
...Adara POV...
Aku sudah merasakan pahitnya kenyataan. Pun rasa kehilangan yang menguras kesedihan mendalam. Aku juga sudah pernah coba mengikhlaskan perasaanku yang terdalam terhadap seseorang. Tapi kini, orang itu ada di depanku. Tersenyum, menatapku lalu meraih jemariku satu persatu dengan lemah kemudian mengecupnya halus dan perlahan-lahan.
"You are mine, Dara."
Senyuman ini berbeda. Aku duduk di hadapan cermin yang memantulkan wajahku. Meski katanya, pengantin wanita dilarang melihat wajahnya sendiri. Entahlah, aku tidak tahu alasan spesifiknya. Tapi, aku lebih suka memastikan penampilanku sendiri. Make up yang aku kenakan saat ini sangat cocok denganku, sesuai inginku dengan gayaku yang sederhana.
Namun jantungku tidak juga bisa tenang. Semakin dekat waktunya, dibelakang ku sudah menunggu Mamah yang sejak tadi terlihat sangat terharu menatapku di cermin.
"Kenapa, Mah? Kok Mamah kayak sedih?" tanyaku sambil melihat pantulan Mamahku yang ada di cermin. Terlihat dia menyeka ujung matanya yang basah dan merah.
"Neng Dara-nya Mamah geulis pisan. Mamah bahagia," ucap wanita yang paling berjasa dalam hidupku.
Tentu, ini semua berkat kesabaran dan doanya. Mungkin aku sempat mengira, bahwa aku tidak akan dianggap anak mereka lagi. Hal yang aku sebut sebagai Aib, kehamilan tanpa seorang suami, aku belum pernah membayangkan hidupku hancur di usiaku yang sangat muda. Tapi keluargaku menerimaku dengan penuh keikhlasan. Begitu baiknya Tuhan padaku, dan aku seringkali mengingkarinya.
"Mamah, Dara jadi mau nangis." Bibirku benar bergetar dan aku langsung bangun, berbalik lalu berjalan ke arah Mamah.
"Sayang. Jangan nangis atuh," katanya. Bagaimana bisa aku tidak menangis, dia sendiri juga sudah menangis sejak tadi. Aku melihat matanya basah, tangannya juga gemetaran mengusap punggungku.
"Makasih ya, Mah. Ini semua karena doa Mamah."
"Iya. Udah kamu jangan nangis, yah. Nanti make up kamu luntur. Maafin Mamah ya, tadi bikin kamu jadi mellow."
"Mamah ih, Dara memang ingin berterima kasih. Kalau waktu itu Mamah nggak mendorong agar Dara mengakui dan jujur dengan perasaan Dara ke Kak Elang, mungkin hari ini nggak akan terjadi,"
"Mamah ini paling tahu kamu, Neng. Mamah bahagia, berkali-kali lipatnya rasa bahagia kamu, kalau kamu bahagia. Begitu pula sebaliknya. Mamah sedih berkali lipatnya kamu, kalau kamu sedih."
Menurutku ini alasan pengantin wanita sering menangis ketika sungkem dengan ibunya. Sekarang, aku tidak dapat mengontrol air mataku yang begitu saja mengaliri pipiku yang sudah dipadukan sedikit blush on tadi.
__ADS_1
"Kamu mah nangis, Neng. Sini duduk, biar Mamah dandanin ulang," kata Mamah. Astaga, padahal aku sedang terharu.
"Mamah, ih...." Aku mendengus, tapi juga merasa lucu melihat Mamahku yang langsung memperbaiki riasan wajahku yang agak luntur karena air mata barusan.
"Pengantin harus cantik. Mamah mau nanti Elang pangling lihat kamu, Neng."
Aku hanya tersenyum lalu mengecup pipi Mamah sekilas. "Dara sayang Mamah."
***
Waktunya tiba. Aku ditemani Mamah di sampingku. Setelah aku mendengar dia dengan lantang mengucapkan ikrar suci pernikahan di depan pak penghulu, Papah dan para saksi. Aku yang sengaja berada di ruangan lain menunggu sampai kata "Sah" menggema di ruangan sebelahku, tepat dimana lelaki yang begitu baik sedang memperjuangkan aku agar halal untuknya.
Bahagia, haru, rasa tak percaya semua berpadu jadi satu. Aku memeluk erat Mamah, dan aku sudah berjanji padanya aku tidak akan menangis. Tapi, aku tidak dapat mengontrol, aku akhirnya tetap saja menangis juga.
Sekarang aku, Adara. Telah resmi menjadi istri dari Elang secara sah bukan lagi sekadar pernikahan formalitas. Kakiku melangkah, meski agak gontai karena aku lemas setelah mendengar doa-doa dilantunkan mengiringi kedatanganku menuju dia, lelaki yang kini aku sebut "suami".
"Kak Elang."
Aku memaku di hadapannya. Sementara dia melangkah maju satu langkah lebih dekat, lalu meraih telapak tanganku.
"Dara. Kamu sekarang istriku, dan selamanya hanya akan menjadi istriku."
Sekujur tubuhku merinding, mataku pedih tapi aku tidak mau menangis lagi. Aku turut mengecup punggung tangannya, sebagai bakti pertamaku selaku istri.
"Kakak sekarang suamiku, selamanya hanya akan menjadi suamiku."
Kami berdua saling melempar senyum. Kemudian aku menyematkan cincin di jari manisnya, dia pun sama, menyematkannya di jari manis ku. Kini, aku dan dia terikat dan selamanya akan terikat.
"I love you, Dara."
__ADS_1
Dia mengecup keningku lemah, dan menetapkan kecupan itu agak lama beberapa saat. Aku bisa merasakan kehangatan dan cintanya yang tulus. Aku juga bisa merasakan kebahagiaan orang-orang disekitar ku. Aku tidak tahu lagi apa yang kurang dari hari ini. Semuanya, sempurna.
"Love you, too. Sayang." Pertama kalinya, aku menyebutnya seperti itu, dan aku sangat gugup.
Dia agak terkejut, tapi setelahnya malah menampakkan senyuman lebarnya dengan gigi berbaris rapi membuatku terkikik geli.
***
"Coba ulangi sekali lagi," pintanya.
Aku menggeleng. "Nggak ada pengulangan."
Mendadak wajahnya berubah, yang kulihat sekarang di depan mataku, dia... Menatapku dengan tatapan yang tajam dan mendalam.
"Kalau kamu nggak mau mengulangnya, aku akan cium kamu di depan umum."
"Apa?"
"Kamu nggak masalah, kan? Pilih bilang yang seperti tadi, atau aku cium kamu sekarang?"
"Kamu lagi bernegosiasi?"
"Bisa juga dikatakan begitu," jawabnya.
Aku terkekeh lalu menyentuh kedua pipinya. "Kamu boleh mendapatkan keduanya. Sayang. Aku cinta kamu, Sayang..."
Lalu aku menempelkan bibirku serta-merta dan dia pasti kaget, seperti aku yang sama kagetnya dengan keberanian dan dorongan yang muncul sangat kuat.
Namun ini bukan kesalahan lagi, ini juga tanda aku sangat mencintainya.
__ADS_1