
Sudah empat puluh hari kepergian Guntur. Rumah baru saja mulai sepi dari pelayat yang mengucapkan belasungkawa. Hingga Rania, ibu mertuanya mengajak dia berbicara dengan serius tentang dia ke depannya.
Dara tidak tahu, apakah keputusannya sudah benar atau belum.
Dara, hanya ingin fokus pada bayi yang ada di kandungannya. Tidak peduli apapun yang terjadi, dia akan tetap membesarkan bayi itu dengan tangannya sendiri.
"Tapi Kak, sepertinya sudah tidak ada yang perlu di ubah. Biarkan seperti ini saja," ucap Dara sambil perlahan mengurai genggaman tangan Elang padanya.
Elang masih menatap Dara. Dia tahu bahwa wanita di depannya itu tidak akan begitu saja mengikuti keinginannya. Sejujurnya Elang merasa ini tidak adil untuk Dara. Bagaimana bisa dia tega menceraikan Dara dalam keadaan seperti sekarang. Sementara luka di hati Dara karena kepergian Guntur tidak akan semudah itu hilang begitu saja.
"Dara. Kalaupun kamu nggak mau mengubah isi perjanjian itu. Kumohon kamu ikut pindah denganku ya. Ke rumah baru kita," ajak Elang.
Apa ini gila. Kenapa kata-kata Elang seolah seperti Dara adalah istri sahnya. Padahal, sudah jelas, bukan? Pernikahan mereka, hanya sebuah formalitas.
"Kak, kalau kita pindah. Apa kata nyonya Rania dan Tuan Kusuma," balas Dara.
Bahkan dari awal keduanya menikah. Dara tidak pernah memanggil orang tuanya dengan panggilan akrab. Tuan dan Nyonya? Dara tetaplah bagian dari keluarga Kusuma saat ini. Tidak peduli biarpun status pernikahan mereka hanyalah di atas kertas saja. Biarpun Elang memahami bahwa Dara merasa tidak enak memanggil orang tuanya dengan panggilan akrab sementara mama dan papanya sangat cuek terhadap Dara.
Kusuma saja bisa dihitung berapa kali berbicara dengan Dara. Karena itulah Elang merasa tidak tega jika Dara tetap tinggal bersamanya di rumah keluarga Kusuma.
"Jangan pikirkan mereka. Ini semua keputusanku. Kamu harus ikut ya? Ini semua demi kebaikan kamu juga. Masalah setelah kamu melahirkan itu akan kita bahas nanti. Yang terpenting selama masa kehamilan kamu yang tinggal beberapa bulan ini, harus kamu jaga sebaik mungkin."
Dari awal Dara tidak pernah sedikitpun memandang buruk kepada Elang. Baginya, Elang sangatlah baik dan begitu perhatian padanya. Termasuk sikapnya saat ini, bagaimana Dara mencoba menjauh dan menghindari setiap perlakuan lembut Elang, semuanya sia-sia. Nyatanya, Elang masih terus memberikan segenap perhatian itu padanya, meski sekuat tenaga ia berusaha menghindarinya.
"Aku..." tidak tahu harus menjawab iya, atau menolaknya.
"Aku nggak tahu, Kak. Bagiku di mana pun tidak ada bedanya. Aku hanya menunggu bayi ini lahir. Hanya itu saja. Kemarin mamah dan papah mau datang ke sini, tapi aku larang. Maaf, Kak. Aku tidak mau melihat mereka ikut sedih karena keadaan ku yang begitu terpukul. Aku minta maaf ya, aku sudah banyak merepotkan Kakak. Kumohon, jangan berbuat terlalu banyak. Aku, tidak pantas..."
Elang menghela napas panjang lalu menarik tangan Dara dan membawanya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Brakk
Ditutupnya pintu kamar Dara, lalu tangannya mencengkeram dua bahu wanita hamil itu dengan tatapan yang tajam. "Dara."
"Kakak... Kenapa pintunya di tutup?"
"Kenapa? Kamu takut sama aku?" tanya Elang.
Ada apa ini? Kenapa saat itu Dara melihat sorot mata yang menggelap dari Elang.
"Bukan gitu, Kak," sanggahnya.
"Terus?"
"...." Dara tidak tahu harus menjawab apa. Elang sangat berbeda dari biasanya.
"Dara, walau kita hanya menikah demi sebuah formalitas belaka. Kamu tetap istriku."
"Lalu? Kamu tidak mempelajari dengan pendapat yang lain? Bagaimana nyatanya kalau pernikahan ini tetap sah?"
"Dara nggak mengerti apa maksud Kakak. Please, Kak lepasin..."
Melihat Dara mengalihkan pandangan darinya. Membuat Elang akhirnya melepaskan cengkeramannya itu.
"Maaf," kata Elang kemudian langsung keluar kamar itu dan menutup kembali pintunya.
Saat itu Dara bukan hanya terkejut dengan sikap Elang. Tapi dia juga tidak mengerti kenapa Elang jadi seperti itu padanya? Tatapan itu, benar-benar belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan yang begitu mengintimidasi dirinya, seolah berharap orang yang ditatapnya tunduk tanpa perlawanan.
"Kak Elang kenapa?" ucap Dara sambil memegangi dadanya. "Apa aku salah? Bukankah kita memang nggak seperti pasangan pada umumnya? Aku ini siapa? Aku nggak pantas di perlakukan spesial oleh Kak Elang."
__ADS_1
"Arrggghhhh!! Sialan!" Elang memukul kemudi mobilnya berulangkali. Saat itu rasanya ia begitu kesal. Entah kesal dengan dirinya sendiri yang begitu frontal terharap Dara tadi. Atau karena setiap penolakan Dara yang justru membuatnya terluka?
Saat itu ia langsung pergi keluar dari rumah untuk menetralisir rasa kesalnya itu. Dia sadar bahwa Dara tidak bersalah dan tidak seharusnya dia meluapkan segala perasaan yang dia tidak mengerti itu. Elang merasa aneh dengan hatinya sendiri. Saat ini, kenapa dia ingin sekali memiliki Dara seutuhnya?
"Brengsek! Kenapa lo jadi main perasaan sih, Lang!" umpatnya kesal pada dirinya sendiri.
Karena tidak tahu harus kemana. Elang akhirnya memutuskan untuk ke kantor. Ini sudah sore dan seharusnya Elang tidak perlu ke kantor karena jam kerja sudah selesai.
"Pak Elang? Kok, balik lagi ke kantor? Katanya mau pulang cepat?" ucap Teddy asistennya.
"Bikinkan gue kopi."
"Ya?" Teddy terkejut saat Elang menggunakan kata "gue" saat berbicara padanya. Padahal di kantor biasanya Elang selalu menggunakan bahasa yang formal. Lagi pula kopi? Bukankah itu pekerjaan OB? Pikir Teddy.
"Maaf, Pak. Biar saya suruh OB buatkan."
Sejak kepergian saudaranya. Elang cenderung pendiam di kantor. Hari ini Teddy merasa aneh dengan sikap bosnya itu. Elang untuk pertama kalinya terlihat sangat frustrasi.
"Ya. Buruan nggak pake lama!" Elang yang baru datang langsung menggebrak meja resepsionis hingga membuat Teddy dan karyawan lain terkejut.
"Pak, apa Bapak baik-baik saja?" tanya Teddy merasa heran kenapa bosnya itu keliatan marah.
"Lakukan aja apa yang gue suruh. Bawa ke ruangan gue dan lo juga sekalian masuk, ada yang mau gue tanyain ke lo."
Meski cemas dan bingung. Teddy hanya mengangguk saja mengikuti perintah bosnya.
"Baik, Pak."
Tak berapa lama Teddy masuk ke ruangan Elang membawakan kopi. OB baru saja membuatkan kopi tersebut untuk Elang. Sambil menarik napas dalam-dalam, Teddy menaruh kopi tersebut ke atas meja kerja bosnya.
__ADS_1
"Silahkan kopinya, Pak."
Elang menoleh sekilas ke arah Teddy. Tapi mendadak ia kehilangan selera untuk meminum kopi itu.