
Elang menarik napas dalam-dalam lalu makin mencondongkan wajahnya, hingga posisinya sangat dekat dengan Dara. Desah napasnya berhembus melewati telinga Dara, sehingga membuat wanita itu bergeming di posisinya tak sanggup berkata-kata.
"Aku ingin menjadi suami kamu yang sesungguhnya, Dara. Apa nggak boleh?" jelas Elang.
Dara gugup, semakin gugup, tangannya gemetar. Elang menatapnya seperti layaknya burung Elang yang hendak menguasai tatapannya hingga berkedip pun rasanya Dara tak kuasa. Kedua mata mereka hanya berjarak sejengkal saja, hidung mereka bertemu hingga tangan Elang menyentuh dagu Dara, dan juga... Bibirnya.
"Aku menyukai kamu, Dara."
Dara gemetaran dengan dada yang berdegup tidak karuan. Bibirnya terkatup dengan mata membulat menatap mata Elang yang menawan tak dapat dia hindari. Tatapan yang selalu berhasil membuat jantung Dara berdebar-debar, bersorak sorai tak menentu, juga seperti ada ribuan kupu-kupu yang memenuhi perutnya.
Satu kecupan didaratkan Elang di bibir Dara dan reflek membuat kedua mata Dara tertutup rapat karena kaget dan bingung menerima ciuman tiba-tiba dari Elang.
Seumpama Dara memberontak dan menolak. Dara takut itu membuat Elang terkejut. Bukan hanya itu, tapi sejujurnya Dara tidak ingin menjauhi Elang, dia sedikit menikmati sentuhan itu. Perlahan Dara mulai merespon ciuman yang diberikan Elang dengan lembut dan keduanya pun berpagut.
Meskipun Dara merasa ini agak tergesa. Tapi, apakah benar Elang menyukainya? Lalu dia sendiri? Apa yang dia rasakan selama ini? Apakah dia juga sebenarnya menaruh hati pada Elang? Berbagai pertanyaan bersarang dibenaknya. Sejenak ciuman itu terhenti dan Elang begitu lembut mengelus pipinya.
__ADS_1
"Kamu juga menyukai aku, kan?"
Hanya bisa diam. Sekujur tubuh Dara seolah lumpuh tidak dapat digerakkan. Perasaan ini sangatlah berbeda, meski dulu dia juga berdebar saat Guntur menyatakan perasaan cinta padanya. Tapi, ketika dengan Elang, debaran itu agak lain. Detak yang dia rasakan juga aliran darahnya berdesir hebat berpadu dengan hasrat yang aneh.
"Kamu kaget? Aku juga sama. Aku awalnya nggak percaya dengan apa yang aku rasakan ke kamu. Tapi, makin lama aku makin yakin kalau aku menginginkan kamu. Dara, aku cuma mau menjaga kamu, juga menjadi orang yang bisa membahagiakan kamu sampai akhir."
"Kak, aku udah nggak suci. Aku nggak pantas untuk Kakak..." saat itu Dara reflek menjatuhkan air matanya.
"Hei, kamu jangan ngomong gitu. Aku nggak memikirkan hal itu sama sekali," jawab Elang yakin. "Aku menyukai kamu apa adanya."
"Dara, please..." Elang memutus ucapan Dara.
"Please, bayi kamu itu adalah keponakan aku. Dan aku menyayangi dia. Aku menyukai kamu tulus, aku cuma berharap kamu percaya."
Bagaimana bisa Dara menerima semua ini. Elang nyaris tidak memiliki kekurangan apapun. Masa lalu yang bebas dari dunia kelam, hidup yang cemerlang, kepribadian yang baik, pintar, tampan dan sukses. Siapa yang tidak mau menjadi wanita pilihan pria seperti Elang? Hanya saja, Dara merasa bukan dirinya yang pantas menerima semua itu.
__ADS_1
"Aku nggak bisa, Kak." Dara menggelengkan kepalanya.
"Dara? Tapi kenapa?"
"Aku ... Sejujurnya menyukai kamu, Kak." Dara menghapus air matanya sambil menundukkan pandangannya.
"Lalu? Kenapa kamu nggak bisa menerima aku?" Elang mengangkat wajah Dara hingga air mata Dara yang menggenang pun membanjiri pipi merahnya.
"Karena aku merasa kotor, Kak. Aku ini kotor dan kamu..."
Lagi-lagi Elang menghentikan kata-kata Dara. Kali ini Elang menggunakan bibirnya untuk membungkam mulut Dara yang seolah tak berhenti mengatakan hal buruk tentang dirinya sendiri. Dara menangis ketika Elang menciumnya lagi, lalu melepaskan ciuman itu.
"Dara, jangan katakan itu terus. Kamu sama sekali nggak kotor di mata aku. Kamu jangan terus merendahkan diri kamu, Dara. Kalau kamu menyukai aku juga, tidak ada salahnya kan kita mencoba untuk saling membuka hati. Kamu mau kan?"
Elang seolah tidak mengizinkan Dara menolak dan berkata tidak untuk kali ini. Dara tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya bisa menangis.
__ADS_1
"Jangan nangis, Dara." Elang langsung memeluk wanita yang terlihat begitu sedih.