Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
12 - Mengidam : Kamu Terlalu Baik, Kak.


__ADS_3

"Nona, kenapa Nona tidak makan?" tanya pelayan pada Dara.


"Nggak laper," jawab Dara dengan pipi putihnya yang kelihatan pucat, juga dengan bibirnya yang kering.


"Makan dulu, Nona. Supaya bisa minum vitamin, nanti saya bisa di tegur sama Tuan Elang kalau Nona tidak mau makan."


"Maafkan saya, ya. Tapi saya mual banget, nggak bisa kesentuh makanan." Dara menggelengkan kepalanya lemah.


"Minum obat mualnya dulu ya, Nona. Supaya hilang mualnya."


"Enggak, saya nggak mau makan apapun." Dara tetap menolak.


Pelayan pun bingung. Dia juga takut kalau Elang akan menyalahkan dia. Akhirnya pelayan itu memberikan kabar pada Elang, bahwa Dara tidak mau makan dan minum sama sekali.


"Ya, baiklah saya akan pulang sebentar lagi. Jangan dipaksa kalau memang dia tidak mau. Ya, tidak apa-apa, terima kasih." Elang menutup panggilan dari pelayan di rumahnya. Dia memang meminta agar pelayan memberinya kabar, kalau terjadi sesuatu dengan Dara.


Elang duduk sebentar sambil berpikir apa yang harus dia lakukan jika perempuan hamil tidak mau makan?


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk."


"Permisi, Pak. Saya mau menyerahkan surat izin cuti saya."


"Melan, kamu mau cuti?"


"Iya, Pak. Saya sedang hamil."


Elang agak terkejut. Padahal karyawannya itu baru menikah dua bulan lalu. Ternyata bisa hamil secepat itu, pikirnya. Elang memang sangat minim pengetahuan tentang itu, bisa dibilang dia sangat amatir.


"Oh, baiklah, Mel. Taruh saja di sana."


"Baik, Pak. Terima kasih. Kalau gitu saya permisi ya, Pak."


"Tunggu dulu, Mel."


"Ya, Pak?"


"Kamu merasakan apa saja saat hamil?" tanya Elang.


"Saya? Maksud saya, Bapak bertanya tentang saya?"


"Iya, Mel. Saya tanya kamu."


Batin Melanie tidak menyangka kalau bosnya sangat perhatian terhadap pegawainya. Melanie jadi makin mengagumi sosok Elang itu. Pemimpin yang luar biasa, selain tampan baik hati, dia juga perhatian. Sampai tidak sadar, Melanie ter senyum-senyum sendiri.


"Mel? Kenapa kamu malah diam?"

__ADS_1


"Eh, anu, Pak. Iya, maafkan saya. Jadi, Bapak tanya sama saya, apa saja yang dirasakan ibu hamil begitu?"


"Ya, begitulah. Jadi apa saja?" tanya Elang lagi.


"Hm, ibu hamil itu biasanya mual, tidak nafsu makan, dan juga lemas, Pak."


Elang mengangguk. Ternyata memang sama seperti yang dirasakan Dara, batinnya.


"Terus gimana cara mengatasi nya? Kalau wanita hamil mual dan tidak nafsu makan?"


Melanie makin kaget. Kenapa Elang bertanya sampai sedetail itu. Sebenarnya untuk apa?


"Apa istri Pak Elang sedang hamil?"


"Iya," jawab Elang tanpa berpikir panjang.


Melanie makin kaget. Padahal Elang dan Dara menikah belum ada satu bulan, kan?


"Oh, baik, Pak. Kalau mual biasanya di atasi dengan obat mual dari dokter khusus ibu hamil. Atau mungkin saja istri Bapak ingin sesuatu. Misalkan, istri Bapak sedang mengidam. Karena biasanya ibu hamil mengidam, Pak." Melanie menjelaskan pada Elang. Ternyata dia salah sangka, Elang bertanya bukan karena perhatian padanya. Melanie ingin mengutuk pikirannya sendiri. Inget, Mel. Lo udah punya laki! Omel Melanie dalam hati.


"Terima kasih, Mel, berkat kamu saya tidak bingung lagi. Semoga kandungan kamu sehat selalu, ya. Berikan ini pada bagian Finance." Elang memberikan selembar kertas bernominal kan Lima Juta Rupiah.


"Ini buat apa, Pak?" Melanie mengambil kertas itu.


"Buat kamu, Mel. Makasih karena sudah membantu saya. Cuti kamu akan saya ACC nanti ya."


"Ya, Mel. Sedikit untuk kamu beli vitamin ya."


"Makasih banyak Pak Elang. Semoga istri Pak Elang juga dijaga selalu kandungannya, dan diberikan kesehatan. Aamiin."


"Aamiin. Makasih ya, Mel."



Elang buru-buru pulang ke rumah. Dia sejak tadi kepikiran karena pelayan bilang Dara tidak mau makan. Kalau kata Melanie mungkin saja Dara sedang mengidam sesuatu. Sehingga jika keinginan itu belum terpenuhi, maka dia tidak bernafsu dengan apapun.


Sesampainya di rumah, Elang langsung mencari Dara.


"Di mana Dara, Bi?" tanya Elang pada pelayan.


"Di kamar, Tuan."


"Baik." Elang langsung mengetuk pintu kamar Dara.


"Masuk." Suara Dara terdengar lemah.


Elang memutar kenop pintu, masuk, lalu menutup kembali pintunya. Dia segera menghampiri Dara yang sedang berbaring.

__ADS_1


"Dara, kamu kenapa?" tanya Elang, dia duduk di tepi ranjang sambil menyentuh pipi Dara yang pucat.


"Kamu sakit?"


Dara menggelengkan kepala. "Enggak kok, Kak. Kakak udah pulang? Maaf Dara nggak menyambut Kakak di depan pintu tadi."


"Saya cemas, Dara. Katanya kamu nggak mau makan."


"Eh, enggak kok. Dara barusan minum air putih." Dara menunjuk ke gelas yang ada di atas meja. "Udah mendingan. Cuman sedikit mual."


"Kamu menginginkan sesuatu? Mungkin kamu mau makan apa gitu? Kamu bilang saya ya. Biar saya carikan. Mungkin aja kamu mengidam, jadinya tidak bernafsu dengan makanan lain," terang Elang. Dara agak tersenyum. Tidak disangka Elang tahu tentang itu.


"Kak Elang tahu tentang Ibu hamil?"


"Sedikit, tadi saya tanya sama karyawan saya yang hamil juga," jawab Elang dengan jujur.


"Kak Elang lucu banget. Nggak apa-apa, ini cuman keluhan biasa. Kata Mamah, Dara hanya perlu minum air hangat, dan makan sedikit roti atau nasi, kalau nggak bisa, Dara bisa makan biskuit sedikit saja asal ada isinya."


"Terus kamu sudah makan itu?"


"Belum, ini baru selesai telepon Mamah, Kak."


"Ya sudah saya akan minta pelayan ambilkan ya."


"Jangan Kak." Dara mencegahnya, dia menyentuh tangan Elang.


"Kenapa?" kata Elang heran.


"Maaf banget, tapi Dara maunya Kakak yang siapin, boleh nggak?"


"Saya?" tunjuk Elang ke dirinya sendiri.


"Ma-maaf ya Kak. Tapi Dara aja sendiri deh."


Dara juga bingung sebab kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa dia rencanakan. Keinginan itu pun muncul begitu saja barusan.


"Syukurlah, ternyata benar kamu mengidam. Jadi, kamu mengidam ingin saya yang siapkan. Astaga, ternyata ibu hamil itu sangat unik."


Elang malah tersenyum. Dara tertunduk malu, dia merasa tidak enak.


"Maaf ya Kak."


"No. It's Ok. Saya akan siapkan untuk kamu ya."


Padahal Elang baru saja sampai, tapi ia langsung melakukan apa yang diinginkan Dara. Kalau begini apakah Dara akan bertahan untuk tidak menaruh hati pada Elang?


Kamu terlalu baik, Kak.

__ADS_1


__ADS_2