Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
65 - First Night : Milikmu


__ADS_3

...Lanjut ini masih part 21+ ya....


...Bocil skip aja plis jangan julid wkwkkw...


...***...


"Panggil aku, Sayang? Boleh, kan?"


Dara tersentak, dia agak sedikit kaget dan belum terbiasa. Tapi, bukankah sepasang suami istri wajar memiliki panggilan sejenis itu.


"Iya, sa-yang." Meski gugup dan gagap. Dara akhirnya mengatakannya. "Sayang," bahkan dia mengulanginya dan Elang tampak senang mendengarnya.


"Makasih, Sayang. Kamu yang terindah untukku. Nggak perlu memikirkan penampilan, begini dan bagaimana pun penampilanmu, aku tetap suka, dan cinta."


Lalu, untuk apa lagi Dara masih mengkhawatirkan hal klise seperti itu di malam pertamanya? Dia hanya perlu menyerahkan segenap jiwa raganya pada Elang, bukan?


Kedua tangan Dara membelai pipi Elang perlahan, lalu turun melingkari leher belakangnya. Yang selalu ingin Dara lakukan, tapi dia tidak memiliki cukup keberanian memulainya.


"Sayang, bagiku juga kamu yang paling indah," puji Dara, lalu sedetik setelahnya dia berhasil mewujudkan keinginannya, mengecup bibir Elang, memberikan ciuman yang panas, gerakan yang mendominasi saat dia memulainya lebih dulu.


Masih malu, tapi dia rasa tidak separah saat awal tadi. Kini, Dara mulai berani membalas setiap sentuhan suaminya dengan perasaan gegap gempita, euforia, di malam indah mereka berdua.


Kembali Elang mendaratkan ciuman di bibir Dara, kali ini dengan bibir yang sedikit terbuka dan itu tidak di sia-siakan oleh Elang untuk menggunakan lidahnya menerobos masuk hingga—cumbuan itu makin mendalam, dan panas.


Syukurlah, trauma Dara sepertinya sudah hilang. Di hadapannya kini, hanya ada Elang dengan seluruh cintanya.


"Kamu sudah siap, kan? Kamu nggak takut lagi?" tanya Elang, masih ada kecemasan, dia tidak mau melukai Dara karena trauma itu.


"Aku baik-baik saja. Kamu boleh melakukannya." Dara sangat yakin, dan dia juga tidak ingin membuat Elang menunggu lama. "Lakukan, sentuh aku."

__ADS_1


Senyuman bahagia terbit di bibir Elang, menyusul sentuhan lagi di bibir wanita cantiknya dibarengi tangannya yang perlahan mulai membuka kancing piyama tidur Dara.


Napas keduanya kian menggebu dengan kabut gairah yang mulai membuncah hebat. Saat bagian tubuh Dara menggoda pemandangan Elang, dan itu sangat indah.


Masih saling menatap dengan tatapan yang menggelap dari keduanya. Sekelibat ingatan tentang dirinya yang sudah tidak suci lagi sempat membuat Dara terusik. Tapi sentuhan Elang di titik sensitifnya, tepat sekali, sangat pas di mana keadaanya telah—sangat—basah. "Ahhh!!" ******* keluar begitu saja dari bibir Dara membuat pikirannya kembali fokus bahwa malam ini milik mereka, tidak ada yang bisa mengusik malam indah ini. Tidak lagi, tidak akan.


Kini Elang sudah melepaskan pakaiannya dan Dara tersipu, kaget, takjub, berpadu menjadi satu rasa, ingin segera—bersatu.


"Sayang, kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang aku sentuh, seumur hidupku."


Lalu apa lagi? Semua yang keluar dari bibir pria kesayangannya berhasil meluluhkan hatinya entah sudah keberapa kali.


"Meski kamu bukan yang pertama, tapi aku yakin kamu yang terakhir," jawab Dara.


Elang menyentuh lagi, kali ini dengan bibirnya yang basah, juga lidahnya tepat di bagian tubuh Dara yang menegang hebat. "Ahhh—sayang..." Sambil menggigit bibir atasnya, sungguh suara itu tak dapat dia sembunyikan, rasanya keterlaluan, dan tak dapat di deskripsikan oleh Dara.


"Aku akan melakukannya, pelan dan lembut. Kalau sakit, kamu bilang, gimana?"


"Kamu jangan segan, aku baik-baik aja." Dara tersenyum, dia mulai terbiasa dengan keadaan dan kenyataan, bahwa dia memang sudah tidak perawan lagi.


Elang membelai habis bibir Dara, kata-kata itu malah dianggap sebagai penyerahan diri yang sepenuhnya. Dan dia tidak akan segan, menikmati apa yang sudah menjadi miliknya.


"Milikku, maka aku nggak akan segan, sama sekali," ucapnya dan itu sebuah penegasan.


"Ya. Milikmu," angguk Dara.


Cinta. Hal itu yang dilihat oleh Dara sekarang. Hasrat, luapan gairah sebagai bentuk cinta yang dalam dari suaminya. Tidak ingin berbohong, sentuhan demi sentuhan yang diberikan Elang seperti candu, dan dia tidak ingin itu berkesudahan.


"Sayang!" Dara tersentak sambil meringis. Dia kira itu tidak akan sakit, tapi ternyata? Apakah dia merasakan sakit yang luar biasa? Tidak! Bahkan ini sangat sakit, perih. "Kenapa sakit sekali, Kak."

__ADS_1


Elang belum sepenuhnya berada di dalam. Lalu kenapa Dara mengeluh sakit?


"Sakit? Maafin aku," sesalnya hendak menarik diri, tapi Dara secepatnya menggeleng.


"Jangan! Jangan berhenti. Lanjutkan aja, Kak."


"Kamu, yakin? Katanya sakit?"


"Aku kaget, ternyata rasanya agak—sakit. Tapi, pelan-pelan, aku nggak apa-apa." Dara mengelus rahang Elang, lalu mengecup bibirnya halus, lembut, membuat rasa sakitnya agak berkurang.


"Baiklah, aku akan pelan-pelan." Elang menyentuh lagi, dengan begitu menggoda. Sentuhan demi sentuhan akhirnya membuat rasa sakitnya memudar sedikit, hingga kini seluruh tubuh Elang masuk sepenuhnya dalam tubuh Dara.


"Kamu, luar biasa."


Dara sangat malu, ketika Elang mengatakan hal itu. "Kamu jangan ngomong, aku malu."


Elang tidak akan tertawa, dia malah gemas langsung menciumi bibir Dara bahkan berpindah ke bagian lainnya.


"A-aku. Sayang...." ******* panjang Dara menandakan pelepasannya mulai dekat.


Padahal Elang sangat pelan, karena takut membuat Dara sakit, tapi secepat ini? Dara mungkin terlalu sensitif. "Ya? Kenapa sayang?" tanya Elang pura-pura tidak tahu.


"Aku kok nggak tahan, nggak apa-apa, kan?"


Terlalu polos, dan itu malah membuat Elang makin gemas. "Jangan ditahan, ikuti apa yang kamu suka. Aku nggak masalah,"


Dara mengangguk. Imutnya, batin Elang.


Cumbuan tak berkesudahan hingga malam itu menjadi malam yang sangat panjang untuk mereka. Kantuk maupun lelah tidak lagi terasa, hanya dipenuhi gairah yang meluap-luap di antara keduanya.

__ADS_1


"Aku mau melakukannya berkali-kali." Elang mengecup kening Dara, wanita itu tergolek lunglai setelah pelepasannya.


__ADS_2