
Bukan hanya ketakutan. Dara juga sudah tidak berani berharap kedua orang tuanya akan memaafkannya. Mamahnya seorang bidan yang kompeten di tempat kelahirannya, Bandung. Elis Nur Aisyah adalah wanita yang ramah, baik hati, selain itu dia juga dikenal sangat taat dalam beragama. Kecantikannya terpancar dengan alami, terlihat awet muda meski dia sudah berumur empat puluh tahun.
Lain lagi dengan papahnya. Damian Alexander Cristian yang ternyata adalah seorang muallaf semenjak jatuh hati pada sosok Elis. Pria keturunan Amerika itu memutuskan untuk memeluk agama Islam dan menetap di Bandung bersama dengan keluarga kecilnya.
Hidup Dara bahagia, meski tidak tergolong orang kaya raya. Hanya keluarga sederhana, tak kekurangan hanya cukup dengan hidupnya yang jauh dari kata neko-neko.
Namun semuanya pasti berubah saat Dara mengakui dirinya tengah mengandung buah cinta yang belum saatnya terjadi, karena dia belum menikah.
"Ya Allah, Neng... Mamah dosa apa sampai punya anak hamil diluar nikah."
Elis menangis sambil menahan segenap amarahnya. Ia tidak ingin melukai anaknya yang sedang meringkuk sambil menangis sesenggukan. Dara ketakutan tak berani menatap wajah kedua orang tuanya yang sedang menginterogasinya. Untung saja orang tua Dara tidak memiliki riwayat lemah jantung. Kalau tidak mungkin urusannya akan panjang, seperti sinetron yang sering kita lihat di channel televisi.
"Papah harus meminta tanggung jawab Guntur." Damian tidak berucap sepatah katapun sejak dia mengetahui putrinya hamil. Dia marah, sangat marah. Putri yang selama ini dia jaga, karena kelalaiannya membiarkan anak semata wayangnya itu tinggal ngekost di Ibukota membuat semuanya seperti sekarang. Ini juga salahnya, pikir Damian.
Dara mengangkat wajahnya dengan perlahan. Matanya merah dan sembab, napasnya masih tercekat karena isaknya yang belum dapat ia hentikan. Bagaimana ini, Guntur sedang koma. Dara belum memberitahu orang tuanya tentang hal itu.
"Gu-Gun-Guntur."
"Jangan nangis! Papah nggak mau sampai khilaf terus nampar kamu Dara!" sentak Damian yang akhirnya meluapkan emosinya juga.
"Istighfar, Pah. Sabar, jangan pukul Dara, Mamah nggak kuat," lirih Elis yang juga terisak sambil memegangi lengan suaminya.
Damian memejamkan matanya, berusaha agar tidak melakukan tindakan kekerasan pada putrinya. "Kamu keterlaluan Dara. Apa kamu tidak mengingat wajah Mamah dan Papah ketika kamu melakukan perbuatan dosa itu? Jawab Papah!"
"Ampun, Pah! Maafin Dara!" dia hanya bisa menangis sambil memegangi kaki papahnya. "Ini semua bukan karena Dara menginginkannya, sumpah."
"Maksud kamu, Guntur maksa kamu?" tanya Elis.
Dara bingung, dia harus menjawab apa. Tapi dia juga tidak mungkin berbohong pada kedua orang tuanya.
"Katakan semuanya Dara. Jangan sampai Papah kecewa terlalu dalam. Papah dan Mamah membesarkanmu nggak pernah sedetikpun bercita-cita untuk menjadikan kamu perempuan rendahan!"
Tangisan Elis dan Dara semakin kencang. Dara juga tidak pernah ingin membuat orang tuanya malu seperti sekarang. Dia seperti sedang melempar wajah kedua orang tuanya dengan kotoran menggunakan kedua tangannya sendiri. Dara begitu kecewa dengan dirinya, Dara juga sama, dia juga merasakan- Malu.
__ADS_1
"Kak Guntur nggak pernah berbuat yang melampaui batas terhadap Dara. Hanya saja waktu itu sepertinya kak Guntur sedang mengalami banyak masalah, dia dibawah pengaruh alkohol. Padahal sebelumnya kak Guntur nggak pernah mabuk lagi, itu yang Dara tahu. Sampai akhirnya malam itu hujan deras. Dara nggak ada kekuatan, Dara ketakutan melihat sorot matanya yang berbeda, hingga akhirnya..." putusnya tak sanggup lagi, ia mengatakan itu saja sudah susah payah sambil terisak, tak henti-hentinya menangis.
Elis dan Damian yang mendengarnya langsung terbawa emosi dan bertambah geram dengan perbuatan Guntur.
"Papah akan habisi anak itu! Nggak peduli siapa orang tuanya, sehebat apa mereka! Ini nggak adil buat kamu. Dia udah hancurin hidup anak papah!"
"Ya Allah, Pah, sabar," ucap Elis yang tidak ingin suaminya bertindak dalam keadaan tersulut emosi.
"Maafin Dara, Pah. Mamah, maafin Dara. Kak Guntur sekarang koma di rumah sakit, dua Minggu setelah Dara kasih tahu bahwa Dara hamil, Kak Guntur kecelakaan."
"Astaghfirullah." Elis dan Damian tidak tahu lagi, setelah ini apa yang lebih buruk lagi akan Dara katakan pada mereka.
"Kak Guntur bilang agar Dara mencari orang yang bernama Elang."
"Siapa dia?" tanya Elis. Damian masih berusaha mengontrol dirinya sendiri saat ini. Kejadian ini sangat membuatnya marah, kecewa, sedih bercampur jadi satu.
...***...
"Elang. Kamu baru pulang?" tegur Kusuma yang ternyata sedang duduk tepat di ruang tamu. Sepertinya dia sengaja menunggu sampai putranya pulang ke rumah.
"Papa ngapain di sini? Udah malem, nggak tidur?" balas Elang.
"Papah nunggu kamu."
Elang menghela napas panjang. Semoga saja kali ini papanya tidak menambah beban pikirannya.
"Ada apa?" tanya Elang yang sudah duduk di depan papanya.
Kusuma menatap tajam putranya sambil melemparkan lembaran foto yang entah didapat dari mana.
"Apa itu? Jelaskan!" tekan Kusuma.
Elang mengambil foto-foto itu. Ternyata itu foto dirinya bersama dengan Dara tadi di acara pesta reuni kampusnya.
__ADS_1
"Kamu bilang kalau dia tunangan kamu? Siapa dia?" tanya Kusuma dengan suara meninggi.
"Mana pernah Papa izinkan kamu bawa wanita main asal kenalkan itu tunangan. Ingat Elang! Kamu itu putra keluarga Kusuma, salah ucap sedikit semuanya akan melebar kemana-mana. Kamu tahu kan? Setelah kamu mengatakan itu semua orang mengira dia benar tunangan kamu. Sekarang katakan siapa wanita itu? Apa benar dia pacar kamu? Tunangan? Jangan gila!"
Rahang Elang mengeras. Kedua tangannya meremas foto-foto itu. Ia meneguk dengan susah payah ludahnya sendiri sambil berusaha tetap tenang menjelaskan semuanya kepada papanya.
"Dia perempuan yang sudah dihamili bang Guntur, Pa."
"Apa?!" Kusuma membulatkan matanya lebar-lebar. Sangat shock mendengar ucapan Elang tersebut. "Jadi?"
"Ya. Dia Dara. Siswi SMA, pacar Guntur selama dua tahun. Sekarang dia baru lulus sekolah dan dia hamil anak Guntur, itu berarti dia mengandung cucu Papa."
"Brengsek! Papa tidak mengakui dia sebagai calon cucu papa!" tegas Kusuma dengan raut memerah marah.
"Dia memang cucu keluarga Kusuma."
"Tidak! Dia bukan cucu Papa, Lang!" tegas Kusuma masih dengan amarahnya.
"Tapi itu kenyataannya. Sudahlah, Pa. Jangan bersikap kejam. Bukankah Papa orang yang berpendidikan. Jangan seperti ini, dia adalah korban Guntur. Entahlah kenapa bisa Guntur waktu itu sampai mabuk-mabukan hingga menghamili pacarnya yang masih polos itu. Papa pasti lebih tahu, apa yang di alami Guntur selama ini, dia stress dan tertekan oleh tuntutan papa dan mama."
Kusuma bukannya tersadar setelah mendengar penuturan putranya. Ia malah semakin geram.
"Tutup mulut kamu! Jangan menyalahkan papa atas tindakan bodoh abang mu!"
Elang tertawa remeh. Dia sudah mengira bahwa papanya tidak akan semudah itu sadar.
"Lebih baik Elang percepat saja waktu pernikahan Elang dengan Dara. Sebelum semuanya bertambah runyam dan lebih membuat keluarga ini semakin malu nantinya. Ingat, Pa. Bukankah Papa sendiri yang bilang. Image keluarga ini yang terpenting. Karena itu ikuti kata-kata Elang."
Elang pun memilih pergi ke kamarnya meninggalkan papanya yang masih dalam keadaan geram.
...___________...
Boleh kasih komen dan like nya ya. Terima kasih.
__ADS_1