Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
28 - Kejutan : Aku Ingin Kita Menikah Lagi


__ADS_3

"Kak, maksud kamu apa?" tanya Dara yang penasaran apa maksud kata-kata Elang tadi.


"Hmm," dehem Elang sambil menggaruk tengkuknya. "Sebenarnya, bagaimana kalau kita makan dulu?"


"Makan? Tapi, Kak?


"Iya, kamu pasti laper, kan?"


Dara terdiam karena dia memang belum sempat makan tadi. "Ya udah. Tapi setelah makan aku harap Kakak mau jelaskan apa maksud Kakak itu, oke?"


"Oke. Aku akan jelaskan," angguk Elang.


Sementara Elang menyiapkan makanan. Seperti biasa, itu yang diinginkan Elang, menyiapkan segalanya untuk Dara. Hal itu juga yang membuat Dara selalu merasa aneh dengan hatinya. Dara duduk termangu di ruang makan, memandangi setiap sudut rumah baru mereka itu, juga ornamen-ornamen yang mengisinya. Minimalis, benar-benar sesuai dengan seleranya. Elang, dia tahu sebagian besar tentang apa yang disukai Dara, padahal mereka belum lama saling mengenal.


"Dara. Kamu suka omelette kan?" ucap Elang sambil membawa piring yang diatasnya tersaji telur dadar dengan tambahan sayur dan potongan daging. Memang benar itu adalah makanan kesukaan Dara, selain simpel juga memang Dara menyukai makanan yang berbahan dasar telur.


"Wah, cepet banget," kata Dara sambil memandang takjub apa yang disajikan Elang. Meski sederhana, tapi baginya untuk ukuran laki-laki, Elang pandai memasak dan menyajikan makanan. Terlihat omelette yang sederhana itu sedikit berbeda dari omelette biasa, lebih pantas di sebut omelette ala restoran mahal.


"Bikin gini saja sih cepat, Dara." Elang duduk di samping Dara sambil menaruh potongan omelette di piring Dara. "Makan ya, kamu harus banyak makan biar bayi kamu sehat,"


"Makasih, Kak." Dara tersenyum lalu menikmati makanan yang disiapkan Elang.


"Hm.." Dara mengunyah pelan masakan Elang.


"Gimana, enak, nggak?" tanya Elang sedikit cemas karena dia baru pertama kali memasak.

__ADS_1


"Aku nggak sangka," ucap Dara.


"Kenapa? Ayo katakan apa masakan ku nggak enak?" desak Elang.


Dara tercengir. "Enaaaak banget, Kakak kok bisa masak makanan seenak ini, sih?"


Saat itu Elang terpaku dengan senyuman riang Dara. Sudah lama sekali semenjak dia tinggal bersama Dara, belum pernah dia melihat senyuman Dara yang ceria."Kamu, cantik."


Dara melotot sampai terbatuk mendengar ucapan Elang itu. "Uhukk.."


"Eh. Minum dulu," segera Elang menyodorkan segelas air putih kepada Dara. "Pelan-pelan aja, jangan sampe tersedak."


Dara meneguk air itu sampai habis lalu mengelap bibirnya. "Maaf ya, abisnya Kakak bikin aku kaget."


Dara mendadak salah tingkah. Pipinya juga terasa agak panas. "Bukan apa-apa kok," gelengnya.


"Pipi kamu merah." Elang menyentuh pipi Dara, sontak membuat Dara menjengit menegakkan tubuhnya.


"Kamu malu?" tanya Elang.


"Enggak, kok. A-ku, bukan gitu, Kak." Dara malah makin terlihat gugup dan itu membuat Elang semakin yakin bahwa wanita itu sedang malu sekarang.


"Dara, kamu lucu deh. Emangnya kalau aku bilang kamu cantik, nggak boleh ya?" ujar Elang sambil tertawa kecil. "Kamu emang cantik kok, aku ngomong apa adanya."


Dara sekarang menatap mata Elang yang terfokus ke arahnya. Dadanya makin bergemuruh dengan debaran yang sama, setiap kali Dara begitu dekat dengan Elang seperti sekarang.

__ADS_1


"Dara," ucap Elang seraya menyentuh telapak tangan Dara, perlahan. Menyadari sentuhan itu membuat Dara makin gugup saja.


"Aku ingin kita menikah lagi setelah kamu melahirkan."


Apa yang di dengar Dara barusan? Elang, dia mengatakan ingin menikahinya?


"Maksudnya?"


"Dara. Seperti yang kamu tahu. Pernikahan kita, hanyalah sebuah formalitas."


Elang makin mengeratkan genggaman tangannya pada Dara dengan menatap kedua mata Dara kian lekat. "Lalu, aku mau kita memulai dari awal saat nanti kamu sudah melahirkan bayi bang Guntur."


Tentu kata-kata Elang itu sangat mengejutkan Dara. Dia bahkan tidak berani mengartikan maksud perkataan itu. Dara hanya diam, menunggu penjelasan yang lebih dapat dia mengerti. Dara hanya tidak ingin salah memahami.


"Kamu nggak keberatan kan? Kalau aku ingin menikahi kamu lagi, secara sah di mata agama setelah kamu melahirkan bayi kamu," ucap Elang dan kali ini Dara memahami maksud lelaki itu.


"Kak, tapi..."


"Kamu jangan jawab sekarang. Aku tahu ini mengejutkan..."


"Bukan gitu, Kak. Tapi kenapa?"


"Hm?"


"Kenapa kamu mau menikahi aku secara sah dimata agama? Bukankah setelah bayiku lahir kita sepakat bercerai."

__ADS_1


__ADS_2