Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
13 - Kejujuran Hati : Aku Kangen Kak Guntur


__ADS_3

Elang yang baru pulang langsung pergi ke dapur. Pelayan yang melihat merasa tidak enak, jadi memutuskan untuk membantu Elang. Tapi Elang menolaknya.


"Biar saya saja, Bi. Dara lagi mengidam ingin saya yang menyiapkan," kata Elang.


Pelayan itu pun mengangguk patuh. "Baik, Tuan."


Setelah selesai, Elang langsung menaruh makanan itu ke atas nampan, lalu membawanya ke kamar.


Dara sudah tiga kali mondar-mandir ke toilet untuk muntah. Padahal dia tidak makan apa-apa, tapi cairan terus saja keluar dari mulutnya. Dara benar-benar baru mengalami hal yang luar biasa dalam hidupnya. Selama ini dia mungkin tahu, bahwa ibu hamil mengalami mual muntah dan lemas. Tapi, saat dia sendiri yang merasakan itu, ternyata itu sangat tidak enak.


"Astaga, rasanya seperti mau pingsan." Dara bergumam sambil memegang kepalanya yang pusing.


Elang datang dengan nampan berisi makanan yang tertata di atasnya.


Dara pun duduk, Elang menaruh nampan itu ke atas tempat tidur Dara. "Kamu makan ya. Ini saya semuanya yang siapkan, tidak dibantu oleh Bibi."


Mata Dara berkaca-kaca, dia mendadak sendu. "Makasih ya Kak."


"Iya, tapi kamu harus makan ya. Mau saya suapin?"


Dara menggeleng cepat. "Enggak Kak. Biar Dara aja sendiri."


Elang pun ingin membiarkan Dara makan dengan nyaman. Dia bermaksud keluar dari kamar Dara.


"Kak mau ke mana?" tanya Dara.


"Saya mau ke luar. Supaya kamu lebih nyaman makannya," jawab Elang.


"Em, tapi boleh tidak kalau Kakak di sini saja."


Elang pun tersenyum dengan ringan. Tanpa protes, apalagi menolak keinginan Dara itu.


"Baik, ya sudah saya di sini saja nunggu kamu sampai selesai makan."


Dara ikut tersenyum, lalu dia mulai menyendokkan sedikit nasi ke dalam mulutnya. Berhasil, ternyata rasanya tidak mual sama sekali.


"Syukurlah, kamu bisa menelan nasi itu, Dara. Kalau tidak bisa tadi saya berniat mengambilkan kamu yang lain." Elang merasa senang, dia mengusap pelan puncak kepala Dara. Tanpa sadar Dara tersenyum lagi, dia merasa senang ada Elang bersamanya.

__ADS_1


"Semua karena Kakak, ini sangat ajaib. Padahal tadi Dara mual. luar biasa," kata Dara dengan sejujurnya.


"Mungkin bayi kamu senang kalau ada saya di dekat kamu."


Kata-kata Elang membuat Dara berdebar. Dara mengangkat wajahnya, menatap mata Elang. Dia, pria itu, terlihat sangat ringan tersenyum ke arahnya. Kenapa dia harus menerima kebaikan Elang yang luar biasa, apakah dia pantas? Pikir Dara.


Dara masih mengunyah makanan yang ada di piringnya pelan-pelan. "Kamu harus banyak makan biar bayi kamu gemuk nanti. Saya tidak sabar ingin bertemu dengan dia. Pasti dia cantik seperti kamu, kalau dia perempuan."


Dara refleks terbatuk. Elang panik lalu memberikan segelas air untuk Dara. "Astaga, minum dulu."


Dara masih batuk, dia meminum air pelan-pelan lalu mulai mengantuk napasnya. "Maaf Kak."


"Pelan-pelan aja ya. Aduh, kamu kalau tersedak kan bahaya," kata Elang.


Apa ini? Dara terkejut karena Elang mengatakan dia cantik?


"Iya, Kak." Setelah memastikan napasnya lebih teratur, Dara meneruskan lagi makannya yang belum selesai.


"Dara, kalau misalkan Bang Guntur sadar nanti, kamu harus terus menemaninya ya. Dia, sebenarnya kesepian selama ini," kata Elang tiba-tiba saja malah membahas Guntur. Dara mendadak merasa bersalah, apa sejak tadi dia malah terus memikirkan Elang? Padahal. Guntur sedang koma di Singapura sana.


"Em, apa Kak Guntur kesepian karena keluarganya sibuk?"


"Ya, Kak Guntur sering menceritakan keluarganya. Tapi, anehnya Kak Guntur tidak pernah membahas tentang Kak Elang. Makanya aku kaget, sebelum kecelakaan Kak Guntur mengirimkan pesan agar aku menemui Kakak. Karena aku baru tahu kalau Kak Guntur punya adik," terang Dara.


Elang terlihat menghela napas. "Ya, mungkin saja Bang Guntur tidak membahas karena dia merasa kesal dengan saya."


"Kesal? Kenapa Kak Guntur kesal. dengan Kak Elang? Padahal Kak Elang sangat baik."


Dara refleks menutup mulutnya setelah mengatakan itu.


Elang tersenyum. "Hm, mungkin menurut Bang Guntur karena sayalah keluarga jadi mengucilkan dia."


Dara hanya mendengarkan.


"Tapi Bang Guntur itu sangat baik pada saya. Walau dia sering dibanding-bandingkan dengan saya, dan saya juga tidak suka orang tua saya sering membandingkan saya dengan Bang Guntur. Padahal, setiap orang punya keistimewaan masing-masing."


Jadi seperti itu, pantas saja Guntur sering balapan liar, kadang juga mabuk dan merokok. Rupanya di rumahnya, Guntur tidak mendapatkan ketenangan.

__ADS_1


"Mungkin juga menjadi anak sulung keluarga Kusuma adalah beban yang berat bagi Bang Guntur."


Dara menaruh sendok, setelah tanpa sadar nasi di piringnya sudah habis tak bersisa.


"Ya, hidup di atur oleh keluarga. Tidak boleh melakukan hal yang dia suka, tapi dia harus nurut melakukan hal yang katanya baik untuk masa depannya, padahal itu semua hanya demi gengsi semata. Itulah yang orang tua saya lakukan pada Bang Guntur. Karena itu Bang Guntur sering mencari kebahagiaan di luar sana, yang mungkin saja itu belum tentu benar-benar membuat dia bahagia, tapi malah terjerumus ke hal-hal negatif," tutur Elang.


Dara langsung teringat kata-kata Guntur sebelum kecelakaan terjadi. Saat itu waktu masih pagi, Guntur datang membawakan bunga dan coklat untuk Dara. Mereka harus berbaikan, Guntur tidak mau Dara terus mendiamkannya. Dara memang marah pada Guntur karena apa yang dilakukan Guntur padanya sudah melewati batas. Tapi, ketika melihat wajah Guntur, Dara mendadak tidak tega. Wajah itu terlihat pucat, maaf yang bengkak, sepertinya Guntur habis menangis.


"Tolong terima permintaan maafku, Sayang."


Guntur terus memohon hingga Dara akhirnya tidak tega juga.


Dara menerima bunga dan coklat yang dibawa Guntur. "Makasih," katanya. Guntur langsung tersenyum lega. "Aku yang makasih karena kamu mau menerimanya, Sayang."


"Kamu abis nangis, Kak?" tanya Dara, sejak tadi dia memang penasaran melihat mata bengkak Guntur.


"Enggak," geleng Guntur. "Aku terus merasa bersalah dan tidak tidur memikirkan kamu, Dek."


Dara diam.


"Dek, walau semua orang menganggap aku nggak berguna, tapi aku akan berusaha menjadi laki-laki yang berguna untuk kamu, aku nggak akan meninggalkan kamu."


Dara mengangkat wajahnya, dia tersentak mendengar ucapan Guntur.


"Walau aku nggak ada, aku pasti akan tetap menjaga kamu. Meski bukan lewat aku, tapi lewat laki-laki yang jauh lebih baik, segala-galanya dari aku, Dek."


Dara tidak mengerti dengan ucapan Guntur, siapa yang dimaksud oleh Guntur itu.


"Kalau aku nggak ada, atau terjadi sesuatu denganku, kamu harus cari dia ya."


"Dia siapa, Kak?" tanya Dara. "Kakak jangan ngomong yang aneh-aneh."


"Hm, aku akan tinggalkan pesan buat kamu, aku akan kasih tau kamu nanti."


Kak Guntur Sayang : Kamu harus cari dia, namanya Elang. Dia adalah laki-laki baik yang sangat baik bahkan. Dia pasti akan menjaga kamu dengan baik, Dara. Aku juga berharap aku bisa bersama kamu terus. Tapi, entah kenapa aku hanya ingin mengatakan ini sama kamu. Aku sayang kamu, Dara.


Pesan itu membuat Dara akhirnya menemui Elang. Ternyata Elang adalah adik dari Guntur. Saat itu di hadapan Elang, Dara menangis teringat lagi isi pesan Guntur.

__ADS_1


"Hei, kamu kenapa, Dara?" tanya Elang.


"Aku kangen Kak Guntur, Kak."


__ADS_2