Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
64 - First Night : Panggil Aku Sayang, Boleh?


__ADS_3

Mengandung unsur bacaan yang hanya diperbolehkan untuk pembaca dewasa. Harap bijak, ya! Happy reading! ^^


...****...


Di pernikahan yang sebelumnya. Dara tidak merasakan menjadi pengantin wanita yang bahagia. Sedih, pilu, sakit. Hal itu yang dirasakan Dara. Pernikahan yang tidak dibayangkan, tidak pernah jadi impiannya. Menikah karena terpaksa, demi menutupi aib dirinya.


Hari ini, dengan lelaki yang sama. Lelaki yang sebelumnya mengucapkan akad di depan penghulu untuk mengikatnya. Lelaki yang terbaik dalam hidup Dara setelah papahnya. Elang, dia adalah cinta yang datang sebagai hadiah, takdir, dan jawaban atas doa yang dia panjatkan di sela tangisan, duka, dan kepedihan hidupnya.


Pesta telah usai. Dara masih sempat menemani Alpha kecilnya sampai tertidur pulas di kamar. Dia sudah mandi bahkan mengenakan pakaian tidurnya. Elang sepertinya dia sangat kelelahan, sudah beberapa hari dia kedapatan lembur, tidak bisa tidur demi mewujudkan pernikahan yang luar biasa untuk wanita yang dicintainya.


Senyuman Dara terukir manis sembari mengambil selimut lalu menariknya hingga menutupi tubuh suaminya yang terlelap. Tampan. Bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, kulit yang licin, bibir yang—sejenak Dara terperanjat, lalu dia tersipu—pipinya memerah.


"Kamu capek banget, ya? Kasian, maafin aku, Kak. Demi bikin pesta yang luar biasa, kamu sampai kurang tidur." Dara berjongkok sambil memperhatikan wajah Elang yang terpejam. Rasanya ia tidak tega kalau sampai gerak dan suaranya akan membangunkan pria itu.


Akhirnya Dara memilih bangun menuju sisi Elang untuk menemaninya tidur.


Namun, tangannya digenggam erat oleh Elang. Apa ini, jadi Elang tidak tidur?


"Kak?" Dara berbalik, suaminya sedang tersenyum menatap wajahnya.


"Kamu bangun? Aku bikin kamu kebangun, ya?"


Elang menggeleng. Masih dengan senyumannya. Dara mendadak salah tingkah.


"Ah, aku mau tidur," ucap Dara sambil mengalihkan tatapan Elang.


Tapi kemudian Elang malah menarik tubuhnya hingga sekarang posisi Dara berada di bawah Elang.

__ADS_1


"Aku nunggu kamu, lama banget. Tapi, aku tahu kamu lagi nemenin Alpha. Tadi, aku sempat tidur, dan kebangun pas kamu buka pintu."


"Ya ampun, jadi Kakak sejak tadi hanya pura-pura tidur?"


Elang tersenyum lagi. "Aku pengen tahu, apa yang kamu lakukan kalau liat aku tidur."


"Emangnya aku harus lakukan apa? Aku pikir kamu capek, jadi..." putusnya dan sekarang bibir Elang sudah menyentuh Dara.


Irama jantung Dara tidak beraturan. Ada apa ini? Jangan-jangan Elang ingin melakukannya sekarang? Ah, tentu saja. Ini malam pengantin aku dan dia, batin Dara, lalu ia memejamkan mata.


Perlahan jemari Elang menyentuh pipi Dara, halus dan—mendebarkan.


Mata mereka saling bertemu. Gugup sekali,  dan ini adalah pertama kali mereka sangat  intim karena memang sudah seharusnya.


"Kamu milikku, kan?" kata Elang, berbisik lembut di telinga wanitanya.


Belum lagi aroma Elang yang begitu memabukkan. Aroma mint yang menyentuh indera penciumannya. Gerakan perlahan di sekitar ceruk lehernya kembali mendominasi hingga sesapan halus berhasil membuat Dara mengeluarkan suara refleknya.


"Hm?" Elang tersenyum menatap wajah istrinya selepas mendengar suara desah pelan wanita tercantik dalam hidupnya itu.


Dara menatap Elang malu, pipinya merah dan dia seperti sesak napas karena saking gugupnya. Tapi Elang piawai membuat Dara leluasa setelahnya. Tangannya menggenggam erat telapak tangan Dara, mengecupnya lalu membiarkan Dara menyentuh pipinya.


"Gugup?"


"Iya." Reflek, Dara menjawab sesuai fakta yang dia rasakan. Memang, dia gugup, sangat gugup.


"Adara Virginia," kata Elang, begitu pelan hampir serupa bisikan. Kemudian Elang menunduk mempertemukan bibir mereka, lagi.

__ADS_1


Dunia pun berhenti. Jantungnya berdegup kencang, bertabrakan antar degup jantung Elang dan dirinya. Kemudian bibir Elang bergerak dan rasa panas terasa menyebar ke sekujur tubuh Dara, hingga pusat dirinya terasa bereaksi aneh. Ia berdesir, dan ini belum pernah Dara rasakan sebelumnya.


Tubuh diantara dua pahanya, bereaksi alami dan itu membuatnya merinding. "Kak," desahnya pelan sekali, sampai Elang hampir tidak mendengarnya. "Aku..."


"Kenapa, sayang?" Elang menatap Dara dengan mata yang menggelap serupa gairah yang menyala jelas di sana.


"Aku seharusnya mempersiapkan lebih, tapi aku hanya begini," lirih Dara, dia takut Elang kecewa dengan penampilannya di malam pertama. Piyama tidur bermotif beruang warna pink, bukan lingerie atau pakaian tipis dan seksi.


Elang terkekeh sebentar lalu menghela napas. "Sayang, kamu sangat cantik."


"Beneran? Tapi aku—"


"Sssttt... Kamu yang paling cantik, dan aku ingin memilikimu seutuhnya, sepenuhnya. Boleh, kan?"


"Tentu aja boleh, Kak." Dara menjawabnya cepat. "Cuma aku—agak—malu."


"Aku juga malu," kata Elang.


"Masa?" Dara tidak percaya, sejak tadi Elang bergerak leluasa, tanpa rasa gugup, pikirnya.


"Aku gugup, aku malu, aku berdebar. Kamu sentuh di sini?" Elang mengambil telapak tangan Dara menaruhnya tepat di dadanya. "Aku berdebar, kan?"


Rupanya, degup jantung Elang sama seperti yang terjadi padanya. "Iya, jadi Kakak gugup?" Dara tersenyum.


"Panggil aku, Sayang? Boleh, kan?"


Dara tersentak, dia agak sedikit kaget dan belum terbiasa. Tapi, bukankah sepasang suami istri wajar memiliki panggilan sejenis itu.

__ADS_1


__ADS_2