
Astaga." Elang mengusap kasar wajahnya. Apalagi gadis di depannya kini sedang menangis. "Lex, please, jangan gini. Gue jadi makin merasa bersalah sama lo. Kita udah berteman lama, dan gue tahu persis lo suka kebebasan. Sumpah ya Lex, sedikit pun gue nggak pernah nyangka kalau lo punya rasa ke gue."
Alexa malah makin terisak dan Elang tidak tahu harus berbuat apa.
"Gue tahu ini salah gue, Lang. Cuma gue aja yang udah berekspektasi lebih, gue pikir kebaikan lo dulu ke gue, perhatian lo, itu semua karena mungkin aja lo punya perasaan lebih ke gue."
Alexa menyentuh telapak tangan Elang. Mata Elang berkilat berusaha melepaskan tatapan Alexa darinya yang kini makin terasa berbeda. Perlahan ia melepas genggaman tangan Alexa. Rasanya aneh, dulu dia biasa saja menerima sentuhan gadis itu. Tapi sekarang setelah dia tahu bahwa Lexa memiliki perasaan padanya, Elang mulai tidak nyaman.
"Lang, apa lo beneran nggak bisa suka sama gue?"
Elang menggeleng. "Gue sayang lo sebagai sahabat, Lex. Dan gue harap semuanya nggak ada yang berubah. Sebaiknya lo lupakan perasaan itu. Gue harap lo bisa kasih perasaan itu ke orang yang lebih pantas. Sorry, Lex. Gue harus pulang, Dara nunggu gue."
"Tunggu, Lang!"
Elang yang sudah berdiri ingin pergi dari sana mendadak berbalik. "Ada apa, Lex?"
"Lo-suka beneran sama istri lo? Yakin?"
"Gue suka sama dia, gue cinta. Sorry, gue harus balik, Lex." Elang pun melanjutkan langkahnya menuju ke tempat parkiran mobil.
Alexa tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis saat dadanya makin sesak dan ia merasakan sakit yang luar biasa.
...***...
Jangan pernah lagi singgah,
Jika tak pernah sungguh-sungguh.
Jangan menyakiti,
__ADS_1
Jika tak mengobati.
Jangan pernah datang lagi,
Jika hanya berujung pergi.
Tak perlu lagi perbaiki,
Kau datang hanya untuk pergi.
Maafin aku Dara.
Elang mempercepat laju mobilnya berusaha untuk secepatnya sampai di rumah. Dara dan hanya Dara yang kini dia pikirkan.
"Kamu nggak apa-apa, kan? Semoga kamu tetap percaya aku,"
***
"Dara? Kamu dimana?"
Dara tidak ada di kamarnya, di kamar mandi dan di dapur. Dia terus mencari di setiap sudut rumah tapi tetap saja Dara tidak ada.
"Dara? Kamu dimana?"
Tidak ada jawaban. Apakah Dara kabur? Tidak mungkin! Jangan-jangan Dara belum sampai rumah? ASTAGA!!
"DARA!!"
Tiba-tiba saja terdengar derap langkah kaki seseorang dari belakangnya.
__ADS_1
Elang segera berbalik dan melebarkan matanya melihat dia yang kini berdiri di depannya.
"Kakak..."
"Dara!"
Secepatnya Elang langsung memeluk Dara. Untuk sejenak dia berpikir mungkin saja sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu.
"Kamu nggak apa-apa?" Elang memeluk Dara dengan sangat erat.
"Aku nggak apa-apa."
"Syukurlah, aku kira kamu kenapa-kenapa." Elang mengecup puncak kepala Dara dengan lembut. Saat itu Elang dapat merasakan tubuh Dara gemetaran dan ia menangis.
"Kak.."
"Ya?"
"Kita bercerai saja."
Elang mencengkeram erat kedua pundak Dara. "Kamu bilang apa?"
Mata yang merah dan basah itu hanya terpejam membiarkan bulir bening mengalir di pipinya. Elang menyentuh pipi itu sambil menyeka air mata tersebut. "Maksud kamu apa Dara?"
Dara membuka matanya lalu menggenggam tangan Elang. "Aku nggak mau jadi penghalang kebahagiaan kamu, Kak. Please, aku mau tinggal di Bandung ya, boleh kan?"
"Kamu mau tinggalin aku ke Bandung? Setelah itu kamu nggak mau bersama aku lagi?"
Dara hanya terdiam dengan bibir yang bergetar.
__ADS_1
"Kamu mau ninggalin aku, Dara? Kamu tahu kan aku sayang sama kamu." Elang menggelengkan kepalanya dan tidak terasa ia juga menangis. "Jangan gini Dara, maafin aku karena tadi aku biarkan kamu pulang sendiri."
Dara menyeka air matanya, dia berusaha tetap tegak berdiri di hadapan Elang.