
Malam itu Elang harus makan malam bersama dengan klien pentingnya. Dia sudah menitipkan pesan agar Dara makan duluan dan tidak menunggunya karena mungkin dia akan pulang larut.
"Pak Elang, gimana dengan pernikahannya? Saya belum dengar cerita dari Pak Elang nih. Istri Pak Elang masih sangat muda ya," kata rekan Elang bernama Pak Diaz.
"Istri saya memang masih sangat muda, Pak." Elang agak bingung menceritakan tentang pernikahannya. Dia juga tidak suka terlalu banyak membahas masalah pribadi.
"Santai saja Pak Elang. Ini kan sudah selesai membicarakan masalah bisnis. Jadi, tidak ada salahnya kalau kita agak rileks dengan membicarakan yang ringan," ujar Pak Diaz.
"Ya, Pak Diaz. Saya tidak terlalu sering membahas masalah pribadi."
"Tidak Pak Elang, jujur istri saya juga jauh lebih muda dari saya kok. Menurut saya malah rentan umur Pak Elang dan istri tidak terlalu jauh. Pak Elang juga masih sangat muda," kata Pak Diaz lagi.
Elang hanya tersenyum.
"Biasanya lebih seru, kalau dengan yang lebih muda, pikiran kita juga lebih santai dan tidak terlalu tegang. Saya ini bicara formal kalau di depan teman kerja, rekan seperti Pak Elang. Tapi kalau di hadapan istri saya itu berbicara seperti tidak ada jarak. Kayak seumuran gitu lho Pak Elang."
Elang tertawa pelan. "Begitu, ya. Hm, saya sama saja begini Pak. Memang saya juga orangnya tidak bisa lues, lebih kaku."
"Pasti bisa berubah, seiring berjalannya waktu. Ngomong-ngomong saya doakan semoga pernikahannya langgeng ya, Pak Elang."
Langgeng? Elang dan Dara bahkan sudah merencanakan berpisah saat anak Dara lahir.
"Terima kasih doanya, Pak Diaz."
...***...
Elang tiba di rumah pukul sepuluh malam. Dia membuka pintu dan semua sudah gelap. Dia berpikir Dara pasti sedang istirahat sekarang. Elang mengetuk pintu kamar Dara, tapi tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Kak Elang?"
Elang terkesiap, ternyata Dara berasa di belakangnya. "Dara kamu belum tidur?"
"Hm, tadi aku ketiduran, Kak. Terus aku terbangun baru saja, aku mengambil air putih."
"Astaga, kenapa nggak minta tolong Bibi?"
"Eh, nggak apa-apa kok, ini cuman ngambil air yang nggak jauh dari kamar. Lagi pula aku juga harus bergerak, jadi nggak boleh sedikit-sedikit mengandalkan bibi," jawab Dara.
Dara kemudian membuka pintu kamar. "Kakak mau masuk?"
Elang mengangguk. "Ya,"
Dara membiarkan Elang masuk, dia menyalakan lampu lalu duduk di sofa dekat tempat tidur. "Maaf ya, karena saya, eh, karena aku lembur malam ini."
"Enggak kok. Nggak aneh, cuman aku ngerasa lucu aja. Tapi, aku serius nggak apa-apa, aku ngerti Kak Elang harus kerja."
"Syukurlah kalau kamu nggak apa-apa, Dara." Elang mengusap rambut Dara. Tidak berhenti di situ, Elang juga menggenggam tangan Dara, sontak mata Dara agak melebar karena terkejut.
"Maaf, aku tidak sengaja. Tadi hanya ..." putus Elang merasa kikuk sendiri. Kenapa dia harus menyentuh tangan Dara?
"Nggak apa-apa Kak." Dara tersenyum lalu mengusap tangan Elang. Dara mencium tangan Elang, hal itu membuat Elang tercengang.
"Terima kasih karena sudah sangat baik. Maafkan aku karena aku membuat Kakak repot."
Mata Dara mulai berkaca-kaca. "Kamu lagi sedih?"
__ADS_1
"Enggak. Hidup aku memang sudah menyedihkan, jadi apa bedanya waktu aku sedih dan biasa-biasa aja."
"Hei kamu nggak boleh ngomong gitu. Kamu nggak pernah menyusahkan ku." Elang mengangkat wajah Dara yang tertunduk, dia sedang menangis.
"Kamu jangan nangis, Dara. Aku nggak mau liat kamu sedih."
"Jangan terlalu baik denganku, Kak."
"Apa ada yang membuat kamu sedih? Mungkin kamu dengar kata-kata yang tidak enak dari orang rumah?"
"Enggak. Semua orang baik sama Dara. Apalagi orang di rumah ini." Dara segera menggeleng.
"Lalu pasti ada sebab kenapa kamu sedih kan?"
Dara hanya diam, dia tidak mungkin bilang pada Elang kalau dia menangis sebab tetangga yang menggunjingnya.
"Kamu lagi kangen sama Guntur?"
Ya, Dara kangen. Kalau saja Guntur tidak koma, pasti laki-laki itu yang bertanggung jawab atasnya. Bukan Elang yang dijadikan korban. Dara makin terisak, cukuplah dia yang menyimpan rasa sakit itu sendiri. Biarlah Elang tidak tahu alasan kenapa dia menangis.
"Iya, Kak. Dara harap Kak Guntur segera siuman."
Perempuan yang ada di hadapan Elang adalah perempuan yang baik. Baru beberapa minggu dia mengenal Dara, tapi Elang bisa mengatakan Dara adalah orang baik dan jujur. Dia tidak tega, jika harus membiarkan Dara terus bersedih.
"Ibu hamil tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Guntur juga pasti akan ikut sedih. Nanti kita jenguk Guntur kalau dokter sudah membolehkan ya? Aku juga ingin melihat keadaannya."
Dara akhirnya bisa tersenyum. Sikap Elang begitu lembut. Dia tidak tahu apakah dia akan bertahan sampai akhir?
__ADS_1
Ingat Dara, kamu tidak boleh menyukai Elang, kamu harus tetap fokus kenapa kamu menikah, untuk apa? Bukan untuk menyukai dia, suamimu yang orang-orang tahu. Ingat kamu harus tetap berpisah dengannya nanti.