Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
19 - Flashback : Jadian


__ADS_3

Kak Guntur : Dara, kamu udah selesai kelas tambahan?


Dara : Udah, Kak. Ini barusan aja keluar kelas.


Guntur : Aku udah tunggu kamu di luar ya. Di depan gerbang, hehe.


Dara : Serius Kak?


Guntur : Iya, kan tadi aku udah bilang bakalan jemput kamu. Dari pada kamu di gangguin sama preman kayak waktu itu.


Dara tidak percaya, ternyata Guntur serius menjemputnya. Terus dia harus berbuat apa? Apakah Guntur juga serius dengan pertanyaannya tadi?


Matanya membulat sempurna melihat Guntur sedang duduk di motornya. Benar, ternyata dia menunggu Dara. Langkah kaki Dara terhenti saat Priska muncul di depannya.


"Lo bilang katanya dia cuman temen. Kenapa dia jemput lo lagi? Jujur deh, Dara. Dia itu cowok lo kan?"


"Bu-bukan kok." Dara tetap mengelak. Dia tidak bohong saat itu memang mereka hanya berteman.


"Ya udah kalau dia bukan cowok lo, boleh dong kenalin ke gue?"


Guntur memperhatikan satu-satu murid yang melintasinya. Tapi, dia belum juga melihat gadis yang dia tunggu. Lalu, matanya tertuju pada dua orang cewek yang sedang berhadapan. "Itu kayak Dara?"


Guntur pun turun dari motornya, dia berjalan menghampiri Dara.


"Ah itu, tapi bukan nggak mau ngenalin, Pris. Cuman, aku dan dia juga belum lama kenal," kata Dara pada teman sekelasnya, Priska.


"Ih lo pelit banget!" decak Priska mulai kesal dengan Dara.


"Dara, kok kamu malah berdiri di sini?"


Guntur menghampiri Dara, dan itu membuat Dara juga Priska sama-sama terkejut.


"Kak Guntur?"


"Astaga, ganteng banget." Priska tanpa ragu memuji Guntur langsung di hadapannya.

__ADS_1


Guntur hanya tersenyum. "Yuk kita pulang," ajaknya pada Dara.


Priska langsung mengambil alih dengan berdiri tepat di hadapan Guntur. "Kak boleh kenalan nggak? Kenalin aku Priska."


"Hai, kenalin, gue Guntur calon pacar Dara. Doain dia terima gue. Oke?"


Guntur tidak menunggu sampai Priska membalas ucapannya, dia langsung menarik tangan Dara mengajaknya pulang.


"Apa? Calon pacar?" Priska terkejut hingga mulutnya menganga.


"Kak, kok tadi Kakak bilang gitu sama Priska?" tanya Dara, dia merasa tidak enak pada temannya.


"Emang aku salah ngomong ya?" sahut Guntur.


"Em, enggak sih. Tapi, aku ..."


"Dara, aku serius. Walau pun kita kenal belum ada satu bulan, tapi aku suka sama kamu."


Mereka masih berada di parkiran. Dara memperhatikan sekitar, dia takut ada guru yang melihat mereka.


"Hm, boleh. Oke, kita jalan dulu deh. Aku ajak kamu ke tempat yang bagus."


Guntur melajukan motornya menuju tempat yang Dara sendiri belum tahu mau ke mana. Tapi, kata Guntur tempat itu bisa dijadikan tempat healing yang menyenangkan.


Mereka berhenti di sebuah danau, di sekitarnya banyak sekali pohon-pohon hijau yang tumbuh subur. Air di danau itu sangat bening dan bersih. Dara belum pernah pergi ke tempat itu. Menurutnya benar yang di katakan Guntur. Tempat itu memang memberikan ketenangan karena suasananya yang sunyi, tapi sejuk.


Mereka berdua duduk di kursi panjang, tepat di depan danau yang lumayan luas.


Guntur tersenyum pada Dara sambil menghela napas panjang.


"Tenang banget di sini. Aku sering ke sini buat cari ketenangan, Dara."


Dara menoleh, dia menatap Guntur sekilas. Cowok itu terlihat seperti sedang melepas beban di dirinya.


"Kamu pernah punya beban yang berat banget, nggak?"

__ADS_1


Dara menatap Guntur lagi. "Hm, beban ya? Mungkin beban mempertahankan beasiswa." Dara hanya tercengir.


"Beban kamu masih terbilang menyenangkan juga, ada semangat di sana yang harus kamu pertahankan." Guntur mengusap puncak kepala Dara pelan. "Tetep semangat ya."


Dara ikut tersenyum. "Memangnya Kakak punya beban seberat apa?"


Guntur menggeleng. "Enggak, aku hidup tanpa beban kok. Maaf jadi bahas beban nih. Lebih baik kita bahas yang indah aja. Misalkan yang indah kayak senyum kamu."


Dara refleks terkekeh. "Apa sih Kakak."


"Serius Dara, boleh kan kalau aku jadi pacar kamu?"


"Tapi, aku ini masih sekolah Kak."


"Aku akan dukung kamu supaya tambah semangat belajar. Janji deh."


Dara terkekeh lagi. "Kalau pacaran mana bisa semangat belajar."


"Kata siapa? Aku bakalan buktikan aku bisa kasih semangat yang luar biasa buat kamu."


Tadinya Dara ingin mengatakan tidak, tapi entah kenapa dia seperti melihat kesepian yang luar biasa pada diri Guntur.


"Hm, oke. Dara mau."


Guntur menatap Dara seolah tidak percaya bahwa gadis di sisinya barusan saja menerimanya.


"Kamu beneran nerima aku?"


Dara mengangguk. "Iya."


"Makasih Dara, aku seneng banget."


Guntur menggenggam tangan Dara lalu mengecupnya. "Makasih ya. Aku janji akan jadi teman yang paling baik, pacar sekaligus teman buat kamu."


"Iya, Kak." Dara hanya bisa merona karena dia bingung harus mengatakan apa.

__ADS_1


Mulai detik itu mereka resmi jadian. Tepat di depan danau yang jernih, Dara menerima perasaan Guntur.


__ADS_2