udah pulang, Nak." Elis membuka pintu rumahnya dan terkejut saat melihat Dara datang bersama Elang.


"Dara, Elang?"

__ADS_1


"Apa kabar, Mah?" tanya Elang, akrab.


"Alhamdulillah. Jadi kalian bareng?" Elis tersenyum senang, dia juga melihat raut wajah putrinya agak berbeda. Mungkinkah keduanya sudah berbaikan? Batin Elis.


"Mah, Alpha udah tidur?" Dara langsung masuk setelah menyalimi mamanya. Lalu Elang pun masuk setelah melakukan hal yang sama seperti Dara.


"Belum, Alpha di kamarnya lagi main," jawab Elis. "Elang duduk dulu ya, biar mamah bikinin minum."


"Iya, Mah. Maaf merepotkan."


"Enggak, kok."


Sementara Elis ke dapur membuatkan minum, Dara menggendong Alpha membawanya kepada Elang.


"Tuh ada Papa Elang," kata Dara sambil duduk di samping Elang.


"Duh anak Papa, sini biar papa gendong."


Dara mengangguk membiarkan Elang menggendong bayinya.


"Wajahnya benar-benar mirip bang Guntur," Elang tidak pernah bisa mengabaikan kemiripan Alpha dengan almarhum abangnya. Dara juga berpikiran sama, anaknya memang sangat mirip dengan Guntur, bahkan tidak terlalu mirip dengan dirinya sendiri.


"Iya, mirip akunya cuma sedikit, lebih banyak mirip ayahnya."


"Kamu panggil bang Guntur Ayah?"


"Iya, kan kamu Papa. Jadi, Kak Guntur sebaiknya dipanggil Ayah saja," jawab Dara.


Elang terhenyak sesaat sambil melihat senyuman Dara, juga wajah lucu Alpha. Dia berpikir kalau abangnya masih hidup, apakah mungkin dia akan sedekat ini dengan Dara? Perasaan yang dia rasakan, apakah karena abangnya meninggal? Tapi, sejujurnya dia rindu dengan abangnya, semenjak kepergian Guntur membuat Elang merasa kesepian, terlebih saat Dara mendiamkannya.

__ADS_1


__ADS_2