
Oh ya sudah kalau menurut Kakak itu cuma ilusi, aku pun nggak masalah. Sekarang aku akan pulang, Kakak nggak perlu antar."
"Astaga. Dara? Tunggu!"
Elang menarik tangan Dara, lalu memeluknya. "Maaf, apa yang aku dengar tadi bukan ilusi? Aku cuma nggak mau berharap dan mendadak gila karena kata-kata itu. Tapi, kalau benar yang aku dengar, aku harap kamu jangan pernah menariknya," ucapnya sambil mengeratkan pelukannya pada Dara.
Susah payah Dara mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal itu. Meski dia merasa masih tidak pantas bersanding dengan Elang, tapi setiap kebaikan yang Elang berikan, juga pengorbanannya yang tetap terus mengejarnya membuat wanita itu luluh dan menyerah. "Iya, aku cinta kamu, Kak."
Kaget. Elang sangat kaget mendengar lagi pernyataan Dara itu. Rupanya itu bukanlah ilusi.
"Kamu nggak akan menarik kata-kata kamu itu, kan?" tanya Elang sambil mengapit kedua pipi Dara, "kamu nggak bohong, kan?"
Dara menggeleng dengan air mata berderai. "Enggak. Aku nggak sanggup menahan lebih lama semua perasaanku ke kamu. Kenapa sih, kamu nggak lupain aku! Pergi jauh dan jangan tunjukkan diri kamu di hadapanku! Kenapa!" bentaknya sambil memukul dada Elang. "Kamu yang bikin aku menyerah!"
__ADS_1
Tawa Elang bercampur dengan tangis. Ia tidak merasa sakit melainkan bahagia menerima pukulan dari Dara. Ia malah memeluk Dara dengan lebih erat sambil menciumi puncak kepala wanita itu. "Aku nggak akan nyerah, karena aku serius mencintai kamu."
Dara masih sesenggukan sambil mendekap erat tubuh Elang, wangi tubuh lelaki itu masih sama, selalu memberikan ketenangan untuknya. "Aku sakit selama ini, aku menahan semua perasaan ini. Aku..."
"Jangan kamu tahan lagi, aku akan selalu ada untuk kamu, nggak akan membiarkan kamu sendirian. Sayang..."
Jantung Dara bukan hanya berdegup kencang, tapi sekujur tubuhnya merinding hebat saat Elang menyebutnya dengan kata 'sayang'.
"Jangan panggil aku kayak gitu, Kak. Aku malu," kata Dara.
"Nggak usah panggilan yang seperti itu. Cukup namaku aja," jawab Dara.
"Kalau begitu aku panggil kamu, cintaku aja kalau nggak boleh sayang."
__ADS_1
"Itu makin berlebihan, Kak!"
"Hahaha... Kenapa sih? Aku suka berlebihan sama kamu," kata Elang menyengir.
Kedua mata mereka beradu dengan senyuman yang serupa. Dara akhirnya menyerah pada lelaki di depannya. Meski dia tahu bahwa dirinya tidak sepadan dengan Elang, tapi hatinya tidak dapat berdusta. Hari ini dia mengingkari tekadnya sendiri untuk menjauhi Elang. Nyatanya, dia sendiri yang menghancurkan tembok besar penghalang dalam hubungan mereka.
"Jangan pernah lari lagi, meski aku sanggup mengejar kamu sejauh apapun kamu berlari. Tapi, alangkah lebih indah, jika kita bergandengan dan berjalan bersama," kata Elang.
"Aku nggak akan lari. Asalkan kamu selalu berjalan sejajar denganku, dan terus ingatkan aku bahwa kamu dan aku sama-sama manusia, agar aku sesekali tidak merasa bahwa kamu malaikat."
"Hahahaha kamu tuh ngomong apa? Aku nggak sesempurna itu. Aku punya banyak kekurangan, mungkin nantinya kamu akan lebih banyak tahu tentang aku. Tapi percaya deh, aku akan selalu berada di sisi kamu dan nggak akan berubah."
Dara mengangguk lalu mengusap kedua pipi Elang. "Kamu terlalu baik, aku-"
__ADS_1
"Jangan bilang kamu mau ngomong kalau kamu nggak pantas?" putus Elang sambil menggelengkan kepala.
"Enggak. Aku cuma mau bilang, aku selalu sayang kamu, dan nggak pernah berkurang barang sedikitpun."