
"Kak, kok kamu malah bengong?" tegur Dara.
"Enggak, aku cuma teringat hariku sepi banget waktu kamu mendiamkan aku," ucapnya bersamaan dengan itu Elis muncul membawakan secangkir minuman untuknya.
Dara terdiam mendengar ucapan Elang, apakah Elang juga sama menderitanya dengan dia? Dia juga merasa sangat kesepian saat berada jauh dari Elang.
"Diminum tehnya, ya."
"Terima kasih, Mah."
"Sini biar Alpha sama Mamah ya. Dara kamu temenin Elang, sebentar lagi papah kamu pulang, sekalian aja kamu ajak Elang makan malam di sini ya?"
"Maaf ngerepotin, Mah." Elang mendadak tidak enak, tapi dia juga masih ingin berada di dekat Dara dan Alpha. Seandainya, dia masih suami Dara, pasti akan sangat menyenangkan bisa tinggal bersama dengan mereka. Elang yang sejak kecil kekurangan kasih sayang dari orang tua, selalu merasakan kehangatan keluarga Dara yang berbeda dengan keluarganya.
"Nggak kok, lagi pula Mamah senang karena kelihatannya kalian sudah berbaikan. Elang tolong temani Dara ya, dia selama ini seringkali menyendiri. Mamah cemas kalau dia kelamaan menyendiri jadi murung dan sedih berkepanjangan," kata Elis.
"Mah..." geleng Dara.
__ADS_1
Elis hanya tersenyum lalu membawa Alpha ke kamar dan membiarkan Dara bersama dengan Elang.
Dara kembali menatap Elang yang juga sedang menatapnya, lalu ia memalingkan wajahnya karena tidak kuat berlama-lama menatap mata Elang.
"Kamu memangnya kesepian selama ini?" tanya Elang berpura-pura tidak tahu. Padahal dari melihat tatapan Dara saja dia sudah mengetahui bahwa wanita di depannya itu pasti merasakan hal yang sama dengan yang selama ini dia rasakan.
Kakak sendiri gimana? Kesepian?"
"Kok kamu malah tanya aku, kan aku lagi tanya sama kamu?"
Dara terkekeh lalu menggeleng. "Enggak, aku nggak kesepian. Kan ada Alpha yang nemenin aku."
"Bukannya kamu ada teman perempuan? Dia juga sepertinya sangat akrab dengan kamu," ujar Dara.
"Maksud kamu Alexa?"
"Tuh, kamu langsung ingat namanya. Dia itu sahabat dekat kamu ya?"
__ADS_1
Elang menahan tawanya. Kenapa saat ini Dara tidak dapat menyembunyikan rasa cemburunya, tapi menurutnya itu sangatlah lucu. Ekspresi Dara yang seperti itu membuat Elang malah ingin menciumnya lagi.
"Iya, dia sahabat aku dari SMP," jawab Elang.
"Oh pantesan, kamu kelihatan akrab banget," ucap Dara lalu menghela napas panjang.
Dengan melihat gerak-gerik Dara saja, Elang sudah tahu kalau wanita itu sedang cemburu. Digenggamnya tangan Dara lalu ia mengecupnya perlahan dengan amat lembut.
"Alexa ke England untuk kuliah. Dia awalnya tidak peduli sama sekali dengan pendidikan. Hobinya traveling, bahkan beberapa tahun belakangan dia juga nggak ada kabar karena sedang keliling dunia. Aku dan dia dulu memang sangat akrab, selayaknya sahabat. Tapi seiring kesibukan masing-masing membuat jarak itu semakin terasa dan aku kaget sih waktu dia datang lagi, kirain udah lupa," tutur Elang sambil mengusap punggung tangan Dara.
Senyuman tipis di bibir Dara pun terbit. "Bahagianya punya sahabat, aku nggak pernah punya sahabat, Kak. Satu-satunya teman yang peduli denganku waktu itu hanya kak Guntur."
"Hm, apa itu jadi alasan kamu menerima bang Guntur jadi pacar?"
Entahlah, Dara tidak tahu persis kenapa dia menerima Guntur. Tapi yang jelas saat itu Guntur yang sudah menolongnya, bukan hanya itu saja, Guntur juga selalu datang di saat yang tepat, sehingga Dara merasakan benar perbedaan saat Guntur tidak ada di sisinya.
"Mungkin salah satunya," jawabnya.
__ADS_1
"Mulai saat ini aku yang akan jadi sahabat, pacar, kakak, dan apapun itu yang kamu butuhkan." Elang mengusap pipi Dara, senyuman keduanya saling bertemu. Di saat mereka sedang berduaan, tiba-tiba saja pintu rumah terbuka.