
Hari ini adalah hari kedua Elang dan Dara berada di rumah baru mereka. Meski keduanya tidur terpisah, tapi pikiran mereka berdekatan, begitu juga hati mereka.
"Selamat pagi," sapa Elang yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamar Dara.
"Kakak? Kok, kamu ada di kamar aku?" kaget Dara langsung terduduk dengan wajah yang masih polos selepas bangun tidur.
Elang menyengir dengan penampilan yang sudah rapi. "Aku cuma pengen liat kamu kalau tidur."
Dara memicingkan matanya. "Maksud kamu? Kakak dari tadi liatin aku tidur? Sejak kapan?"
Elang mengangguk. "Iya, aku udah sejam di sini. Kamu tidur pules banget," jawabnya.
"Hah? Sejam?" Dara membulatkan matanya sambil merona. "Duh, malu banget ih. Muka aku kan jelek banget kalau tidur," katanya sambil menutupi wajahnya.
"Hahaha enggak kok. Kamu selalu cantik, apapun keadaan kamu." Elang tersenyum lalu mengusap puncak kepala Dara. Wanita yang kini tengah hamil itu perlahan membuka telapak tangannya dari wajahnya.
Melihat Elang begitu lembut kepadanya membuat hatinya tak tenang. Jantungnya berdegup dengan ritme yang berantakan. Matanya tidak bisa dialihkan menatap yang lain, selain menatap senyuman Elang.
__ADS_1
"Makasih ya, Kak." Dara menyentuh telapak tangan Elang.
"Makasih? Untuk apa?" kata Elang.
"Makasih karena Kakak selalu baik dengan Dara."
Elang pun ikut menyentuh telapak tangan Dara lalu mengecupnya lembut. "Kamu pantas diperlakukan dengan baik," ucapnya.
Dara langsung menghambur memeluk Elang. Kali ini saja, biarkan dia meluapkan segenap rasa di hatinya yang menggila. Apakah dia akan terus bisa sedekat ini dengan Elang? Ketakutan itu makin menjadi, semakin Elang berlaku selembut itu, semanis itu padanya. Saat itu juga Dara merasa hatinya meluap, ingin meledak karena rasa yang tak terbendung lagi.
Elang membulatkan mata, tidak menyangka kalau kata-kata itu akan ia dengar dari bibir Dara. Kini, dia tidak dapat bergerak, meski pelukan wanita yang juga disayanginya itu sangat erat dan hangat. Beginikah rasanya ketika cinta terbalaskan.
"Kamu sayang aku?" tanya Elang bak pria yang tidak percaya bahwa rasa yang dimilikinya telah terbalaskan begitu nyata.
"Iya, Dara sayang Kak Elang, sayang banget," tegas Dara yang tak peduli lagi meski dia dikatakan tidak tahu diri sekalipun. Nyatanya, dia memang menyayangi Elang, sangat sayang sampai tidak tahan ingin mengungkapkan.
Elang pun membalas pelukan Dara sambil mengecup pucuk kepala Dara dengan perlahan-lahan. "Makasih Dara, aku janji sama kamu. Aku janji akan bahagiakan kamu,"
__ADS_1
Dara mengangguk dengan air mata yang menetes begitu saja. "Iya, Kak. Dara percaya, lagi pula begini aja Dara udah bahagia banget,"
Harapan Dara perasaan ini akan bertahan selamanya. Tidak ada yang merenggutnya.
Dulu saat dia memutuskan menerima perasaan Guntur. Dara tahu, Guntur memerlukan Dara. Guntur sosok yang kesepian walau dia berusaha menutupinya.
Meskipun Dara masih sangat belia kala itu. Tapi dia tahu, bahwa Guntur kekurangan kasih sayang.
Guntur juga pernah ketahuan mabuk, Dara sangat marah sekali dan Guntur berjanji tidak akan melakukan itu. Hal yang paling Dara benci yaitu saat Guntur merokok dan mabuk-mabukan.
Menatap Elang, dia berbeda dengan Guntur. Tapi, keduanya kini ada di hati Dara. Elang dan Guntur memiliki tempat spesial di hatinya.
Harapan itu mulai kembali ia rajut. Harapan untuk hidup bahagia dengan orang yang dia sayang. Dengan Elang dan juga bayinya.
..._______...
...Maaf ini pendek ya. Nanti aku up lagi kok. Terima kasih udah mau baca sampai bab ini....
__ADS_1