Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
69 - Kecemasan : Epilog


__ADS_3

Dara seolah tidak bisa berpikir jernih. Masalahnya pesawat yang muncul di berita benar pesawat yang ditumpangi oleh Elang. Dia tidak bisa menghentikan air matanya, berharap Elang tidak disebutkan oleh presenter berita sebagai salah satu korban jatuhnya pesawat itu.


"Neng, nggak ada yang nyebut nama Elang kok."


"Tapi, Mah, itu kan bener pesawat Kak Elang, Mah. Itu pesawat papahnya Al, itu bener sama kayak yang Kak Elang bilang." Dara terbata-bata, dia masih terus menangis di pelukan mamahnya.


"Sayang, berdoa yang terbaik. Semua korban sudah diidentifikasi, dan tidak ada nama Elang," sambung Damian.


Orang tua Elang yang sudah ada di Amerika pun tak kalah panik. Mereka langsung memesan tiket untuk pulang, karena berita yang muncul di televisi. Padahal mereka tadinya menunggu kedatangan Elang di Amerika. Tapi, berita yang membuat kaget itu tak bisa didiamkan. Rania dan Kusuma segera terbang ke Indonesia, tanpa memberitahu Dara terlebih dahulu.


Di saat dia sedang panik, takut, cemas bercampur jadi satu. Suara bel membuatnya kaget. Begitu juga dengan Dara dan Damian yang sama kagetnya.


"Biar Papah yang buka pintunya," kata Damian.


Elis masih sibuk menenangkan Dara, untunglah Baby Al masih tidur dan sangat lelap sehingga Dara tidak makin gelisah.


Damian membuka pintu, dia shock melihat menantunya berdiri di depan nya dalam keadaan sehat walafiat. "Astaghfirullah, Elang!!!"


"Pah? Assalamu'alaikum..." ucap Elang.


Damian sontak langsung memeluk menantunya itu. "Waalaikumsalam, Elang jadi ini benar kamu? Ya Allah, Dara nangis daritadi melihat berita jatuhnya pesawat."


Elang berdecak kaget, dia sendiri tidak melihat berita apapun, ataupun mendengarnya. Sebab ponselnya mati sejak tadi. Elang merasa gelisah, sepanjang perjalanan menuju Bandara. Sehingga dia tidak yakin akan melanjutkan perjalanan. Kebetulan saat sebentar lagi sampai Bandara, teman bisnisnya menelepon dan mengatakan bahwa pertemuan itu bisa di lakukan di Indonesia, tanpa harus Elang pergi ke Amerika.


Detik itu juga tanpa berpikir panjang, tanpa memikirkan tiket yang sudah dipesan dan jadwal pesawat yang sebentar lagi akan berangkat. Elang langsung memutar balik kembali pulang ke rumah. Justru dia merasa tenang dan senang, karena dia tidak perlu berpisah dari istri dan anaknya


...***...


"Emang??" Mata Elis membulat sempurna melihat menantunya berdiri di samping Damian. Dara yang dengan begitu jelas mendengar Elis menyebut nama suaminya itu langsung berbalik, dia juga tak kalah shock.


"Mamah, Dara..." kata Elang dengan senyum lebarnya. "Aku pulang."


Tangis Dara memecah suasana hening seketika. Dia menjerit menghambur memeluk Elang dengan perasaan lega bercampur aduk jadi satu dengan kecemasan yang sudah terkumpul sejak tadi.


"Kamu beneran, Kak? Ini kamu 'kan?"

__ADS_1


"Sayang, kamu kok nangis nya sedih banget? Iya, ini aku. Kamu kenapa? Aku nggak apa-apa, kok."


Dara masih terus memeluk Elang dengan tangisnya yang kuat. "Kamu beneran pulang, kamu jangan pergi lagi, Kak. Aku mohon, jangan pergi ke manapun. Di sini aja, aku nggak izinin kamu pergi."


Elang mengelus rambut Dara dengan lembut. Dia juga merengkuh tubuh Dara yang gemetar agar lebih tenang di peluknya. Damian dan Elis memilih meninggalkan Dara dan Elang berdua di ruang tengah, mereka memilih kembali ke kamar. Sebelum itu, Damian menepuk bahu Elang, dengan senyum ringan.


"Papah Mamah ke kamar dulu, yang terpenting kamu selamat dan udah kembali. Maklumi Dara, dia lagi hamil, ya." Damian berujar santai.


"Sayang, Neng geulis jangan nangis ya. Udah atuh, Elang kan udah pulang. Ni kasian bayi di dalem perut eneng. Jangan keterusan nangis," kata Elis mengingatkan putrinya.


Dara makin melesakkan wajahnya ke pelukan Elang, dia amat ketakutan setengah mati, bagaimana bisa dia tidak menangis. Elis dan Damian pun meninggalkan Elang dan Dara yang masih saling memeluk.


"Sayang, aku nggak apa-apa. Udah, ya, kamu jangan nangis. Bener ih kata Mamah, kasian bayi kita. Dedek pasti bingung, kamu kenapa gitu. mamahnya kok nangis begitu ih."


Dara menggeleng seperti anak kecil. Dia malah makin memeluk suaminya erat. Elang terkekeh pelan, dia lalu menggendong Dara, dia tahu istrinya itu lemas karena saking cemasnya dengan keadaan dirinya.


"Kak, kok aku di gendong?"


Dara mendongak, dia menatap Elang dengan bibir terkatup dan bergetar. "Aku bisa jalan sendiri."


"Tapi Al bobo, kalau denger aku nangis, dia bisa bangun," sahut Dara.


"Makanya sayang, kamu jangan nangis, oke?"


Dara mengangguk. "Iya. Aku seneng kamu ada di sini."


Elang berhenti tepat di depan pintu kamar mereka, lalu Dara membuka pintunya tanpa diminta.


Dara tak lepas memandangi wajah suaminya, untuk beberapa waktu sebelumnya dia merasa amat takut akan kehilangan sosok pria yang sedang tersenyum ke arahnya sekarang. Dia takut dan bisa gila kalau sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya.


Elang membaringkan tubuh Dara ke tempat tidur. Lalu dia membuka jaketnya, tak lupa pergi ke wastafel untuk mencuci tangan, setelah itu melihat putranya yang sudah terlelap. "Al pules banget, sayang."


"Dia terus tidur, padahal aku ketakutan sepanjang waktu. Mungkin karena dia tahu kamu baik-baik saja," kata Dara.


Elang lalu berbaring di samping Dara, menatap mata yang basah di depannya. "Kamu secemas itu aku nggak pulang, sayang?"

__ADS_1


"Kamu pikir aku nggak takut setengah mati, hah!" bentak Dara. Baru kali ini, Elang melihat Dara dengan raut emosional memakainya. Tapi Elang malah menahan tawa, merasa lucu dan gemas melihat istrinya.


"Aku seneng kamu pengin aku cepet pulang. Aku juga ragu mau berangkat, dan Tuhan malah buat aku pulang lagi ke rumah karena orang kantor bilang semuanya sudah ada yang menangani dan aku nggak perlu ke Amerika."


"Beneran, Kak?" tanya Dara.


"Iya sayang. Karena itu aku ada di hadapan kamu sekarang. Aku juga baru tahu, ada kecelakaan pesawat. Kalau bukan karena takdir Tuhan, dan juga perlindungannya, mungkin aku..."


Dara menutup mulut Elang dengan telunjuknya. "Jangan bilang gitu."


Elang tersenyum. "Aku sayang kamu, Dara. Di dalam pikiranku cuma kamu, Al, yang terus memenuhinya. Juga baby kecil di dalam sini, aku nggak tega ninggalin kalian jauh. Aku mau terus sama kalian."


Dara kembali meneteskan bulir bening dari ujung matanya. Bulir bening yang menggenang sejak tadi dan akhirnya tumpah juga.


"Aku juga sayang kamu, nggak mau kehilangan kamu."


Elang mengelus pipi Dara, mengecup keningnya dengan perlahan. Kemudian menatap mata Dara, memberikan pagutan mesra di bibir Dara.


"Kamu mengubah semuanya jadi lebih indah. Segala sesuatunya di penuhi kerinduan untuk terus pulang. Kamu mantan istri terbaikku, Adara Virginia. Sekarang, kamu akan menjadi istriku selamanya."


Dara sesenggukan sambil menggenggam erat telapak tangan suaminya. "Kamu mantan suami terbaik aku, dan sekarang akan menjadi suami terbaikku, selamanya."


"A good husband is never the first to go to sleep at night or the last to awake in the morning." — Honore de Balzac


(Suami yang baik tidak pernah menjadi yang pertama tidur di malam hari atau yang terakhir bangun di pagi hari.)


...SELESAI...


Terima kasih untuk pembaca, semoga hari kalian menyenangkan. Maaf atas kekurangan aku, dan juga mohon dimaklumi atas segala kekeliruan.


Info tentang karya aku yang terbaru, silakan follow instagram aku ya. @cherry.apink ^^


^^^See you ^^^


^^^Apple Cherry ~ ^^^

__ADS_1


__ADS_2