Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
58 - Takut : Jangan Coba-coba Memberi Tahu Orang Lain


__ADS_3

Dara terkejut. Kenapa dia mengenal Guntur?


"Maaf kenapa anda mengenal Guntur? Anda siapa, ya?" jawab Dara.


"Ah rupanya benar, Nona mengenal Guntur, kan?"


Dara menggeleng. "Saya tidak mengenalnya, hanya pernah mendengar namanya," tentu saja Dara berbohong. Tapi, dia berpikir untuk apa jujur dengan orang asing, bahkan dia terlihat mencurigakan. Baru datang sudah menanyakan tentang mantan pacarnya tersebut.


"Nona pandai berbohong ya," seringai lelaki itu. Dara makin yakin, bahwa laki-laki itu bukan orang baik-baik.


"Maksud anda apa? Maaf saya harus pergi." Dara beranjak bangun tapi pelayan baru saja datang menaruh secangkir capuccino pesanannya.


"Ini uangnya, ya." Dara menaruh uang untuk membayar secangkir cappucino yang baru datang itu, bahkan belum sempat dia minum.


"Nona. Tetap duduk, atau orang yang Nona sayang akan terluka."


Dara tersentak dengan mata membulat. Apa maksudnya ini? Kenapa dia mengancam ku? Batinnya, kaget.


"Maksud anda apa? Tolong jangan bertindak macam-macam. Saya bahkan tidak mengenal anda!" sentak Dara.


"Nona mantan kekasih Guntur, kan? Saya sudah cari tahu semua tentang Nona. Dan, Nona juga memiliki seorang anak, dia pasti anak Guntur, kan?"


"Apa?" Dara makin ketakutan, bahkan dia tahu tentang kehamilan dan anaknya juga?

__ADS_1


"Hentikan! Anda sebenarnya siapa!" bentak Dara.


"Duduk dan saya akan jelaskan."


Tubuh Dara lemas, tapi apa boleh buat, dia tetap mengikuti kata-kata orang tersebut dan duduk kembali di kursinya.


"Minum dulu kopinya."


"Jangan basa-basi dan langsung saja katakan siapa anda!"


Lelaki itu dengan santai menatap Dara tanpa rasa canggung. "Saya orang yang mengenal Guntur cukup dekat. Tujuan saya hanya ingin mengajak anda bekerja sama. Jika Nona bersedia, maka Nona akan selamat. Tapi, jika tidak, maka Nona harus menanggung kesedihan kehilangan orang yang Nona sayang. Bayi kecil ini misalkan."


Pria itu memberikan selembar kertas pada Dara. Dengan gemetar Dara membalik kertas itu. Betapa terkejutnya ia, saat melihat itu adalah gambar putranya, Alpha.


"Tenanglah, Nona. Ini tempat umum. Kita bisa bicara dari hati ke hati di tempat yang lebih aman, gimana?"


Dara menggeleng. "Saya nggak mau ikuti kemauan kamu!"


"Oh rupanya Nona tidak sayang dengan anak Nona? Apa karena dia anak hasil hubungan..."


"Cukup!" Dara tidak ingin mendengar ucapan lelaki itu lagi.


"Baik, saya akan berhenti berbicara tentang itu. Tapi, ikuti kemauan saya. Kita pergi untuk membicarakan masalah ini. Saya janji, jika Nona mau mengikuti keinginan saya, maka Nona dan anak itu, akan selamat."

__ADS_1


Tubuh Dara masih gemetaran, dia sama sekali tidak tahu apa tujuan orang itu mengancamnya. Kenapa dia sepertinya sangat membenci Guntur? Dara hanya tidak ingin kalau keselamatan Alpha yang jadi ancaman. Dara tidak mau anaknya terluka barang sedikit saja.


"Baiklah, aku akan turuti kemauan kamu, asalkan jangan ganggu apalagi lukai anakku!"


"Ya. Tentu saja, Nona. Sekarang ikuti saya."


Di lain tempat, Elang baru saja sampai di depan kampus Dara. Tapi di sana dia tidak berhasil bertemu dengan Dara.


"Apa dia udah pulang karena nunggu aku yang belum datang ya?"


Saat dia sedang mengedarkan pandangan. Terlihat Dara berjalan mengikuti seorang lelaki di seberang sana. "Itu, kan? Bukannya itu Dara?"


Elang memperhatikan ulang, dan itu memanglah Dara. "Dia kok masuk ke mobil cowok? Tuh cowok siapa lagi?"


Karena merasa curiga, akhirnya Elang mengikuti kemana mobil itu pergi.


"Dara, kok kamu nggak nyalain handphone kamu sih?" Elang terus melakukan panggilan tapi tetap saja nomor telepon Dara tidak aktif. Saat itu Dara juga baru sadar kalau baterai handphonenya habis.


"Astaga, gimana aku bisa minta tolong sama Kak Elang? Pria ini sebenarnya mau bawa aku ke mana sih?" ucap Dara, pelan.


"Jangan coba-coba memberitahu orang lain. Tenanglah, saya hanya ingin membuat kesepakatan dengan Nona saja, kok."


Dara makin takut, dia melihat sorot mata lelaki itu sangat menyeramkan. Dia pasti tidak berniat melepaskan Dara begitu saja. Mungkinkah dia adalah musuh Guntur? Saat Guntur masih hidup, dia pernah bercerita pada Dara, bahwa di sekitarnya banyak musuh yang mengincar dirinya. Rupanya seperti ini? Dara baru mengetahui bahwa musuh Guntur sangat menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2