Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
68 - Kecelakaan Pesawat : Bukan Elang!!


__ADS_3

"Kakak beneran nggak mau aku anter ke bandara?"


Hari ini Elang ada urusan bisnis ke luar negeri. Ia berpamitan pada Dara yang baru minggu lalu dinyatakan positif hamil dua bulan. Sebenarnya dia tidak mau pergi, dia lebih suka di rumah bersama Dara dan Alpha. Tapi, kalau tidak pergi, Elang akan mendapat masalah di perusahaan dengan klien penting yang meminta dia untuk ke sana.


"Kamu bener nggak apa-apa kalau aku tinggal?" tanya Elang masih cemas meninggalkan istrinya yang tengah mengandung anak kedua mereka.


"Aku baik-baik aja, kamu jangan mikirin aku. Walaupun aku merasa agak nggak rela kamu pergi, entah kenapa, tapi aku tahu ini penting untuk bisnis keluarga kamu."


"Huuuh..." Elang menghela napas panjang.


"Kalau bukan aku yang membantu bisnis papa, entah bagaimana nasib kelanjutan bisnis ini, Sayang.... Maaf ya, sebenarnya aku juga nggak rela pergi ninggalin kamu."


Dara tersenyum berusaha menguatkan suaminya.


"Jangan mikirin aku, tenang aja, aku akan baik-baik aja kok di sini, lagi pula ada mamah dan papah yang jagain aku," kata Dara sambil mengusap lengan suaminya.


Mata Elang mendadak sendu, dia meraih kedua pipi Dara kemudian mengecup lemah kening wanita yang paling dicintainya itu. "Aku sayang kamu, aku pasti segera pulang begitu pekerjaan aku selesai."


Wanita yang akan berulang tahun ke sembilan belas itu hanya mengangguk pelan. "Iya, aku nunggu kamu."


...****...


"Elang udah jalan, Neng?"


"Udah, Mah."


"Kamu kenapa? Kok kayaknya murung gitu, jangan gitu kalau suami lagi ada tugas kerjaan, pergi entah itu ke luar kota, atau ke luar negeri, kamu nggak boleh murung gitu," nasehat Elis.


"Iya, Mah, tapi Dara kok bawaannya sedih banget, ya."


"Kamu jangan gitu, pasti sedih karena jauh dari suami. Tapi, kan, cuma seminggu, Neng."

__ADS_1


Dara mengangguk sembari tersenyum samar. "Iya, Mah,"


Mungkin saja karena kondisi Dara sedang mengandung, sehingga emosinya tidak stabil. Dia ingin Elang selalu ada di sisinya, tapi nyatanya urusan pekerjaan kali ini tidak dapat ditunda atau dilewatkan begitu saja.


"Sayang, aku kangen," ringisnya sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Kala itu Al baru berumur satu tahun setengah, hampir dua tahun. Dara merasa bahagia karena tidak menunggu lama dia langsung mengandung anak keduanya.


"Al, kenapa Mamah kangen banget ya, sama Papah," kata Dara sambil mengusap pipi Al yang tembam. Al sedang duduk bermain dengan mainannya yang lebih suka dia gigit-gigit sejak tadi.


"Semoga aja Papah kamu selamat sampai tujuan,"


Pranggg!!


"Astaghfirullah." Dara menyentuh dadanya, kenapa mendengar suara pecahan itu membuat jantungnya sakit sekali. "Itu apa, ya?"


Dara menghampiri suara itu berasal, kemudian langkahnya terhenti saat melihat bingkai foto pernikahan dirinya dan Elang yang jatuh hingga pecahan kacanya berserakan.


Tak lama kemudian mamahnya, Elis yang juga mendengar suara pecahan itu langsung datang menghampiri Dara.


"Neng, apa yang pecah itu tadi?"


"Ini mah," jawab Dara sambil menyentuh dadanya yang terasa sakit.


"Foto nikahan kamu dan Elang jatuh?"


Dara mengangguk sembari menahan rasa sakit di dadanya. "Iya, kenapa ya, Mah? Dara jadi cemas sama Kak Elang."


"Nggak ada apa-apa, Sayang. Kamu kenapa? Dadanya sakit?" tanya Elis.


"Iya, tadi pas denger ada yang pecah aku langsung kaget, dada sakit banget,"

__ADS_1


"Mamah buatkan kamu teh anget ya, udah, kamu jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, insyaAllah Elang nggak apa-apa, kok."


"Iya, Mah, semoga aja," jawab Dara meski rasanya ia amat mencemaskan suaminya.


***


Dara mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Entah ada apa gerangan. Dara sendiri tidak memikirkan apa-apa sebelumnya. Tapi semenjak kepergian Elang untuk urusan bisnis. Dara jadi kepikiran suaminya itu.


"Kak, kamu kok belum ngabarin aku?"


Dara bertanya-tanya sendiri. Dia terus menatap gawai di tangannya. masih belum ada pesan atau telepon dari Elang.


"Neng, Elang udah ngabarin?" Tanya Elis.


"Belum, Mah. Karena itu Dara cemas."


"Ya Allah, coba kamu telepon Neng, mungkin udah turun dari pesawat?"


"Nggak bisa, Mah. Nomornya masih belum aktif." Dara makin merasa tidak tenang.


Elis menyalakan televisi, dia duduk di dekat Dara. Al sedang tidur di dalam kamar dijaga oleh baby sitter.


Begitu televisi menyala, Elis dan Dara langsung disuguhkan berita kecelakaan pesawat yang belum lama terjadi. Dara membulat kan mata, dia amat terkejut. Tujuan pesawat itu sama seperti yang dituju oleh suaminya.


"Ya Allah, Neng, ini bukan pesawat..." Ucap Elis sembari menutup mulut langsung, dia tidak sanggup melanjutkan kata-kata nya.


Elis terus menggeleng, dia menghilangkan pikirannya bahwa itu pesawat yang ditumpangi oleh Elang.


"Mah, pasti bukan Kak Elang 'kan Mah? Pasti bukan!!!" Dara refleks menangis. "Bukan! Pasti bukan!!!"


"Sayang, jangan nangis. Bukan Elang, ini pasti bukan Elang, sayang." Elis memeluk erat tubuh putrinya. Dia juga ikut menangis, dia juga tidak mau terjadi sesuatu dengan menantu terbaiknya itu.

__ADS_1


__ADS_2