Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
50 - Bingung : Apa Aku Bisa?


__ADS_3

...Adara POV...


Perasaan tenang dan aman selalu aku rasakan setiap kali berada di dekatnya. Lalu sekarang setelah aku dan dia memutuskan saling menerima dan bersama, apakah semuanya akan bahagia seperti ini terus sampai akhir?


Setelah dia mengatakan padaku agar aku berhenti bekerja sebagai sales promotion girl akhirnya aku menuruti keinginannya itu. Meski aku masih bingung apakah aku harus menerima tawaran kak Elang ke Jakarta atau tidak.


Banyak yang berubah semenjak aku melahirkan Alpha. Mamah yang semula bekerja sebagai bidan pun memutuskan untuk berhenti menjadi bidan dan fokus mengurusi Alpha di rumah. Beruntung papah masih sanggup menanggung semua beban hidupku dan Alpha sehari-hari. Walaupun sebenarnya keluarga Kusuma selalu ingin memberikan bantuan untuk hidup Alpha, tapi aku juga tidak mengerti, rasanya kurang nyaman saja menerima semua bantuan tersebut.


"Neng, kenapa malah bengong? Kamu udah memberikan surat pengunduran diri?"


"Mamah. Udah kok, apa Alpha udah bobo?"


"Udah, Neng. Kamu mau ikut ke Jakarta dengan Elang?"


Aku terdiam karena aku sendiri masih meragu antara menerima tawaran itu atau tidak.


"Dara belum tahu, Mah. Kalau Dara ikut ke Jakarta dengan kak Elang. Gimana dengan Alpha, ya? Mamah nggak apa-apa kalau pisah dari Alpha?"


Kedekatan Mamah dan Alpha sudah terlalu intim sebagai nenek dan cucu. Mamah sangat menyayangi Alpha, bahkan sejak Dara memutuskan bekerja, Mamah yang lebih banyak bersama dengan Alpha. Aku membayangkan Mamah pasti akan sedih kalau berpisah dari cucunya.

__ADS_1


"Neng, kamu jangan mikirin Mamah. Yang pasti mamah dan papah akan selalu dukung kamu, kok. Apalagi Elang bilang dia mau kamu kuliah lagi, itu Mamah dan Papah senang banget. Kamu kan pengen banget kuliah, iya, kan?"


Memang benar, aku ingin sekali kuliah dan dapat membanggakan orang tua. Tapi sekarang aku memiliki Alpha, tentu aku tidak akan seleluasa sebelumnya, kan?


"Dara sudah memiliki Alpha, Mah. Bagaimana bisa Dara leluasa kuliah. Lalu siapa yang akan menjaga Alpha?"


Mamah mengelus punggung tanganku dengan senyum tipis. "Mamah yang akan jaga Alpha, Neng."


"Mamah?"


Aku bingung apa maksud Mamah. Apa mamah ingin aku yang berpisah dari Alpha? Ah tidak! Aku mana bisa!


"Bukan. Mamah kan bisa ikut sama kamu, Neng. Elang udah bilang sama Mamah, kalau misalkan Mamah mau, Mamah bisa ikut ke sana, kok."


Lagi-lagi aku terkejut. "Kapan kak Elang bilang gitu ke Mamah?"


"Rahasia, yang jelas Elang itu pria dengan pertimbangan matang, Neng. Papah kamu juga setuju kalau Mamah nemenin kamu ke Jakarta, lagi pula Papah ada pekerjaan di sana, semua berjalan secara kebetulan. Papah ada rumah yang bisa kita tinggali, jadi kamu nggak perlu merasa menyusahkan keluarga Kusuma, gimana?"


Apa ini? Rencana Tuhan begitu tersusun rapi dan aku tidak menduganya. Kebetulan yang sangat pas meski aku tidak pernah membayangkan akan ada kebetulan yang semacam ini dalam hidupku.

__ADS_1


"Mamah tahu kamu cinta sama Elang. Mamah juga mau kamu tidak lagi merasa rendah diri di hadapan Elang, Neng. Anak Mamah kan cantik, pintar, baik hati. Kamu bisa kok menunjukkan kalau kamu pantas untuk Elang. Mamah dan Papah akan berusaha semaksimal mungkin agar kamu bahagia, kamu harus tetap semangat yah."


Mamah...


Aku tidak menyangka bahwa kedua orang tua ku teramat sangat memperhatikan ku bahkan sampai urusan perasaanku juga. Mamah yang sangat tahu tentang perasaanku terhadap kak Elang. Aku selalu merasa tidak pantas untuk pria sempurna seperti kak Elang. Apakah yang dikatakan mamah bisa aku wujudkan? Menjadi wanita yang pantas untuk kak Elang?


"Mah, apakah Dara bisa?"


"Mamah yakin pasti kamu bisa, kamu jangan merasa rendah, Nak. Elang sangat mencintai kamu, itu karena ada sesuatu yang sangat dia cintai dari diri kamu, tepatnya di sini."


Mamah menunjuk ke dadaku. "Hati kamu, Neng. Kamu nggak tahu bahwa hati kamu sangat baik, dan itu yang bikin Elang cinta sama kamu,"


Apakah begitu? Apakah benar yang dikatakan Mamah?


"Tapi, Mah-"


"Kamu nggak boleh pesimis, dong." Mamahku menggelengkan kepalanya lalu memeluk tubuhku. "Anak Mamah tuh luar biasa, kuat dan juga sangat sabar,"


Aku sendiri tidak pernah melihat yang seperti itu dalam diriku. Aku malah merasa aku sangat lemah dan cengeng. Beberapa waktu yang ku lalui selama ini sangat menyesakkan dan aku seringkali lelah hingga hampir menyerah dengan hidupku sendiri. Kalau apakah aku pantas dibilang wanita yang kuat dan sabar?

__ADS_1


__ADS_2