Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
38 - Kebohongan : Lupakan Perasaan Itu, Kita Udah Nggak Bisa


__ADS_3

"Wah cantik banget kamu neng. Udah punya pacar belum?" Seorang lelaki kira-kira berusia empat puluh tahunan berusaha menggoda Dara.


Sudah biasa SPG di goda oleh lelaki hidung belang. Berharap selain pekerjaan itu tentunya ada servis yang lainnya. Tapi itu bukan pekerjaan Dara, dia hanya berusaha mencari rezeki yang halal, tidak mungkin Dara menjual harga dirinya.


"Maaf, Pak. Saya hanya melayani orang yang mau membeli produk," jawab Dara langsung menarik tangannya dari genggaman lelaki itu.


"Saya juga beli kok. Saya borong semuanya, kamu juga pasti dapat bonus kan? Asalkan dengan satu syarat..." ucap lelaki itu dengan nada merayu.


Dara merinding sekaligus jijik melihat tatapan lapar lelaki di depannya.


"Kamu harus temani saya ya, cuma temani makan aja kok."


"Maaf, saya bukan perempuan yang seperti itu."


"Hahaha lalu kamu seperti apa sayang? Atau kamu maunya langsung ke hotel?"


Plakkk!


Dara menampar lelaki itu tepat di pipinya. "Jangan kurang ajar ya Pak! Saya bukan wanita murahan!"


"Dasar wanita nggak tahu diri!"

__ADS_1


Ketika lelaki itu hendak membalas pukulan Dara, seorang pria datang menangkis tangan lelaki tersebut.


"Singkirkan tangan lo dari dia brengsek!"


Dara yang tadi memejamkan mata langsung membuka matanya dan kaget dengan pria di sebelah lelaki itu. "Kamu?"


"Heh lepasin gue woy!" Teriak lelaki itu karena pria yang meremas tangannya dengan kuat sampai dia meringis kesakitan. "Sakit! Lepasin gue!"


"Minta maaf nggak lo sama dia! Cepet!"


"Arrggghh.." lelaki itu makin kesakitan saat tangannya di pelintir kuat.


"Cepet minta maaf!"


"Pergi lo!" Didorongnya dengan keras sampai lelaki tersebut jatuh tersungkur dan kabur dengan cepat.


Dara masih tercengang dengan orang yang saat ini di depannya. Orang yang sudah menolongnya dari gangguan lelaki kurang ajar tadi.


"Kamu nggak apa-apa kan? Udah lama ya, kita nggak ketemu, Dara."


Pria itu tersenyum dengan senyuman yang tidak berubah sama sekali. Masih sangat hangat, juga dengan kebaikan yang tidak berkurang barang sedikit pun. Dara tertegun karena senyuman pria yang begitu amat dia rindukan. "Makasih, Kak."

__ADS_1


"Kamu pasti capek." Pria itu memegang telapak tangan Dara lalu mengecupnya. Tentu saja Dara terkejut langsung menarik tangannya. "Maaf, tapi aku masih harus kerja."


"Tinggalkan pekerjaan ini Dara, kenapa kamu selalu begini. Kamu nggak pernah mau menemui aku, aku selalu datang untuk bertemu Alpha, tapi kamu nggak pernah mau bertemu aku, kenapa? Apa kamu benci sama aku?"


"Enggak, Kak. Aku nggak pernah benci sama Kakak."


"Lalu? Kamu kenapa? Aku masih sayang sama kamu, Dara."


Kedua mata Dara berkaca-kaca. Tidak mungkin. Dia tidak mungkin membiarkan perasaan yang masih ada di hatinya kembali mengusik hidupnya yang lebih baik sendirian seperti sekarang ini. "Maaf, Kak Elang."


"Dara, kamu masih sayang sama aku kan?"


Saat itu apa yang harus Dara katakan pada Elang. Dia tidak mungkin jujur, tapi apakah itu tandanya dia harus berbohong.


"Kakak, kenapa Kakak masih terlalu serius." Dara tersenyum kaku. "Lupakan perasaan itu ya, kita udah nggak bisa."


"Kamu pasti bohong Dara, jangan berusaha menutupi perasaan kamu."


"Maaf, Kak. Tapi Dara harus bekerja. Makasih sekali lagi karena Kakak udah bantuin Dara."


Akhirnya Dara pergi meninggalkan Elang yang terpaku dengan perasaan pilu. Lagi-lagi Dara bersikap dingin padanya. Air mata Dara mengalir, dia begitu sakit mengatakan hal itu pada Elang, padahal perasaannya belum berubah sama sekali. Dara selalu mencintai Elang.

__ADS_1


...__________...


...Cerita Dara melahirkan akan aku ceritakan nanti ya. ...


__ADS_2