Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
59 - Psikopat : Kamu Juga Milik Guntur


__ADS_3

"Sebenarnya anda mau bawa saya kemana sih?"


Lelaki itu hanya menyeringai dan terus menyeringai membuat Dara kian ngeri.


"Tenang saja. Kamu akan tahu sebentar lagi. Rupanya selera Guntur boleh juga ya. Nona cantik sekali,"


Dara sangat mual mendengar ucapan lelaki itu barusan. Dia malah terus teringat Elang, di saat seperti ini, kenapa handphone nya mati? Apakah dia tidak akan bertemu lagi dengan Elang? Apakah orang di depannya itu akan membunuhnya?


Di belakang mobil itu, Elang masih mengatur kecepatan mobilnya berusaha agar mobilnya tidak tertinggal jauh dari mobil di depannya yang sedang membawa Dara.


"Kak Elang, tolong selamatkan Dara..."


...***...


"Kemana orang itu akan membawa Dara? Ini tidak beres!" decak Elang, melihat mobil yang melaju agak kencang ke jalanan sepi, sepertinya mereka akan menuju pinggiran kota.


Ya Tuhan. Apakah kak Elang akan menemukan aku. Kurasa aku sudah tamat.


Rasa tak tahu lagi harus berbuat apa. Dara hanya bisa pasrah, kemana orang di depannya akan membawanya pergi. Orang itu tidak tahu datang darimana, tiba-tiba mengungkit masalah Guntur. Dara takut, yang dia takutkan bukan keselamatan dirinya, melainkan keselamatan orang-orang di sekitarnya. Keselamatan buah hatinya dan juga orang tuanya.

__ADS_1


Ia cantik. Pantas saja lo suka sama dia, Guntur. Seperti yang lo bilang, gue akan terus menjadi rival lo, sampai kapanpun. Gue akan dapatkan apa yang menjadi milik lo, meskipun lo udah mati.


"Santai saja, Nona. Gadis secantik kamu mana mungkin saya apa-apa, kan. Rahardian tidak pernah menyakiti wanita, apalagi secantik Nona."


Dara merasa jijik. Apalagi lelaki itu terus memandanginya dengan tatapan mesum.


"Saya ada perubahan rencana. Sepertinya seru kalau saya memiliki kamu dari pada wilayah kekuasaan Guntur," ucap pria itu sembari menyentuh permukaan bibirnya.


"Wilayah kekuasaan?" gumam Dara.


"Jangan kurang ajar kamu!" Dara mengalihkan pandangannya dengan gemetar. Apa sebenarnya yang direncanakan pria itu padanya?


"Cukup! Hentikan! Kamu mau bawa saya kemana!" Dara makin takut saat mobil itu masuk ke sebuah gang dan di sana sangatlah sepi. Mobil bisa melewati jalan itu meski pas-pasan, lalu mobil itu berhenti tepat di sebuah rumah kecil, entah itu rumah siapa.


"Kita sudah sampai, kamu tidak perlu berteriak, Nona."


Dara memegangi lututnya yang terasa lemas, dia ketakutan dan tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.


"Turun," ucap pria itu lalu membuka pintu mobil Dara, menarik tangan gadis itu kencang membawanya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Lepaskan!" Dara memberontak, tapi tenaganya tidak ada artinya.


"Kamu akan aman di sini, Nona. Sebentar saya ikat dulu ya, supaya kamu tidak kabur." Pria bernama Rahardian itu mengikat kuat tangan Dara dengan tali tambang di sebuah bangku kayu. "Sudah, sekarang kamu makin terlihat cantik ketika terikat pasrah seperti ini."


"Kamu mau apa, hah! Lepaskan!" Dara memekik sambil menangis.


"Ssstt... Suara teriakan kamu memang luar biasa ya. Sebaiknya aku plester saja mulut kamu dulu,"


Lalu pria itu memplester mulut Dara hingga sekarang tidak ada lagi suara Dara yang terdengar.


"Gadis pintar. Kamu tahu? Guntur begitu beruntung, dia mati dengan damai dan tidak mati di tanganku secara tragis seperti yang pernah aku rencana kan sebelumnya. Tapi, meski dia mati, aku masih belum mendapatkan apa yang pernah di milikinya."


Dulu. Guntur dan Rahardian tidak bermusuhan, mereka malah sangat akrab sebagai teman. Tapi, semua berubah saat perlahan Guntur mulai mendapatkan pengakuan sebagai orang yang di segani di kampus. Terlebih saat Hunter dibentuk oleh Guntur, geng motor itu sudah dikenal luas oleh orang-orang. Rahardian memiliki kepribadian ganda, di satu sisi dia terlihat baik, terpelajar, bijaksana. Di sisi lainnya, dia adalah sosok berdarah dingin, tidak memiliki belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dengan cara apapun.


"Kamu juga dulunya milik Guntur, saya akan dapatkan apa yang pernah di miliki Guntur. Saya juga akan menyentuh apa yang disentuh oleh Guntur. Saya tidak suka dengan orang yang bernama Guntur."


Dara merinding. Saat ini di hadapannya, seperti seorang psikopat. Kejam, bengis, terlihat dari sorot matanya.


Rahardian maju beberapa langkah hingga jaraknya sangat dekat dengan Dara, lalu ia mengelus pipi Dara secara perlahan-lahan, dengan senyum dia melepaskan plester yang ada di mulut Dara. Belum sempat Dara angkat bicara, pria itu malah mencium bibir Dara secara paksa, bahkan menggigitnya hingga Dara tersentak dan jijik. Ciuman itu sangat dalam dan kasar hingga air liur pria itu memenuhi mulut Dara.

__ADS_1


__ADS_2