
...Beberapa orang akan pergi dari hidupmu. Saat perpisahan itu terjadi, hanya ada kesedihan dan rasa sakit ketika ditinggalkan. Itu juga yang kini dirasakan Dara. Kebersamaan dia bersama dengan Guntur. Lelaki yang telah mengisi hatinya selama dua tahun belakangan harus berakhir karena perpisahan untuk selamanya....
...***...
"Kak Guntur..." Seolah tidak percaya bahwa jasad yang terbujur di depannya sekarang adalah lelaki yang sangat dia cintai.
Dara bukan hanya menangis. Dia bahkan pingsan berulang kali karena tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa Guntur telah pergi untuk selamanya.
"Kenapa Kakak pergi. Terus setelah ini Dara sama siapa, anak ini..." dengan napas tersengal-sengal. Air matanya mungkin saja telah kering dengan mata yang bengkak dan memerah. "Anak kita..." lirihnya sambil terhenyak.
Telapak tangan hangat menempel di bahunya. Seketika menyentak Dara dan ia langsung menoleh ke belakang.
"Masih ada aku, Abang nitipin kamu ke aku, kan."
Elang, dia adalah orang yang paling perhatian kepada Dara selama Guntur koma. Tapi sekarang Guntur sudah tidak ada, lalu apakah Elang akan menceraikan dia? Pikiran Dara belum sepenuhnya berjalan normal, dia masih berada di dalam kekalutan.
"Aku mau sendiri, Kak." Dara menyisakan setetes bulir bening yang akhirnya mengalir setelah tatapan kosong yang dia tunjukkan sejak Guntur dinyatakan telah meninggal dunia.
Elang begitu sesak. Entah kenapa dia merasakan kepedihan yang berlipat. Tentu dia sedih karena kehilangan saudara kandungnya yaitu Guntur. Tapi, kesedihan makin dalam kala dia melihat Dara begitu pedih meratapi kepergian abangnya itu. Perlahan Elang menyingkirkan telapak tangannya dari bahu Dara, lalu ia mengikuti apa yang di inginkan Dara.
"Kalau gitu aku akan biarkan kamu sendiri. Tapi, jangan sedih Dara. Kasihan bayi kamu," ucapnya.
Dara tidak menjawab.
Sudah habis air matanya yang berhasil membuat matanya bengkak. Di hadapannya masih terbujur jasad Guntur sebelum kekasihnya itu di makamkan.
"Kak. Aku minta maaf karena nggak ada di samping Kakak. Aku janji akan jaga bayi kita. Aku nggak akan biarkan siapapun ngambil dia dariku, kak."
Kepergian Guntur membuat Dara sadar bahwa bayi di dalam kandungannya tidak bersalah. Guntur, walau telah menghamilinya diluar keinginan dia. Tetap saja, itu adalah darah dagingnya. Semula, ia tak peduli jika keluarga Kusuma mengambil bayinya sekali pun. Tapi sekarang Dara mulai menyayangi bayi itu.
"Maafin Mama ya, sayang..." diusapnya perut yang mulai membuncit. "Mama nggak pernah anggep kamu ada selama ini. Mama salah, mama janji mulai sekarang kamu akan jadi kesayangan mama.."
Dikecupnya kening Guntur tanpa air mata. Itu adalah ciuman terakhir yang dia berikan untuk kekasihnya.
"Semoga kamu tenang di sana, Kak ... Love you," ucapnya lirih.
Setibanya mereka di Indonesia. Dara yang berusaha mengikhlaskan kepergian Guntur berubah menjadi sangat pendiam. Elang selalu berusaha untuk menghibur Dara. Tapi entahlah, Dara banyak berubah, sekarang dia hanya lebih sering menyendiri meski tetap rutin melakukan pemeriksaan kandungan dan juga meminum vitamin. Dara seolah menghindari Elang.
Hingga untuk pertama kalinya, hari itu mertuanya mengajak dia berbicara serius berdua. Dia adalah Rania.
"Dara. Setelah kepergian Guntur, apa rencana kamu?" tanya Rania. Keduanya sedang duduk di ruang tengah. Rania meminta waktu untuk bicara berdua dengan menantunya itu.
__ADS_1
"Dara tidak ada rencana, Nyonya."
Rania mengerutkan kening sambil menyentuh bibir cangkir teh di depannya.
"Anak di dalam kandungan kamu tetap cucu keluarga Kusuma. Setelah melahirkan kalau kamu mau bebas, kamu bisa, Dara."
Saat itu Dara terlihat menghela napas berat. Sedetik setelahnya dia memberanikan diri mengangkat wajahnya lalu menatap Rania dengan tubuh tegap.
"Saya ingin merawat bayi saya, Nyonya."
Rania menghentikan telunjuknya yang tadi masih mengusap bibir cangkir di hadapannya. Tatapannya fokus pada Dara dengan lengkungan kecil di bibirnya.
"Kamu berubah pikiran? Bukannya semula kamu bilang kamu tidak masalah jika bayi itu akan menjadi hak keluarga sepenuhnya?"
"Tapi dia anak kandung saya, Nyonya. Waktu itu mungkin saya terlalu depresi. Sehingga saya mengatakannya tanpa berpikir logis. Bayi ini tetap darah daging saya. Maka saya tidak ingin dipisahkan, saya akan merawatnya dengan kasih sayang seperti amanat kak Guntur."
Rania mengangguk. Meski dia tidak terlalu menyukai Dara. Tapi, sikap Dara adalah hal serupa yang akan dilakukannya jika dia berada di posisi Dara, pikirnya.
"Lalu, apa kamu tidak ada niat untuk melanjutkan kuliah? Rencana untuk dirimu sendiri, apakah ada?" tanya Rania lagi.
Dara menggeleng. "Saya ingin bekerja."
Pertanyaan Rania membuat Dara terhenyak.
Rania tersenyum miring. "Dara. Mengurus bayi membutuhkan kesiapan mental. Kamu masih terlalu muda, jangan berpikiran sempit dengan mengambil tanggung jawab yang belum tentu kamu sanggup memikulnya."
"Saya sanggup Nyonya. Lagi pula orang tua saya masih ada. Mereka akan senang hati membantu saya mengurus bayi saya. Sementara jika saya sudah mendapatkan pekerjaan. Intinya saya ingin membesarkan anak ini dengan tangan saya, Nyonya. Harap keluarga Kusuma mau mengerti," tegas Dara.
Rania tidak menduga jika Dara akan berkata sebijak itu. Usianya masih sangat muda, belum genap delapan belas tahun. Pernikahan Dara dan Elang saja sengaja tidak di biarkan menyebar terlalu jauh karena jarak usia Dara dan Elang yang berjauhan.
"Kamu yakin Dara? Lalu kamu sudah siap bercerai dengan Elang?"
Jantung Dara berdegup kencang saat mendengar pertanyaan itu. Tapi, dia harus siap meskipun ada rasa berat yang menghinggapinya. Dia sudah antisipasi dengan mencoba menjaga jarak dengan Elang. Dara, yang selalu salah paham dengan semua kebaikan Elang, hanya tidak mau kalau sampai perasaan itu makin berkembang.
"Saya tetap harus siap kan, Nyonya."
Rania mengangguk. "Baiklah, Dara. Kamu jaga kandungan kamu. Saya hanya ingin membicarakan itu."
"Ya. Terima kasih, Nyonya. Saya permisi ke kamar," ucap Dara.
Pedih yang dirasakan Dara. Di usianya yang masih sangat muda dia harus menanggung semua ini. Saat teman sebayanya sedang sibuk membangun masa depan mereka. Dara, malah harus menghadapi masalah yang luar biasa rumit baginya, juga sangat menyedihkan jika terus dia ratapi. Dara juga memiliki cita-cita. Sebagai gadis yang pintar, dia tentu ingin membuat bangga orang tuanya.
__ADS_1
Namun ini semua karena siapa? Dara tidak tahu harus menyalahkan siapa.
Salah Guntur? Ya, memang ini kesalahan Guntur yang mabuk dan akhirnya membuat Dara hamil. Tapi, semuanya sudah terjadi. Dara tidak memiliki pilihan lain selain menerima semua ketetapan Tuhan yang dia anggap sebagai takdir hidupnya.
Elang? Memikirkan lelaki yang sungguh baik itu membuat hati Dara teriris. Faktanya, dia akan berpisah dengan suami formalitasnya itu. Juga suami yang sangat baik kepadanya, sebagai sosok suami-able bagi Dara.
Dara sempat berpikir ingin dicintai oleh Elang. Terakhir kali keduanya berbincang dengan santai sesaat sebelum Guntur meninggal dunia. Tak pernah bisa dia lupakan, saat itulah pertama kali Elang menciumnya.
Ketika dia hendak membaringkan tubuhnya. Suara ketukan pintu membuat ia urung berbaring dan kembali duduk.
"Siapa ya? Apa itu Kak Elang?" gumamnya.
"Dara, ini aku Elang."
Dara terkejut karena itu memang Elang. Apa yang harus dia lakukan? Dia sendiri sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga jarak dengan Elang.
"Dara. Kita harus bicara, aku mohon." Kali ini Dara tidak dapat mengabaikan ketukan pintu Elang begitu saja. Siapa dia? Kenapa dia jadi begitu berani mengabaikan orang yang telah berlaku sangat baik padanya seperti Elang.
"Iya, Kak. Tunggu sebentar," kata Dara.
"Kamu harus dapat mengendalikan dirimu, Dara."
Pintu pun telah dibuka oleh Dara. Saat itu matanya langsung bersitatap dengan kedua mata Elang yang menelisik pandangannya.
"Kak, ada apa?"
"Kita sebaiknya pindah dari rumah ini."
"Apa?"
"Iya. Aku tahu kalau Mama mengajak kamu berbicara tadi. Rasanya itu tidak baik untuk kandungan kamu. Berada di tempat yang penuh dengan kenangan ini. Kamu juga akan merasa tertekan dengan keberadaan orang tuaku yang sedang ada di rumah ini. Kamu mau kan pindah bersama ku?"
"Kak... Bukankah ini perjanjian kita sebelum menikah. Aku tinggal di sini bersama keluarga Kusuma sampai bayiku lahir?"
"Ya. Itu sebelum semuanya berubah seperti sekarang. Dara, kita harus bicara dari hati ke hati."
Elang menyentuh telapak tangan Dara. Sentuhan itu amat hangat, hingga membuat Dara berdebar untuk kesekian kalinya. "Apa yang mau Kakak bicarakan?"
"Ini tentang perjanjian awal kita menikah. Sepertinya ada yang harus di ubah."
Dara terdiam. Dia juga tidak tahu apa maksud ucapan Elang. Di ubah? Di ubah bagaimana?
__ADS_1