
Hampir setiap Malam Dara menangis dalam keadaan perutnya yang terasa makin membesar. Terkadang, pinggangnya nyeri dan begitu pegal. Kini, dia ada di kamarnya dulu, yang ada di Bandung. Tinggal bersama mamah dan papahnya menjadi pilihan Dara hingga dia nantinya melahirkan dan membesarkan buah hatinya.
"Maafin aku, Kak." Dara selalu menyesal setiap kali teringat wajah Elang. Pria yang begitu dia sayangi sampai sekarang.
Namun walau menyesal sekalipun, Dara tetap tidak mungkin kembali lagi pada Elang. Ini adalah keputusannya memilih pergi menjauhi Elang karena menurutnya ini yang terbaik.
"Aku cuma mau kamu bahagia, dan aku merasa aku bukan yang tepat untuk kamu. Aku nggak pantas kamu cintai,"
Suara pintu terbuka membuat Dara menghentikan tangisannya.
"Neng, kamu belum tidur?"
"Mah. Iya, ini baru mau tidur," jawab Dara.
Elis mendekati putrinya. Sebagai seorang ibu, dia tentu dapat merasakan kesedihan yang sedang menerpa anaknya itu. "Kamu abis nangis, hm?"
__ADS_1
Dara menggelengkan kepalanya. "Enggak."
"Dara, mamah tahu, kamu pasti abis nangis. Lihat aja nih, pipi kamu basah gini." Elis mengusap pipi putrinya, memang ada jejak air mata di sana.
"Dara enggak apa-apa kok, Mah."
Jauh di dalam hatinya Dara ingin sekali jujur kepada Mamahnya tentang perasaannya terhadap Elang. Tapi, apa gunanya dia membicarakan Elang? Toh, itu semua tidak akan mengubah apapun sekarang.
"Dara, jujur deh sama Mamah. Kamu menyukai Elang kan?"
"Kamu suka kan sama Elang? Mamah bisa melihatnya Dara, kemarin waktu Mamah menjemput kamu, dan saat itu Elang juga kelihatan sangat sedih. Kenapa sih? Kamu beneran serius mau bercerai dari dia?"
Apa yang harus Dara katakan? Dia memang mencintai Elang, tapi pilihannya untuk bercerai dengan Elang sudah dia pikirkan matang-matang. Sejujurnya keputusannya untuk menjalani hubungan serius setelah sama-sama mengungkapkan perasaan pun sempat dia ragukan. Bukan karena dia tidak yakin dengan perasaan yang dia miliki terhadap Elang. Tapi, dia merasa Elang masih bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dan sempurna darinya. Itu semua karena Dara ingin Elang mendapatkan yang terbaik.
"Mah. Apa hak Dara untuk mencintai Kak Elang? Dia juga sangat baik nyaris sempurna. Sedangkan Dara? Pantas pun tidak, iyakan?" ujar Dara.
__ADS_1
Elis merasakan kepiluan mendengarkan ucapan anaknya. Ini semua seharusnya tidak dialami Dara. Anak seusianya pasti sedang menjalani kehidupan yang cemerlang sekarang. Sedangkan Dara? Elis merasa sedih, tidak seharusnya putrinya itu menderita seperti ini.
"Neng, kamu jangan sedih ya. Mamah yakin kamu akan bahagia kok. Kamu jangan selalu merasa diri kamu nggak pantas, Sayang. Kamu itu wanita baik-baik, anak mamah." Elis memeluk putrinya. Dara juga ikut menangis merasakan dadanya terasa sesak mengingat semua perasaannya terhadap Elang.
Mencintai dalam kesendirian, dan berusaha untuk menjauh sejauh-jauhnya dari pria yang sangat dia banggakan jauh di dalam hatinya.
"Dara nggak apa-apa kok, Mah. Ini semua adalah jalan hidup Dara. Lagi pula, asalkan Dara tidak kehilangan buah hati Dara, itu sudah cukup untuk Dara."
Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya begitu menderita. Ingin membalas cinta lelaki yang dicintainya, tapi merasa tidak pantas karena dirinya tidak suci lagi. Dara pasti sangat menderita. Setiap waktu Elis tak pernah lupa berdoa untuk kebahagiaan putrinya, suatu saat nanti Elis berhadap Dara benar-benar menemukan pria yang mencintainya dengan tulus dan apa adanya.
Elang tidak tenang menjalani hari-harinya tanpa Dara. Perpisahan yang tidak pernah dia bayangkan terjadi, luar biasa menyiksa batinnya bahkan dia tidak bisa tidur sepanjang malam hanya terus memikirkan Dara.
Kenapa? Kenapa Dara memilih pergi darinya?
Pertanyaan itu terus terngiang, mendapati sikap Dara yang berubah dingin dan tidak mau bertemu dengannya. Orang tua Dara juga tidak mengizinkan Elang menemui Dara sampai Dara benar-benar mau bertemu dengan Elang.
__ADS_1