Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
20 - Confession : Aku Berdebar Di Dekat Kamu


__ADS_3

...Setahuku jatuh cinta itu fitrah manusia. Sah saja jika mencintai seseorang terlebih dia yang lebih sering kamu pandangi setiap hari. Saat tersenyum, bahkan menangis. Itulah yang aku rasakan kini. Mungkinkah, aku menyukai Kak Elang? Tapi, aku masih memikirkan kak Guntur. Ayah dari bayi yang ada di dalam kandunganku. ...


^^^Adara Virginia POV^^^


Seperti biasanya semenjak aku tinggal di rumah keluarga Kusuma Diningrat. Dia, lelaki yang begitu ramah menyapaku, bertutur kata lembut padaku, pertama kalinya dalam hidupku merasa diperhatikan sebegitu dalamnya. Akankah aku terjebak dalam perasaan ku sendiri?


"Jangan lupa makan buahnya, ya."


Kak Elang tidak pernah lupa barang sekali pun, mengingatkan aku untuk hal-hal sepele seperti memakan buah, meminum susu dan vitamin ibu hamil. Sampai aku hapal setiap jadwal dia mengecek keadaanku, masuk ke dalam kamar hanya untuk menyelimuti ku sampai aku tertidur. Kini, usia kandunganku menginjak lima bulan.


Tidak lagi bersedih, aku bahagia didekatnya.


Perlakuannya, kelembutannya berhasil mengejutkan aku. Lagi dan lagi. Terlalu panjang, jika aku ceritakan tiap hal yang dia lakukan untukku. Mulai dari pagi ketika aku membuka mata. Sampai aku terpejam dengan selimut hangat yang selalu dia siapkan.


Lima bulan sudah aku berada di rumah ini bersama dia, suamiku secara formal. Senyumnya rasa tak dapat ku abaikan. Manis melebihi gula, aku bahkan seringkali rindu akan rengkuhan tangannya.


Dia memelukku ketika aku sedang terisak di malam hari merasakan tendangan bayi yang mulai terasa aktif. Tahukah dia? Aku menangis bukan karena tendangan kecil yang sama sekali tak meninggalkan sakit.


Namun aku menangis karena hal lain. Membayangkan saat nanti, ketika aku sudah terbiasa dengan perhatian kak Elang. Lalu dengan berat aku kembali pada kenyataan bahwa akhirnya aku akan diceraikan.


"Kamu kenapa? Kok kayak murung gitu? Apa sikecil menendang perut kamu lagi?" tanyanya. Itu yang dia pikirkan, aku kesakitan karena tendangan tak berarti itu.


"Enggak, kok. Bukan." Gelengan saja yang dapat aku berikan sambil mengedarkan pandangan lalu menyesap sisa air yang ada di dalam gelas.


"Kamu bosan ya di rumah terus?"


Apa mungkin aku bosan? Sayangnya tidak. Pria ini selalu menemaniku, menyempatkan waktu saat selepas dia pulang bekerja untuk menjagaku. Aku malah selalu kangen, ingin bersama dengannya seperti sekarang ini. Tidak peduli di dalam rumah atau di manapun. Aku, Dara. Sepertinya benar menyukai dia.


"Dara nggak bosan kok, Kak. Oh iya, gimana keadaan Kak Guntur? Apa dia udah siuman?"


Tentu aku tidak pernah melupakan pria itu. Kak Guntur adalah cinta pertama bagiku. Sekaligus pria yang pertama kali menyentuhku, hingga aku mengandung buah hatinya. Meski rasanya aku mulai terbiasa dengan adiknya, yang memperhatikan aku jauh melampaui ekspektasi ku.


Helaan napas ku agaknya membuat kak Elang merasa heran.


"Bang Guntur belum sadar, Dara. Kamu kangen ya sama bang Guntur?"


Kedua matanya menatapku dengan intens dan meneliti. Aku tersenyum samar sambil mengetuk-ngetuk meja makan pelan. "Aku hanya ingin tahu keadaannya," jawabku.


Memang hanya karena itu. Kangen? Aku lupa kapan terakhir kali aku merindukan lelaki itu. Sepertinya itu sudah lama sekali, aku mungkin saja sedang terlena sendirian.

__ADS_1


"Dara."


Aku mengangkat wajahku saat kak Elang menatapku sambil mengusap telapak tanganku. Ada apa ini? Jantungku berdegup kencang.


"Iya, Kak?"


"Kamu cinta 'kan sama bang Guntur?"


Pertanyaan itu. Jadi, itu yang akan ditanyakan kak Elang.


"Cinta?"


Aku hamil anak kak Guntur. Meski saat itu aku dipaksa. Aku tidak ingin melakukan hal keji itu. Tapi, aku memang mencintai kak Guntur. Hanya saja yang ditanyakan kak Elang itu apakah sekarang? Atau perasaan yang lalu?


"Ya. Saat ini kamu cinta 'kan sama bang Guntur?"


Saat ini. Jadi yang ditanyakan kak Elang adalah saat ini. Aku—bingung.


"Dara bingung, Kak."


"Bingung?"


Kak Elang terlihat mengusap keningnya berulang. Sambil mengulum bibir bawahnya, apa dia sedang bingung juga? Pikirku.


"Kamu mulai menyukai aku, Dara?"


Jantungku nyaris meledak. Apa aku tidak salah dengar? Yang dia tanyakan barusan itu? Aku harus jawab apa? Tidak tidak, aku mana mungkin mengiyakan. Apa setelah ini kak Elang akan langsung meninggalkan aku, karena aku sungguh tidak sadar diri, siapa aku sekarang.


"Aku tidak ... maksudnya ... apa, Kak?"


"Aku tanya kamu, Dara. Kamu tidak menyukai aku, kan?"


Bagaimana ini, aku harus jawab apa.


"Bukan begitu." Aku menggeleng.


"Baguslah, Dara. Jangan menyukai ku. Karena aku tidak berhak disukai oleh kamu."


Aku baru saja mendustai diriku sendiri. Aku yakin, aku yakin aku berdusta barusan.

__ADS_1


Matanya masih menatapku, aku makin gugup. Apa kalau aku mengatakan yang sejujurnya, semua akan lebih berantakan?


"Kak ..."


"Ya? Kenapa Dara?"


"Dara suka Kak Elang."


Begitu saja meluncur dari mulutku. Tidak tahu bagaimana sikap kak Elang setelah ini terhadapku. Tapi selama lima bulan tinggal satu atap meski tidak seranjang. Aku merasa diperhatikan lebih oleh pria di hadapanku ini. Salahkah jika rasa suka tumbuh di dalam hatiku untuknya? Aku siap, jika pada akhirnya kak Elang akan meninggalkan aku.


Dia kelihatan kikuk. "Maksud kamu?"


"Ya, maafkan Dara, Kak." Aku hanya menunduk.


"Dara... Kamu pasti menyukai aku karena semua sikap aku ke kamu, kan? Rasa terima kasih kamu ke aku? Ya?"


Sebenarnya apa yang diinginkan pria ini. Bertanya tentang rasa yang aku punya untuknya. Semua terasa membingungkan. Tentu saja aku suka karena dia baik. Tapi terkadang aku merasa berdebar, bukan ... bukan terkadang, tapi—setiap kali berhadapan dengannya, aku berdebar.


"Kakak maunya apa?" Karena aku bingung dan juga ingin tahu, maksud pertanyaan dia padaku. Dia mau apa?


"Maafkan aku Dara. Tapi, semua kebaikan aku padamu, karena kamu adalah orang yang berarti bagi bang Guntur. Kamu juga wanita yang sangat dicintai olehnya. Aku juga menyukai kamu, karena kamu baik hati dan jujur. Kamu pantas dicintai Dara..."


Aku hanya diam mendengarkan penuturannya. Ungkapan hatinya? Entahlah, aku tidak berharap dia membalas perasaanku ini. Yang aku sadari, penuh rasa tidak tahu diri.


"Aku paham, Kak. Aku menyukai kakak karena terbiasa bersama Kakak selama aku tinggal di sini. Aku, tidak mengharapkan balasan, aku sadar siapa aku. Aku tahu kok batasan yang menghalangi aku dan Kakak. Ada tembok besar di tengah-tengah kita. Aku pun tahu, aku nggak pantas mendapatkan perasaan lebih dari Kakak."


Setidaknya aku merasa lega setelah mengutarakannya. Selebihnya, aku serahkan pada dia. Apapun takkan mengubah kenyataan, siapa aku dan siapa dia.


Hal yang tidak diduga pun terjadi. Kak Elang, dia mendekatiku hingga sangat dekat. Lalu wajahnya makin mendekat ke wajahku. Hembusan napasnya terasa hangat mengenai permukaan bibirku. Apa yang akan dia lakukan.


Deg.


Dia mengecup bibirku sekilas lalu menempelkan keningnya di keningku.


"Aku nggak berhak menyukai kamu, lebih dari ini. Adara, ada yang lebih berhak dariku. Aku-" putusnya lalu mengusap-usap pipiku dengan telunjuknya. "Meski aku merasakan perasaan yang aneh, aku mulai ..."


Aku meneguk ludahku keras. Aku memaku dan membisu seketika. Belum selesai aku terkesiap karena ciuman sekilas darinya yang entah apa artinya itu. Kini dia malah menatap kedua mataku dalam-dalam.


"Aku berdebar didekat kamu."

__ADS_1


__ADS_2