Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
66 - Opium : Ranjang


__ADS_3

...Makasih buat yang udah setia baca sampai sini, semoga kalian terhibur, ya. Jangan lupa follow dulu ya, dan vote nya di tunggu ^^...


...****...


Matahari sudah menampakkan kilau hangat cahayanya. Sementara Dara masih meringkuk di atas tempat tidur seolah enggan untuk bangun.


"Ya Allah, aku lupa. Alpha gimana?" decak Dara segera bergegas turun dari ranjang. "Ahhh, sakit!" suara pekiknya tertahan, dia secepatnya menutup mulut rapat-rapat. Tentu saja, takut ada yang mendengar.


"Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?" Elang tiba-tiba saja muncul menambah kaget Dara.


Apakah Dara lupa yang terjadi semalam, dia pasti merasa sedikit perih sekarang. Dara juga bahkan tidak sempat menatap sebelahnya, dia tidak menemukan Elang di sampingnya. Rupanya suaminya sudah bangun lebih dulu darinya.


Pipinya memerah, meski agak meringis. Sungguh, bagian tubuhnya tidak sedang baik-baik saja sekarang. "Kakak udah bangun? Aku..."


"Kamu sakit? Aku udah bangun tadi, sengaja nggak bangunin kamu. Aku tahu kamu pasti capek dan ngantuk."


Dara menatap Elang dengan pipi memerah, dia bingung harus bilang apa pada Elang. Apakah dia harus jujur bahwa tubuh sensitifnya terasa tidak nyaman?


"Aku harus lihat Alpha, Kak."


"Kamu jangan cemas, Alpha lagi di rumah Mama dan Papa. Mereka katanya mau menjaga Alpha sementara waktu. Nggak apa-apa, kan?"


"Hah? Apa nggak merepotkan Mama dan Papa, Kak?"


"Enggak, kok. Kamu kenapa kok kayaknya meringis, sakit, kah?"


"A-aku agak merasa—perih." Meski malu, dia juga harus berkata jujur pada suaminya.


"Tapi aku tetap nggak mau Alpha jauh dari aku, Kak."


"Sayang, Alpha akan baik-baik aja. Nanti kita jemput Alpha, ya. Sekarang aku gendong kamu dulu deh. Kamu perih dimana?" tanya Elang yang sigap menggendong istrinya memindahkan ke ranjang kembali.


"Kayaknya ini karena semalam, Kak. Anu, itu, maaf ya. Aku nggak bisa jalan," jawab Dara malu setengah mati mengatakan hal itu pada Elang.


"Astaga. Maaf ya. Coba sini aku lihat," reflek Elang menyentuh tubuh Dara, yang katanya—terasa—perih.


"Ah!" Dara sontak bersuara, saat Elang menyentuhnya.


Elang juga salah tingkah. Dia sendiri tidak tahu kalau apa yang diperbuat membuat Dara kesakitan setelahnya. Bukan sakit, sih. Tapi hanya sedikit terasa pedih saja.


"Aku akan cari tahu obatnya, kamu sabar ya." Elang kelihatan menyesal, dia mengusap pipi Dara perlahan-lahan. "Aku nggak tahu kalau kamu bakalan ngerasa perih,"


Dara bertambah malu, sungguh. Padahal sekarang tidak mengapa, setelah Elang menyentuhnya. Aneh, kan?


"Udah nggak apa-apa, kok. Kakak jangan cemas, ini biasa, kan?" ungkap Dara yang tidak mau itu mengganggu pikiran suaminya.


"Aku terlalu menyukai apa yang kita lakukan semalam, aku lupa kalau mungkin kamu akan kesakitan. Ini kesalahanku. Aku yang salah," ujar Elang, sepertinya dia malah semakin merasa bersalah.


"Hei, nggak kok. Suamiku nggak salah. Jangan cemberut gitu, aku malah jadi nggak enak. Sekarang udah nggak perih. Aku cuma perlu mandi air hangat aja, kok."

__ADS_1


Tetap saja Elang merasa bersalah. "Aku bantu kamu mandi, ya?"


Blushhhh


Tawaran Elang seketika membuat pipi Dara makin merah dan terasa panas.


"Jangan, Kak. Aku malu," tolak Dara.


"Kenapa malu? Aku udah lihat semuanya juga." Elang menjawabnya enteng.


"Aku tetep aja, malu. Enggak mau, Kak." Dara tetap menolak.


Namun Elang menggunakan trik yang seketika membuat gelengan Dara pasti akan berubah menjadi anggukan seketika.


Elang mengusap kedua pipi Dara, dengan senyuman manisnya sembari memberikan ciuman kecil, pelan, lembut nan halus yang selalu berhasil membuat gerak Dara terkunci.


Saat kecupan itu dilepas, Dara langsung terdiam mematung. "Aku bantu, ya?"


"Ya, udah." Benar, kan? Akhirnya Dara mengangguk juga pada akhirnya.


Elang menggendong tubuh Dara. Hal itu semakin membuat Dara kepayang hingga dia tidak dapat lagi menyembunyikan rona bahagianya, di pipi merah mudanya.


Tangan Dara melingkar di leher suaminya, lalu dia tidak berhenti menatap mata Elang yang begitu indah berjalan menuju kamar mandi. "Kamu kalau lihatin aku kayak gitu, apa yang kamu pikirin tentang aku?"


Sontak Dara mengalihkan tatapannya. "Aku ketauan mulu kalau lagi liatin kamu."


Elang tertawa kecil. "Aku yang terlalu sulit untuk mengalihkan pandangan dari istriku yang paling cantik."


"Aku cuma berpikir suamiku yang paling ganteng." Dara menjawabnya jujur. "Paling baik, paling segala-galanya, deh."


Elang tersanjung. "Makasih, ya."


Mereka sampai di kamar mandi. Dara diturunkan oleh Elang. Lalu dia menyalakan keran air untuk mengisi bak mandi dengan air hangat.


"Tunggu, ya." Elang yang mengurus semuanya, menyiapkan air hangat untuk istrinya mandi.


Apa yang kamu pikirkan jika pasanganmu melakukan hal itu? Pasti kamu merasa sangat dicintai seperti seorang ratu.


Begitu pun yang Dara rasakan sekarang, dia tidak tahu lagi harus berkata apa, dia terpesona, dia terhipnotis oleh kelembutan dan cinta yang ditunjukkan Elang padanya.


"Oke, udah siap. Kamu boleh masuk ke dalam sini," ucap Elang sambil mengecek suhu air yang berada di dalam bak mandi.


"Ta-pi. Aku malu, Kak. Masa Kakak lihat aku buka baju?"


Entah seperti apa penampakan wajah Dara sekarang, yang jelas dia sangat malu.


"Oke, aku akan berbalik. Kamu bisa masuk ke dalam bak mandi, kalau udah selesai, kamu bilang ke aku, gimana?"


Saat itu Elang merasa istrinya begitu menggemaskan. Kenapa harus malu? Padahal semua yang ada pada Dara sudah menjadi miliknya, dan tentu dia juga sudah melihatnya.

__ADS_1


"Oke," jawab Dara dengan sedikit tawa. "Makasih kamu udah mau ngerti, Kak."


"Aku kan emang selalu ngerti kamu, Sayang." Elang menurunkan piyama tidur istrinya perlahan. Apa ini? Padahal tadi kan katanya?


"Kak, katanya kamu mau berbalik?" Dara membulatkan matanya saat Elang berhasil membuka tiga kancing bagian atas piyama tidurnya.


"Setelah aku pikir-pikir, boleh kan sesekali aku nggak mengerti kamu? Giliran kamu ngerti aku, gimana?"


"Ma-maksudnya?" Sungguh kepolosan Dara malah menjadi pemicu hawa panas di tubuh Elang kembali menyeruak luas.


"Aku suka bagian ketika aku buka baju kamu. Kenapa aku harus berbalik? Apa aku nggak boleh melakukan yang aku sukai?"


Kini seluruh kancing piyama Dara sudah terlepas. Dara sampai tidak menyadarinya.


Tidak menjawab. Dara sepenuhnya menyerah. Terserah, apapun yang akan dilakukan pria di hadapannya. Elang meraih bibir Dara dengan ciuman halus perlahan. Dara hanya merespon seadanya, tanpa perlawanan. Lalu ciuman itu bergerak makin dalam pada dengan tubuh Dara yang sudah polos entah bagaimana caranya, suaminya berhasil menanggalkan seluruh kain yang membalut tubuhnya.


Di sela ciumannya, Elang membuka pakaiannya hingga tidak ada yang berbeda dengan keadaan keduanya sekarang. Bebas dan melepaskan, rasa sakit? Sepertinya sudah hilang.


Permainan bibir itu menyalakan kembali kobaran api hasrat keduanya. Elang mengajak Dara masuk ke dalam bak yang terisi air hangat, dan itu terasa sangat nyaman untuk Dara sekarang. Napas mereka masih memburu dengan tatapan menggelap satu sama lain. Tanpa kata-kata, hanya gerakan saling menyentuh, tidak ingin melepaskan.


Dara terengah saat ciuman itu tergesa dan tidak pernah putus. Sedangkan tangan Elang sudah bergerak meremas tubuh Dara yang pasrah sepenuhnya memenuhi telapak tangan Elang.


Dara mendesis merasakan sentuhan yang sungguh teramat nikmat.


"Ini canduku," sedetik saja dan kini Elang sudah berada di tulang selangka Dara, menyentuhnya dengan lidah yang kasar memberikan kissmark.


"Pelan-pelan, oke?" lirih Dara, dia tidak mau merusak suasana, tapi dia juga tidak mau sampai terasa perih lagi. Meskipun air hangat sejujurnya sudah membuat rasa perih itu hilang, atau karena produksi cairan meningkat karena sentuhan dia dan Elang yang merubah rasa perih menjadi—nikmat.


"Ya, tenang aja, sayang." Elang berbisik dengan permainan jemarinya bergerilya lihai di pusat tubuh Dara yang katanya—perih. Tapi sekarang, itu—basah. "Gimana?" Masih berupa bisikan dengan udara hangat melewati indera pendengaran Dara, hingga rasa itu tidak terkendali lagi.


"Ngghh..." Dara menjawabnya dengan lenguhan kecil, dan pelan.


Masih menyentuh dengan segenap kehati-hatian Elang. Dia tahu, nantinya Dara mungkin akan merasa sakit sedikit seperti tadi. Tapi, bercinta di dalam air hangat, mungkin akan membuat rasanya tidak begitu jelas, berubah sangat—menantang.


Sapuan bibir Elang tidak berhenti dan seolah tidak akan dia hentikan hingga ******* itu semakin tergesa-gesa dengan pertukaran Saliva yang begitu basah—tak tertahankan.


Saling menatap, mereka bercumbu dengan  cipratan air dari dalam bak mandi. Gerakan yang tidak terkendali, memperdaya dengan berbagai posisi alamiah yang berganti. Kadang Dara dibawah, atau sebaliknya.


Memerah, senyum, dan gairah sudah tidak tertahankan lagi. Suara-suara erangan berpadu suara gemercik air seolah memenuhi ruangan itu.


"Nggak sakit lagi, kan?"


Gelengan kepala Dara pelan membuat Elang merasakan kelegaan. "Boleh?"


"Jangan di sini, Kak."


"Terus, di mana?"


Cemas. Kalau-kalau pergerakan mereka tidak terkendali dan itu akan membahayakan karena kamar mandi bisa saja menjadi licin, kan?

__ADS_1


"Ranjang," jawab Dara, pelan.


__ADS_2