Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
24 - Kelegaan : Dara Suka Bunga Lily


__ADS_3

"Silahkan kopinya, Pak."


Elang menoleh sekilas ke arah Teddy. Tapi mendadak ia kehilangan selera untuk meminum kopi itu.


"Duduk, dan minum aja kopi itu buat kamu, Ted."


"Untuk saya, Pak? Tapi tadi pak Elang yang minta-"


"Saya bilang itu buat kamu," tegas Elang.


"Baik, Pak." Teddy pun hanya menurut saja.


"Saya mau tanya sama kamu, Ted."


"Tanya apa, Pak?" Teddy akhirnya meminum kopi milik bosnya itu. Untung saja selera kopi Elang sama dengannya. Dia juga masih bingung ada apa sebenarnya dengan Elang. Kenapa bersikap tidak biasanya, raut wajahnya sih seperti orang sedang putus cinta. Tapi, bukannya Elang sudah menikah? Masa iya, sedang bertengkar? Pikir Teddy.


"Kalau kita merasa kesal karena diabaikan seseorang. Apa itu tandanya kita suka sama orang itu?" tanya Elang pada Teddy. Meski tidak terlalu jelas pertanyaan yang diajukan Elang padanya, tapi Teddy sepertinya sudah menangkap maksud pertanyaan itu.


"Tergantung Pak, rasa kesal yang dirasakan itu yang seperti apa? Misalkan, seseorang itu mengabaikan kita sehingga kita merasa bukan hanya kesal tapi sedih dan miris dengan diri kita sendiri. Padahal kita melakukan itu karena peduli, tapi sepertinya orang yang kita pedulikan itu tidak merespon. Jika kesal seperti itu, bisa di kategorikan bahwa itu bukan hanya sekedar suka, tapi juga ada perhatian yang mendalam. Kalau tidak kenapa harus kesal?"


Kenapa kata-kata Teddy itu persis sama seperti yang Elang rasakan ketika Dara menolak ajakannya untuk pindah? Juga tentang sikap Dara yang berubah drastis semenjak pulang dari pemakaman Guntur. Jadi, apakah itu tandanya Elang menyukai Dara?


Teddy menyeruput lagi kopi yang tadi diberikan Elang padanya. Sambil sesekali memperhatikan bosnya yang hanya tertegun seperti orang linglung. "Maaf kalau ikut campur. Apa Bapak sedang bertengkar dengan istri bapak?"


"Istri?" ucap Elang mengulang kata itu.


"Iya, Bapak kan udah punya istri? Maksud saya sama siapa lagi kalau bukan sama istri. Menurut saya, Bapak jangan meragukan perasaan Bapak sendiri. Lagi pula Bapak menikahi istri bapak pasti karena rasa suka, cinta? Begitu, kan?"


Elang menghela napas berat. Teddy tidak tahu apapun dibalik pernikahannya dengan Dara. Jadi wajar saja jika itu yang dikatakan Teddy padanya.

__ADS_1


"Terima kasih atas masukan dan pendapat kamu."


Akhirnya Elang kembali menggunakan bahasa formal.


"Sama-sama, Pak. Tapi, kalau jawaban saya belum memuaskan silahkan Bapak tanyakan lagi, yang terpenting sabar saja Pak. Meski saya belum menikah, tapi saudara saya banyak yang sudah menikah. Saya tahu setiap rumah tangga pasti ada saja ujiannya. Yang terpenting Bapak harus tetap bersikap baik kepada istri. Mungkin saja istri Bapak ingin diberikan sedikit kejutan manis, untuk menghibur hatinya."


"Kejutan manis?" Elang mengerutkan kening. Dia belum pernah memberikan kejutan yang seperti itu kepada wanita yang dekat dengannya. Entah dulu ataupun sekarang.


"Iya, Pak. Seperti hadiah berupa bunga, perhiasan, coklat, atau... Apapun yang dia sukai, pasti Bapak tahu kan apa kesukaan istri bapak?"


Elang tidak mungkin menggeleng mengatakan dia tidak tahu apapun tentang yang Dara sukai. Bisa-bisa Teddy curiga dengan pernikahannya.


"Oh kejutan seperti itu. Oke, makasih lagi buat sarannya."


"Lebih baik kasih sekarang, Pak. Lagi pula ini udah jam pulang, sebentar lagi kantor kan tutup. Apa nggak sebaiknya Bapak pulang juga?" kata Teddy.


Benar juga yang dikatakan Teddy.


Teddy tersenyum sambil mengangguk.


"Tidak masalah, Pak. Terima kasih kembali."


Akhirnya Elang memutuskan pulang. Diperjalanan dia masih teringat kata-kata Teddy tentang kejutan.


"Apa saya kasih Dara hadiah ya? Tapi, hadiah apa? Saya aja nggak tahu apa yang dia suka?"


Saat dia memikirkan hadiah apa yang cocok untuk Dara. Tanpa sengaja dia melihat sebuah toko bunga.


Elang berpikir apa sebaiknya dia memberikan bunga untuk Dara? Dia ingin memberikan perhiasan, tapi hubungannya dengan Dara belum sejauh itu. Bagaimana kalau Dara malah merasa terganggu dengan hadiah itu, karena menurutnya itu berlebihan. Dia cukup mengerti bahwa Dara bukan tipe wanita materialistis.

__ADS_1


Setelah menimbang akhirnya Elang membeli seikat bunga Lily untuk Dara. Entahlah apa Dara menyukai bunga Lily atau tidak. Tapi, menurut Elang bunga itu cocok untuk Dara.


Sesampainya di rumah. Elang langsung masuk. Tanpa di duga rupanya Dara sedang duduk di ruang tamu. Begitu dia datang, Dara langsung terkejut dan berdiri menatapnya.


"Kak Elang baru pulang? Habis dari mana?" tanya Dara.


Elang berjalan ke arah Dara lalu memberikan bunga Lily yang tadi dibelinya.


"Buat kamu. Tadi aku ke kantor sebentar ada urusan. Maaf soal yang tadi ya. Semoga kamu nggak salah paham," ujarnya, tulus. Walau bagaimana pun tadi dia memang mengejutkan Dara dengan sikapmya.


Dara mengambil bunga itu lalu tersenyum.


"Terima kasih, Kak. Dara suka bunga Lily."


Elang ikut tersenyum lega. Untung saja dia tidak salah memilih bunga.


"Syukurlah kalau kamu suka. Iya, sama-sama, Dara."


"Kak Elang... Untuk kata-kata Kak Elang tadi, yang mengenai pindah..."


"Lupakan aja, Dara. Kalau kamu memang tidak mau pindah. Aku hanya berusaha melindungi kamu, agar kamu lebih nyaman. Tapi, aku juga nggak mau memaksa kamu."


"Dara mau kok. Lagi pula, Dara sudah janji dengan diri Dara sendiri. Bahwa Dara akan menuruti kata-kata Kak Elang. Pasti itu demi kebaikan Dara."


"Beneran? Jadi kamu mau pindah dan tinggal berdua dengan aku?"


Dara mengangguk. "Iya, Kak."


Saat itu Elang merasa bahagia dan entah kenapa rasanya sangat melegakan. Dia reflek memeluk Dara dengan cukup erat sementara Dara terdiam tanpa respon di posisinya saat menerima pelukan dari Elang.

__ADS_1


"Makasih Dara. Menurut ku kamu akan lebih nyaman di sana, dari pada di sini."


...________...


__ADS_2